Roman Adat Muda Menanggung Rindu karya Bagindo Saleh diterbitkan oleh Balai Pustaka pertama kali pada tahun 1955. Yang saya baca ini merupakan edisi cetakan keenam tahun 2011.

Seri sastra nostalgia ini ternyata masih asyik dibaca dan fleksibel. Tidak kalah dengan karya-karya penulis sekarang.

Bagindo Saleh memberikan petuah pergaulan muda-mudi dengan gaya yang “renyah”. Sehingga tidak timbul rasa bosan mengingat roman tersebut bukan termasuk karya sastra zaman now.

Adat muda menanggung rindu. Tiap-tiap pemuda dan putri yang cantik, kalau tak menanggung rindu, hidupnya hampa; tak merasa lezat murninya perasaan masa muda. Cinta rindu dendam itulah pakaian anak muda, suatu nikmat yang tiada tandingan nilainya (hal. 79).

Kutipan di atas membuktikan bahwa Bagindo Saleh memedulikan pembaca dengan memberikan rangkaian kata yang indah. Dan, tetap tak kehilangan esensinya.

Romansa di Tengah Penjajahan Jepang

Ahmad dan Nurlela merupakan “ujung tombak” roman ini. Mereka menjadi penggerak cerita yang rumit berlatar masa penjajahan Jepang di Indonesia.

Semula kedatangan Jepang dielu-elukan oleh rakyat Indonesia. Mereka berharap Jepang mampu menghentikan segala penderitaan rakyat akibat Belanda. Namun, ternyata anggapan itu tak berwujud sama sekali.

Sudah jatuh tertimpa tangga, duka bertambah derita tiada tara. Rakyat Indonesia kekurangan sandang dan pangan. Dikisahkan jika dalam kamp tawanan, orang-orang hanya makan cecak, lipas, dan lain-lain. Sangat menyedihkan! (hal. 63).

Di tengah masa kehidupan yang penuh kesengsaraan tersebut, timbul kisah kasih di antara Ahmad dan Nurlela. Nurlela keturunan Manado, sedangkan Ahmad berasal dari Medan.

Kisah itu bermula ketika Ahmad membawa berita kepada Nurlela dan ibunya. Dia menyampaikan bahwa ayah si gadis Manado itu dibawa oleh Jepang. Pak Mohambing hendak ditahan karena diduga sebagai antek-antek Belanda. Padahal, ia hanya seorang stadswacht—penjaga keamanan kota.

Meskipun begitu faktanya, Jepang tetap menganggap Pak Mohambing bersalah. Jepang sangat kejam dan sewenang-wenang.

Ahmad yang telah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Nurlela, berjanji akan menyelamatkan Pak Mohambing, bagaimanapun caranya. Juga, Ahmad berusaha menepati janjinya.

Begitulah agaknya seorang pemuda berkisah kasih. Dia harus memperjuangkan cintanya. Bagindo Saleh membuat cerita ini terasa benar-benar “hidup”.

Petuah bagi Muda-mudi

Seorang gadis harus arif dan bijaksana, seperti tokoh Nurlela dalam roman ini. Bagindo Saleh menggambarkan kearifan dan kecerdasan Nurlela dengan meminta Ahmad mencari keberadaan ayahnya secara halus. 

“Saya tak menyuruh dan minta tolong Tuan bekerja begitu. Itu berbahaya. Itu pekerjaan orang berani.” (hal. 17)

Jangan sampai bunga layu sebelum dipetik (hal. 74). Secara tersurat, penulis berpesan supaya para gadis pandai-pandai menjaga diri. Tiada kumbang yang tak ingin mendekati bunga mekar.

“Gadis-gadis ceroboh, hina dipandang lelaki! Tak ada harga sepeser pada sisi laki-laki, gadis-gadis yang mau dibegini-begitukan. Derajat perempuan terletak pada kekukuhan mempertahankan cinta,” kata ibu Nurlela meresapkan kata-katanya pada anaknya (hal. 75).

