Setiap orang, dalam kehidupannya hampir selalu mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi kebahagiaan memiliki pengertian dan makna yang berbeda. Intinya belum ada tafsir tunggal kebahagiaan. Ada sebagian dari kita menyebut bahwa kebahagiaan sebagai perasaan  gembira, tenang, tentram, penuh dengan rasa damai dan keadaan yang nyaman terhadap suatu hal serta tidak ada orang yang dapat "mengganggu" perasaan tersebut. Sebagian lagi mnyebut jika kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan rangkaian proses menuju yang perlu dinikmati setiap dinamikanya. 

Kehidupan telah mengajarkan kepada saya untuk bertemu dengan banyak orang. Ada satu pertanyaan yang pernah saya ajukan kepada beberapa orang dengan pertanyaan sama: "apakah kamu bahagia?" Ada yang dapat menjawab langsung ada juga juga perlu waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut saya, setiap orang pernah merasakan kebahagiaan. Namun di sisi lain saya tidak pernah tahu secara pasti apa sebenarnya makna bahagia. Pertanyaan Apakah kamu bahagia, bagi saya merupakan pertanyaan filosofis yang terkadang tidak memerlukan jawaban langsung sebagaimana pertanyaan 1+1 yang setiap orang mampu menjawabnya secara cepat. 

Ada tipe orang yang merasa sudah bahagia ketika bisa pergi berlibur bersama orang terdekatnya setiap akhir pekan. Ada juga orang yang sudah merasa bahagia jika menyantap makanan sederhana di warung pinggir jalan. Ada yang sudah merasa bahagia dengan cukup berenang di sungai.Namun ketika bisa tidur pun merasa bahagia. 

Di kalangan tertentu, ada yang sudah merasa bahagia meskipun hanya membaca postingan motivasi kehidupan di lini masa fesbuk. Ada juga orang yang sudah merasa bahagia dengan berkumpul dengan keluarga. Lalu, ada juga orang yang sudah merasa bahagia jika suami dan atau istrinya setia. Artinya, bahagia yang saya rasakan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran baku untuk menilai kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. 

Menurut saya bahagia itu sifatnya subyektif atau bahkan unik. Keunikannya terletak pada ketiadaan standar bakunya, tidak ada ukuran yang sama bagi setiap orang. Selain itu kebahagiaan seperti barang " mewah " yang diidamkan banyak orang. Padahal, setiap detik kita bisa merasa bahagia dengan keadaan apapun. Tidak mesti orang yang tertawa paling nyaring dijamin bahagia. Atau begini, juga tidak bisa di ukur dari kerasnya tangisan seseorang.

Jadi sangat mungkin yang namanya kebahagiaan tidak memerlukan ruang, tempat dan ukuran. Artinya, berdiri sendiri tanpa harus ada peristiwa yang mengikutinya. Terkadang saya merasa heran, jika ada orang yang bersedia membayar ratusan ribu mengikuti pelatihan/konferensi hanya karena ingin tahu bagaimana caranya memperoleh kebahagiaan.

Menurut saya, cara-cara bahagia dapat ditunjukkan jalannya oleh orang lain, bahkan termasuk polanya. Namun, bukankah diri kita sendirilah yang dapat menemu kenali kebahagiaan tersebut? Kebahagiaan bisa jadi tidak dapat di setir atau kendalikan oleh orang lain. Kebahagiaan juga tidak butuh pengakuan dari orang lain. Kebahagiaan tidak dapat ditentukan dari piknik tipis-tipis atau tebal-tebal.

Belasan tahun yang lalu, saya pernah dinasehati oleh seseorang yang kebetulan om saya sendiri, Dwi Cahyono. Suatu hari bertemu dan mengungkapkan satu hal bahwa kita perlu belajar mensyukuri (berterima kasih) terhadap apa yang ada saat ini daripada menghayal dan berangan-angan. Saya pikir benar juga. Jika saya menunggu untuk bersyukur, lalu kapan? 

Meskipun saya memajang dan membagikan foto-foto keren edisi liburan, hangout, dan jalan-jalan, belum tentu bisa disebut bahagia. Atau begini, meskipun saya hanya makan nasi hangat dicampur  garam atau sambal tidaklah otomatis membuat  saya dianggap sebagai manusia paling menderita, atau pasti sengsara.

Memang ada saatnya, ketika saya melihat orang lain tampak senang terkadang saya juga merasa ingin memiliki kesenangan mereka. Tanpa kita sadari seberapa kuat dan tangguhnya mereka dalam memperoleh kesenangan tersebut. Hal ini masih dalam taraf kewajaran. 

Bahagia adalah tentang apa yang  saya dirasakan, yang akan datang  dari dalam lubuk hati paling dalam. Bukan apa yang saya tampakkan. Di satu sisi kita dapat melihat orang lain tampak bahagia namun kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan orang lain.

Diantara kita, bisa jadi ada jenis orang yang dapat mendefinisikan arti kebahagiaan. Namun, kita perlu mengingat satu hal bahwa apapun ceritanya kebahagiaan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tidak seberapa mahal apa yang saya gunakan. Bukan juga seberapa sering kita berlibur, namun seberapa kuat kita mampu berdamai dengan perasaan diri kita sendiri. Biasanya, jika kita mau dan mampu menghayati proses ini akan ada kepuasan batin.

Jadi, menurut saya rasa bahagia bisa datang dari diri kita sendiri. Jika kita menginginkan rasa tersebut, ciptakanlah kebahagiaan tersebut. Karena, rasa bahagia juga berkaitan erat dengan kualitas penerimaan dan rasa syukur tidak terbatas. Rasa syukur itulah kebahagiaan. Wallahu a'lam.