Setiap sesuatu yang datangnya dari kekasih adalah kebaikan

Tatkala sedang ngopi ada seorang teman membuka obrolan dengan bertanya "Apakah Tuhan itu Maha Penyayang?

Memangnya kenapa? Saya bertanya.

Coba kamu pikir, kalau emang Tuhan Maha Penyayang, mengapa ia menciptakan neraka? Kalau Tuhan itu emang Penyayang, ia seharusnya  tak menciptakan neraka untuk menghukum ciptaannya.

Setelah mendengar unek-uneknya, saya mengatakan " Selain surga, neraka juga diciptakan sebagai bentuk kasih sayang Tuhan kepada manusia".

Ah, kamu ini, masa neraka dikatakan bentuk sayang? Neraka itu tempat penyiksaan'. Ia menimpali.

Baca Juga: Surga dan Neraka

Mendengar itu, saya hanya tertawa.

Karena penasaran dengan jawab saya. Ia lalu bertanya " Mengapa kamu mengatakan neraka itu juga bentuk sayang Tuhan? "

Sebelum menjelaskan, saya mengatakan ke teman saya itu bahwa: saya tidak akan menjelaskan  apa yang saya katakan tadi dengan menggunakan pendekatan tekstual (seperti menggunakan dalil ayat, hadis).

Saya tak mau bawa-bawa ayat dan hadis, nanti kalau salah tafsir saya dilaporkan. Kena delik. Berakhir di Bui. Hehe

Akan tetapi, saya akan menjelaskan sesuai pemahaman saya, tentu pemahaman saya ini masih bisa diperdebatkan atau tidak disetujui.

Syahdan, setiap tanda-tanda di alam apabila kita berpikir dan merenungi akan mengantarkan kita kepada pengetahuan tentang pencipta, bukan?

Nah, dengan perumpamaan sikap orang tua kepada anaknya, saya mencoba menjelaskan pendapat saya kepada teman itu mengapa saya menyebut neraka juga merupakan  bentuk kasih sayang Tuhan. 

Kalau kita mengamati perilaku anak-anak berkaitan dengan makan. Di antara anak-anak itu, ada anak yang susah sekali ketika disuruh makan, bukan?

Nah, agar anak mau makan, orang tua kadang mengiming-imingi sesuatu untuk anak itu dengan berkata:

 "Makan yang banyak nak, kalau kamu makan yang banyak, Ayah/Ibu akan membelikan kamu mobil, boneka, dll".

Ada juga orang tua yang berkata " Makanlah, kalau tidak, Ayah/Ibu akan mencubitmu ".

Bagi saya, kedua perlakuan atau ucapan dari orang tua kepada anaknya itu merupakan bentuk dari rasa sayang, perhatikan, kepada anaknya.

Lalu apa hubungan dengan neraka merupakan bentuk sayang Tuhan?

Begini Ferguso, Tuhan seperti layaknya orang tua. Mengapa? Ketika Tuhan  berkata kepada hambanya:

"Jauhilah/tinggalkan perbuatan buruk, sebab perbuat itu akan mengantarmu pada kebinasaan". "Berbuat baiklah agar kamu mendapatkan keselamatan".

Mendengar perkataan Tuhan semacam itu, ada dari hambanya yang  menaati. Namun ada juga hambanya yang tak peduli, tak menaati.

Kendati  Tuhan mengetahui ada dari hambanya yang tak menaati, Tuhan tetap menunjukan kasihnya. Ia mengiming-imingi hambanya dengan surga agar hambanya  berbuat baik.

Dan yang  bandel Tuhan menunjukan ancaman berupa neraka  supaya hambanya tak jatuh dalam kesesatan, kebinasaan.

Bagi saya, ancaman neraka itu  sama halnya dengan ucapan orang tua tentang akan mencubit anaknya. Keduanya merupakan bentuk hukuman, tapi demi untuk kebaikan.

**

Seperti halnya dengan makan, bukankah berbuat baik merupakan sesuatu yang bagus bagi diri kita apabila kita melakukan itu. Pun, dengan keburukan yang kita lakukan, pasti akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri.

Lantas mengapa Tuhan masih saja memerintah kita untuk berbuat baik, memberikan surga apabila kita mengikutinya dan menakuti/mengancam kita seperti halnya Ayah/Ibu yang mengatakan akan mencubit anaknya apabila tidak mengikuti perkataannya.

Bukankah itu semua demi kebaikan kita?

Seandainya anak-anak  itu berpikir, dengan makan yang  teratur tubuhnya akan berkembang dengan baik, tidak sakit-sakitan, itu semua untuk kebaikan dirinya sendiri.

Seharusnya  tak perlu lagi dikasih imbalan dan hadiah. Namun orang tau masih saja memberikan  hadiah ketika anaknya patuh.

Begitupun dengan perbuatan baik yang kita lakukan. Padahal perbuatan baik itu berdampak pada diri sendiri, tapi Tuhan masih memberi imbalan surga.

Soal mengapa orang tua harus mengeluarkan kata ancaman, supaya anaknya  mau makan. Itu  semua  demi kebaikan anaknya, sehingga pertumbuhan tubuhnya normal, sehat, tidak sakit-sakitan.

Pun, dengan siksa neraka Tuhan ingin menjauhkan hambanya dari kesesatan, keburukan  yang merugikan hambanya.

Sederhananya, saya bisa katakana bahwa saking sayang Tuhan kepada hambanya, neraka diciptakan sebagai rambu-rambu agar hambanya tak terjerumus jatuh ke dalam jurang kesesatan.

Atau lebih tepatnya , surga itu sama halnya dengan hadiah mobil, boneka, yang akan diberikan orang tua kepada anaknya apabila anaknya penurut.  Sedangkan neraka itu seperti cubitan sayang orang tua kepada anaknya supaya patuh dan tak berbuat nakal yang  berakibat buruk untuk dirinya.

Dengan demikian, walaupun sebagian orang mengatakan neraka merupakan tempat penyiksaan. Bagi saya, selain surga neraka juga merupakan salah satu bentuk kasih Tuhan kepada manusia.

Sebagai penutup penjelasan, saya bekata kepada teman saya dalam Al-quran surat Al-Hijr, Ayat 49 Tuhan berfirman:

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Tentu, pengampunan dan kasih sayang Tuhan itu luas, saking luasnya pengampunan ia melingkupi neraka.

Ya, karena luasnya kasih sayang Tuhan, tentu neraka juga merupakan bentuk kasih sayang, bukan?