Bertambahnya populasi manusia akan berpengaruh pada aktivitas konsumsi. Berbagai perlengkapan kebutuhan hidup akan diproduksi untuk tujuan pemenuhan kebutuhan manusia, tidak terkecuali kertas.

Kertas telah menjadi kebutuhan utama bagi manusia, baik untuk pengarsipan, penyampaian informasi, ataupun sebagai alat pembersih.

Meningkatnya konsumsi terhadap kertas otomatis berdampak pada konsumsi kayu. Karena 90 persen bahan utama pembuatan kertas selama ini adalah kayu. 

Bahkan, menurut Rosmainar (2017), konsumsi kertas di dunia saat ini telah mencapai 394 ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 ton pada 2020. Dengan demikian, konsumsi kertas yang berlebihan dan terus-menerus akan membahayakan populasi pohon yang ada di hutan, khususnya Indonesia.

Sebagai salah satu paru-paru dunia, Indonesia memiliki varietas pohon yang beragam. Sumber daya alam inilah yang membuat indutri kayu dan kertas sangat hidup di Indonesia. Akan tetapi, kesadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan telah membuat berbagai pihak untuk membatasi konsumsi terhadap kayu.

Pada era disruption, peningkatan penggunaan teknologi digital telah menjadi solusi yang baik untuk menghemat penggunaan kertas. Untuk kegiatan menulis, membaca, pengiriman pesan, dan pengarsipan mulai dapat dialihkan pada media digital.

Namun demikian, upaya penghematan penggunaan kertas tidak hanya tergantung pada media digital. Karena berdasarkan hasil proyeksi penduduk dunia, diperkirakan akan berjumlah 9 miliar pada 2050, dan hampir 60 - 70 persennya berada di wilayah Asia yang diprediksi masih menggunakan kertas untuk berbagai keperluan.

Oleh karena itu, berbagai pihak yang terkait juga harus mencari alternatif bahan baku pembuatan kertas non-kayu. Karena, walau bagaimanapun, kertas tetap akan diperlukan oleh manusia.

Sebuah studi tentang analisis bahan-bahan alternatif pengolahan dalam pembuatan kertas yang dipublikasikan pada jurnal Inkofar Desember 2017 menemukan beberapa bahan baku alternatif pembuatan kertas, di antaranya:

Tebu dan Sampah Kertas

Tekstur yang keras, kasar, rapuh, ikatan partikel yang padu, dan penampakan serat yang timbul di permukaan kertas merupakan hasil perpaduan antara tebu dan sampah kertas. Berdasarkan hasil studi ini, hasil perpaduan antara tebu dan sampah kertas sangat cocok untuk dijadikan kertas seni.

Batang Pisang

Siapa sangka, ternyata pulp batang pisang memiliki potensi untuk digunakan sebagai pulp kertas skala industri kimia. Karena pulp yang dihasilkan oleh batang pisang lebih baik dari range perolehan pulp industri pulp kimia yang berkisar antara 35 - 63 persen.

Dengan demikian, pulp batang pisang telah termasuk dalam standar kualitas pulp kertas yang mumpuni untuk pulp kertas skala industri.

Kulit Jagung, Tongkol Jagung, dan Daun Jati

Sama halnya dengan tebu dan sampah kertas, perpaduan antara kulit jagung, tongkol jagung, dan daun jati juga mampu menghasilkan kertas seni.

Untuk proses pembuatannya, disarankan menggunakan bahan baku kulit jagung yang sudah dalam keadaan kering. Sedangkan untuk tongkol jagung dapat menggunakan yang muda ataupun yang tua.

Perbedaan tingkat kekerasan antara tongkol jagung dan kulit jagung mengharuskan proses pemasakan menggunakan waktu yang berbeda. Proses penggilingannya (blender) pun disarankan dilakukan sedikit demi sedikit supaya pulp yang dihasilkan lebih halus.

Begitu pun pada proses pencetakan, penjemuran, dan perwarnaan. Semua harus dilakukan dengan hati-hati agar kualitas kertas seni yang dihasilkan lebih baik.

Jerami

Tekstur dan serat yang unik pada jerami padi menjadi salah satu faktor yang membuatnya dapat dijadikan bahan baku alternatif untuk membuat kertas. Kertas seni yang dihasilkan jerami padi dapat dibuat dalam bentuk kotak tisu, kotak pensil, dan bingkai foto.

Tingkat kualitas kertas seni yang dihasilkan tergantung pada pembuatnya. Ketelitian dan detail dalam proses pembuatannya akan memengaruhi tekstur, warna, dan corak visualnya.

Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Selulosa Mikrobial Nata de Cassava

Perpaduan pulp Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan pulp Selulosa Mikrobial mampu menghasilkan kertas dengan daya serap air rendah. Hasil ini diasumsikan mampu mengantikan pulp kayu, sehingga nantinya kertas yang dihasilkan dari perpaduan antara TKKS dan pulp selulosa mikrobial juga dapat digunakan sebagai kertas tulis, kertas gambar, kertas kalkir, dan kertas keemasan.

Demikianlah beberapa alternatif bahan baku pembuatan kertas yang dapat dipertimbangan dalam industri kertas. Selayaknya sebuah peradaban, kertas juga perlu diteliti dan dikembangkan. 

Makin banyak penelitian yang dilakukan terkait bahan baku pembuatan kertas, maka akan makin banyak alternatif bahan baku yang dapat digunakan. Tujuannya tak lain adalah untuk keseimbangan. 

Bahan baku alternatif akan membantu menjaga keseimbangan ekosistem hutan yang ada di Indonesia tanpa mengurangi kemampuan produksi kertas. Bahan baku alternatif juga dapat menjadi solusi meningkatnya jumlah populasi manusia yang diprediksi akan meningkatkan konsumsi terhadap kertas dan kayu.

Artinya, dalam menyikapi keberlangungan industri kertas, diperlukan inovasi dari tahap bahan baku dan juga perkembangan pengelolaan kertas. Salah satu kuncinya dengan giat melakukan penelitian dan percobaan. 

Penelitian adalah kunci gerbang untuk membuka peradaban yang baru. Inovasi akan dihasilkan jika pihak-pihak terkait beserta elemen masyarakat mau bekerja sama untuk melakukan riset inovatif dalam bidang pengelolaan kertas.

Selayaknya proses evolusi kertas yang dahulunya dimulai dari batu, kulit hewan, pelepah pohon kurma, dan lain sebagainya. Maka sejatinya proses ini tidak akan pernah berhenti karena kehidupan selalu bergerak dinamis sesuai zamannya.

Jika saat ini revolusi 4.0 telah merajai dunia dan teknologi digital telah menjadi budaya baru dalam kegiatan yang dahulunya menggunakan kertas, maka demikian pulalah kiranya dengan bahan baku kertas.

Kita berharap kertas akan selalu ada, namun dengan inovasi bahan baku yang berbeda. Yang akan membuat sebuah peradaban baru dalam pengelolaan kertas.

Manusia memang butuh teknologi untuk kecepatan akses, tapi manusia juga butuh bukti fisik untuk sebuah kenangan. Kenangan yang dapat disentuh dan dipajang pada rak-rak buku perpustakaan pribadi.