Petuah tersirat supaya para gadis tidak mudah termakan bujuk rayu disampaikan oleh tokoh ibu Nurlela. Derajat perempuan terletak pada pertahanan dirinya terhadap godaan lawan jenis. Dipertegas dengan kutipan berikut: “Demikian juga gadis baru, percaya saja mendengar kata-kata yang manis yang keluar dari mulut laki-laki durjana.” (hal. 77)

Tak ada seorang ibu yang mau anak gadisnya tercela. Sebagaimana kata Nurlela, “Sungguh sulit bagi seorang gadis: jika salah sekali, akan salah selamanya; tak dapat diperbaiki lagi.” (hal. 77)

Di dalam roman ini, juga dilakonkan seorang gadis bernama Mahrun. Mahrun diceritakan sebagai tokoh gadis yang menjadi korban rayuan lelaki. Dia hamil 3 bulan dan si lelaki itu pergi entah ke mana.

Tapi apa gunanya lagi, sebab: sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna (hal. 76). Tiada yang paling menyesal dan dirugikan selain para gadis. Lelaki, mah gampang! Tiada berbekas apa pun.

Penggambaran kisah Mahrun banyak terjadi di zaman sekarang. Ini membuktikan bahwa karya sastra terbitan Balai Pustaka bernilai fleksibel. Bagindo Saleh berharap supaya tidak  ada “Mahrun-Mahrun” berikutnya.

Terhalang Adat yang Berbeda

Rupanya, rintangan kisah kasih Ahmad dan Nurlela tak hanya terhalang masa penjajahan Jepang. Mereka juga tak direstui oleh pihak Ahmad. Kedua orang tua Ahmad sudah menjodohkan Ahmad dengan Sita Asma, kembang kota Medan. Sita Asma seorang gadis alim yang tak pernah meninggalkan sembahyang.

“Memang di daerah Medan, gadis yang berpendidikan agama, gadis yang nomor satu. Gadis yang tak tahu agama bercela di sana.” (hal. 81)

Rasa memang tidak bisa berdusta. Ahmad tetap memilih Nurlela, meskipun kedua orang tuanya memaksa dia berjodoh dengan gadis Medan juga. Menurutnya, menikahi Sita Asma hanya akan menyakiti dia.

Menikahi seorang gadis tanpa cinta akan menyakiti hatinya. Meskipun, lelaki itu memperlakukan dia penuh kasih. Sebab kasih itu tumbuh karena rasa kasihan, bukan karena cinta. Begitulah anggapan Ahmad.

Akhir Cerita

Karya sastra yang berkesan bagi pembacanya adalah karya yang memberikan penutup tak terlupakan. Hal tersebut menjadi sudut pandang saya ketika menempatkan diri sebagai pembaca. Akhir cerita Adat Muda Menanggung Rindu berhasil membuat saya berkesan.

Dengan kegigihan Ahmad, dia berhasil menyelamatkan Pak Mohambing dari kamp tahanan Jepang. Ahmad rela bekerja sebagai koki bagi Jepang dengan tujuan mencari cela supaya ayahnya Nurlela bisa kabur. Dan, berhasil.

Keluarga Nurlela dan Ahmad memutuskan untuk melarikan diri dari Jepang. Mereka menumpang kapal yang akan berlayar ke pelabuhan Belawan. Kemudian, tibalah mereka di kampung halaman Ahmad, Medan.

Ternyata Tengku Mahmud—ayah Ahmad—adalah kakak tertua Fatimah—ibu Nurlela. Tokoh Fatimah pergi ke pulau Jawa dan tidak mendengarkan larangan abangnya.

Kedua orang tua Nurlela bersimpuh meminta maaf kepada Tengku Mahmud. Begitu pula Nurlela, memperkenalkan diri sebagai keponakan dengan bahasa yang santun. Pamannya terpesona oleh kehalusan gadis keturunan Medan itu—gadis Manado yang selalu diceritakan Ahmad.

Tengku Mahmud terkaget-kaget dan akhirnya merestui hubungan mereka. Ya, tulang rusuk pasti menyatu pada pemiliknya!