Kehidupan yang bahagia adalah dambaan dan harapan setiap orang, namun pertanyaannya adalah apakah hidup yang bahagia itu? Tentu masing-masing orang mempunyai persepsi tentang kebahagiaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. 

Seseorang yang miskin memandang kebahagiaan itu ketika memiliki kekayaan yang cukup. Karena dengan kekayaan yang cukup segala kebutuhan akan dapat terpenuhi. Kekayaan yang cukup menjamin anak-anak bisa mendapatkan pendidikan di sekolah yang ternama. Orang yang kaya dihormati banyak orang, mudah dimaafkan bila melakukan kesalahan.

Namun untuk seseorang yang  sedang sakit kebahagiaan itu adalah ketika ia bisa sembuh dari penyakitnya. Berbeda lagi dengan seorang youtuber kebahagiaannya adalah jika kontennya ditonton oleh banyak orang. 

Seseorang yang belum menikah memandang kebahagiaan itu ketika bisa mempersunting kekasih hati. Seseorang  yang sudah menikah kebahagiaan itu ketika memiliki anak yang soleh dan soleha.

Sehingga apabila diperhatikan, kebahagiaan itu bergantung pada masing-masing orang dengan berbagai latar belakang yang mendasari pandangannya. Seperti rasa kecewa, penderitaan hidup yang dijalani bahkan harapan atau angan-angan.

Kita tentu tidak ingin bersandar pada persepsi atau pandangan yang lahir dari perasaan kecewa, penderitaan atau bahkan angan-angan yang kosong. Kita ingin merujuk pada pandangan seseorang yang tinggi akal budinya dan bersih jiwanya. Pandangan yang jauh dari hawa nafsu serta syahwat. 

Maka pantaslah jika Nabi Muhammmad dalam hal ini kita jadikan sebagai rujukan untuk kita mengambil pendapat terkait bahagia yang kita maksud ini.

Siti Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. "Apakah kelebihan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya?" Beliau menjawab "akalnya", kata  Aisyah selanjutnya " bagaimana di akhirat? Beliau juga menjawab "akalnya". 

Kemudian dengan rasa penasaran Siti Aisyah berkata "bukankah kelebihan manusia dengan manusia lainnya adalah pahala dari sebab amal ibadahnya?" Rasulullah kemudian menjawab " wahai Aisyah, bukankah amal ibadah yang dikerjakan setiap orang adalah berdasarkan tinggi rendah derajat akalnya? Seberapa tinggi derajat akalnya, seperti itulah ibadah yang mereka kerjakan dan seperti itu pula pahala yang diberikan kepada mereka"(Hamka, 2017).

Jika kita renungkan dengan lebih mendalam hadis di atas, sesungguhnya sangat logis bila dikatakan bahwa kebahagiaan manusia itu bergantung pada tinggi rendah derajat akalnya. Penghargaan atas sesuatu akan ditentukan oleh bagaimana akal kita memahami  tentang sesuatu itu. 

Apabila dalam pemahaman seseorang kekayaan harta adalah kebahagiaan, maka tentu segala daya upaya dikerahkan untuk mendapatkannya. Tak peduli hujan atau panas, siang atau malam, pergi pagi pulang pagi.  Apabila kehormatan dan kemuliaan dipahami akalnya sebagai kebahagiaan maka itu  juga yang akan dikejar. 

Namun sebagian orang dengan akalnya juga memandang bahwa kebahagiaan adalah ketika hati merasakan ketentraman dengan berkhalwat mengingat Tuhan. Kebahagiaan tidak ia sandarkan pada sesuatu yang sifatnya sementara. Kekayaan yang dituju adalah kekayaan hati dan jiwa serta  kemuliaan yang lebih kekal dari harta.

Jika kita perhatikan sesungguhnya perbedaan pandangan itu disebabkan oleh perbedaan tingkat akalnya, karena perbedaan tingkat pendidikan dan ilmu pengetahuan. Segala sesuatu di alam ini hakikatnya adalah sama namun kemampuan akal manusia memahami itulah yang membuatnya berbeda, sehingga melahirkan penghargaan yang berbeda.

Seseorang yang tidak bisa membaca, baginya buku adalah setumpuk kertas yang tidak lebih dari kertas pembungkus kacang rebus. Begitu juga seseorang yang tidak mengerti handphone baginya tidak lebih dari sekedar alat untuk bermain game. 

Seorang Muslim memahami bahwa Al Qur'an adalah kitab yang sangat dijunjung tinggi, dipedomani dan dihormati. Namun untuk seorang atehis apalah arti sebuah Al Qur'an, tidak lebih dari kitab-kitab yang lain.

Ahli ilmu dapat duduk berjam-jam membaca beberapa buku dan bisa menghasilkan karya tulis adalah sebuah kebahagiaan dan kenikmatan, tetapi bagi orang yang tidak ahli ilmu itu adalah pekerjaan yang membosankan. Begitulah bahwa penghargaan seseorang atas sesuatu bergantung pada tingkat akalnya. 

Semakin luas akal seseorang maka semakin luas pula kehidupan dan kebahagiaannya. Sebaliknya semakin sempit akal seseorang maka semakin sempit pula kehidupan dan kebahagiaannya (Hamka, 2017). 

Maka tidak heran apabila melihat seseorang dengan harta miliaran bahkan triliunan namun hidupnya stres dan depresi bahkan sampai bunuh diri. Ia mengira bahwa harta akan memberikannya kebahagiaan selama lamanya. Khayalan dan angan-angan telah memperdaya dan mengalihkannya dari tujuan bahagia yang sebenarnya. 

Banyak manusia diperdaya oleh cahaya samar karena dia berada dalam gelap. Lebih mendahulukan perasaan dari pada pertimbangan dan akal sehat. Datang kepada cahaya yang baru itu namun sampainya di sana, yang dicari ternyata tidak ditemukannya. Ingin kembali namun jalan telah gelap dari sebelumnya, karena tidak sabar menunggu cahaya yang sejati. 

Kebahagiaan begitu dekat dengan kita, namun kita mencari kebahagiaan yang ada pada orang lain yang kita kira lebih indah.