Di zaman modern dan digital seperti sekarang, tentu semua kalangan sudah tidak asing dengan media sosial.

Sayangnya, banyak yang tidak mengerti bagaimana etika dalam menggunakan media sosial. 

Ya, spam adalah hal yang sering terjadi di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, WhatsApp, hingga Instagram.

Hem, mungkin banyak yang belum tahu bahwa spam adalah pelanggaran etika di media sosial.

Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), spam adalah surat yang dikirim tanpa diminta melalui internet, yang biasanya berisi iklan.

Padahal ni, dilansir dari Pakar Komunikasi.com spam merupakan pelanggaran etika berkomunikasi di internet yang berupa membanjiri media sosial korban dengan banyak pesan yang tidak diinginkan secara berulang-ulang.

Sekarang sudah tau kan spam itu apa. Apakah kalian pernah atau bahkan sering melakukannya? Mungkin bagi para pejuang pacaran atau yang punya pasangan, spam seakan menjadi hal wajib dalam sebuah hubungan ya 

Tapi sebenarnya, itu juga tak boleh dilakukan. Banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya spam. Mulai dari menyebabkan permusuhan, kebencian, ketidaktentraman, hingga perkelahian di media sosial.

Kita ambil dan bahas kasus-kasus kecil saja misalnya. Banyak dari kita ketika membutuhkan bantuan kepada seseorang atau ingin mengabarkan hal penting kepada seseorang kita melakukan spam dengan harapan segera mendapat respon.

Bahkan, tak segan-segan banyak yang mengirim pesan hingga ratusan atau ribuan pesan kepada orang yang dituju. Pertanyaannya, tidakkah kita berpikir jika orang yang dituju juga dalam kesulitan? Apa kita tidak mau tau, jika orang tersebut juga sedang punya kepentingan?

Banyak dari kita yang egois dan tak memikirkan perasaan. Bagaimana jika orang yang kita kirim pesan sedang sakit? Bagaimana jika orang tua mereka sedang sakit? Bagaimana jika mereka sedang mendorong motornya karena kehabisan bahan bakar?

Jika kita paham mengenai hal tersebut, tentu kita tidak akan sembarangan mengirim spam kepada seseorang.

Nantinya jika orang tersebut sudah punya waktu luang pasti akan membalas pesan yang kita kirimkan. Kecuali jika sudah lama ia belum membalas, maka boleh sesekali kita mengirimkannya pesan lagi untuk peringatan.

Padahal ketika kita sedang mempunyai urusan dan tak membalas pesan. Kita begitu mudah untuk mencari alasan. Tapi mengapa kita begitu sulit memahami alasan mereka?

Harusnya, kita bisa sadar dan paham sebelum diberikan pengertian. Ketika ia tak kunjung memberi balasan, mungkin ia sedang mengalami kesulitan, menjalani kegiatan, atau bahkan merasa tidak nyaman karena kita mengirim spam pesan.

Itu hanyalah contoh kecil guna kita belajar menghargai seseorang. Banyak kasus spam lain yang lebih besar. Misalnya ketika akun-akun jualan yang membanjiri kolom komentar guna mempromosikan produk mereka.

Bagi beberapa orang itu tidak masalah, namun jika hal itu dilakukan terus-terusan tak mustahil akan  membuat seseorang sangat tidak nyaman. 

Bagaimana tidak, pesan atau informasi yang sama sekali tidak diharapkan, muncul setiap waktu hingga menghambat aktifitas media sosial kita.

Memang benar, itu tergantung kepada orangnya dan itu merupakan hal yang sangat remeh. Tetapi, pelanggaran etika tetap merupakan pelanggaran bukan? Dari hal kecil kita akan belajar mengenai hal besar.

Ada kasus spam yang cukup besar, misalnya yang dibuat oleh Sanford Wallace. Pada tahun 2008 hingga 2009 ia mengaku telah menyebarkan lebih dari 27 Juta pesan spam melalui server Facebook. Ia melakukan spaming terhadap sekitar 500 ribu akun penggunaa Facebook yang dapat ia akses.

Na bagaimana jika kasusnya demikian? Sangat meresahkan bukan? Oleh karenanya, untuk menghindari hal-hal besar seperti ini. Kita harus terlebih dahulu menghargai hal-hal kecil yang terjadi.

Penulis tidak menyalahkan dan sangat menghargai orang yang melakukan spam. Saya paham bahwa ada yang melakukan demikian karena sebuah alasan. 

Namun, di sisi lain pengirim spam juga harus mengerti alasan mengapa spam tak kunjung dibalas.

Alhasil bukannya mengirimkan lebih banyak spam pesan/iklan. Melainkan, kita bisa berhenti dan belajar menghargai.

Hal itu juga sebenarnya tak masalah dilakukan jika kedua orang sudah sepaham dan memang ciri khasnya demikian.

Namun, kita harus tetap mengetahui bahwa harus ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan.

Hal yang tidak kalah penting adalah, kita tidak bisa menyamakan semua orang. Apalagi dalam bermedia sosial, jangkauannya begitu luas sehingga kita harus hati-hati dalam mengetik menggunakan jari. 

Sehingga, kita tidak menyakiti hati orang lain dan membuat kegaduhan.

Haruslah kita ingat bahwa Indonesia adalah negara hukum, ada undang-undang yang mengatur segala kehidupan. 

Dalam bermedia sosial tentu mengacu kepada undang-undang ITE yang diterapkan di negara kita.

Oleh karena itu, bisa jadi hal yang remeh dan kecil dapat menjadi besar jika kita melakukan sesuatu yang tak tepat sasaran.

Ketika kita yang mendapat spam, tentu kita juga tak boleh langsung marah. Kita harus memahami mengapa orang tersebut melakukan demikian. 

Jika sudah clear urusannya. Barulah kita bisa memberi pengertian tentang spam kepada orang yang mengirim pesan.

Pada intinya kita harus menghargai orang lain dan berpikir lebih dalam, saat kita akan melakukan spam ataupun saat kita menerima spam. Sehingga kita tidak mudah menyalahkan dan membuat orang tetap merasa nyaman.

Semoga kita bisa lebih menghargai seseorang dari hal sekecil apapun. Karena hal besar, dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.