1 bulan lalu · 1222 view · 3 min baca menit baca · Politik 73080_52050.jpg
Sumber : medcom.id

Bahagianya Menjadi Pendukung Jokowi

Jika dilihat belakangan ini, pendukung Jokowi tampak bahagia. Selain pada akhirnya hasil rekapitulasi KPU mengumumkan kemenangannya dalam pemilu 2019, ada banyak momentum yang membuat para pendukungnya makin merasa bahagia.

Pemilu 2019 memang sangat panas, dan nyaris memecah belah bangsa Indonesia. Namun harus diakui bahwa ada satu kebahagiaan partisipatoris yang mungkin tidak ditemui pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Rasa bahagia memberikan dukungan, sekaligus suatu kebanggaan bisa menjadi bagian dari proses demokrasi di Indonesia. Wabilkhusus para pendukung Jokowi yang sangat bahagia, di samping banyak juga yang sangat antipati pada Jokowi.

Pendukung Jokowi lebih bersikap selow pasca digelarnya pemilu pada 17 April 2019 lalu. Hasil quick count memenangkan jagoannya itu. Kepercayaan pada hasil quick count itu didasarkan pada pilpres 2014 silam, yang sekilas tampak sama alurnya.

Meski suara penolakan atas hasil pemilu 2019 begitu kencang, bahkan sampai muncul aksi 22 Juni, namun pendukung Jokowi lebih bersifat defensif, dan bahkan mereka lebih sering memunculkan sisi nasionalismenya, seperti ajakan untuk berdamai, percaya pada kerja penyelenggara pemilu, hingga ajakan untuk menjalin persatuan.

Sekalipun mereka pendukung setia Jokowi, namun yang dimunculkan adalah narasi kebangsaan, bukan primordialisme golongan. Banyak yang menganggap hal itu wajar, sebab jagoannya sementara diunggulkan sebagai pemenang, sebelum keluar keputusan MK. Jika pihak Jokowi yang kalah pemilu, mungkin tidak demikian.

Kebahagiaan lain juga muncul dari sosok Jokowi pribadi, juga pada keluarganya. Bagaimanapun, selain sebagai Presiden, Jokowi juga seorang bapak dan kakek. Sikap anak-anak Jokowi kerap membuat pendukungnya haru dan bangga.


Misalnya, ketika anak-anaknya berharap agar siapa pun yang membenci bapaknya dimaafkan, bahkan sekalipun ada yang membenci dengan bahasa kasar seperti ingin memenggal leher dan sebagainya.

Sikap ini sangat mengharukan. Sikap lapang yang dipertontonkan di hadapan publik dan bisa menjadi teladan. Tak menyangka saja, dari anak-anaknya yang tampak kurang lihai beretorika itu muncul kebesaran hati yang luar biasa.

Belum lagi, perbincangan santai tentang cucu Jokowi yang lucu dan menggemaskan. Seolah meregangkan saraf otot yang kaku karena bersitegang dengan realitas politik yang kompleks.

Inilah yang membuat pendukung Jokowi makin merasa bangga dan bahagia, terenyuh dan haru.

Momentum lainnya, seperti hubungannya dengan para elite, termasuk dengan para mantan presiden yang sangat harmonis. Seperti kedekatannya dengan SBY, yang meski bukan rekan koalisinya. Perhatian Jokowi pada kesehatan Alm. Ibu Ani selama sakit juga menunjukkan betapa besar jiwanya.

Hal inilah yang membuat pendukungnya makin berdecak kagum, bangga sekaligus bahagia tak terperi. Sepertinya, dukungan mereka tidak salah. Tokoh yang mereka perjuangkan memang tidak sempurna, namun sangat patut diberi kesempatan.


Hujatan demi hujatan pada Jokowi pun juga tak surut. Soal investasi misalnya, soal jalan tol, pelabuhan, bandara, dan infrastruktur lainnya. Jokowi disebut presidennya investor, karena terus menggalang investasi.

Namun pendukungnya toh tidak hilang kebanggaan, terutama pada saat mudik seperti ini, ketika kemacetan tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Di tengah hujatan atas maraknya pembangunan infrastruktur, ada saja sisi yang membuat pendukung Jokowi bahagia.

Dengan kebahagiaan itu, barangkali membuat mereka tak terlalu terbebani dengan harga sembako yang naik, tiket pesawat yang melangit, atau harga tol yang mahal. Kebahagiaan membuat mereka lebih santai.

Berbeda dengan yang bukan pendukung, yang selalu punya peluru kritik. Selalu saja ada sisi yang bisa diserang, dan dimunculkan sebagai sebuah bukti kegagalan Jokowi. Bahkan kritik dan sebagian hujatan itu juga tak surut. Makin deras dan makin kencang.

Barangkali perlu instrumen lebih dalam untuk melihat kondisi negara. Bahwa nyatanya, ada banyak orang yang hidup bahagia hanya dengan menjadi pendukung salah satu capres atau tokoh politik.

Seperti pendukung Jokowi akhir-akhir ini, yang terlihat sangat bahagia. Kontras dengan yang tidak mendukung Jokowi, atau malah yang antipati pada Jokowi. Nyaris kalimat yang dimunculkan selalu penuh ketegangan, seolah keadaan sudah kacau dan nyaris kiamat.

Namun keadaan ini sebenarnya sangat berimbang. Jokowi sebagai presiden harus tetap punya pendukung yang solid, agar legitimasinya sebagai kepala negara tetap kuat. Namun ia juga perlu kritik sebagai koreksi, dan mungkin juga perlu kelompok yang tidak menyukainya, agar Jokowi tetap awas dan hati-hati.

Bahwa yang mendukungnya memang banyak, namun yang membencinya juga tak sedikit. Begitu pun pihak yang mengkritik. Ketiganya membentuk sikap Jokowi yang selalu mawas diri.

Meski sepertinya tampak lebih enak sebagai pendukungnya, yang selalu bahagia, yang selow, yang santai. Tidak teriak-teriak, marah-marah, tidak bersitegang.

Selain itu, tidak juga terlalu peduli dengan isu ekonomi, penegakan hukum, pekerja asing, PKI, yang selama ini menyerang Jokowi.

Mungkin ada juga pendukungnya yang suka marah-marah, teriak-teriak, emosional, sikat sana sikat sini. Mungkin itu tipe pendukung yang kurang bahagia.

Artikel Terkait