Saya sering kali ditanya kapan menikah? Tapi, hal demikian nggak sampai membuat saya emosi atau ingin melempar kursi kepada penanya atau menggigitnya. Saya memaklumi bahwa pertanyaan itu hanya sekedar basa-basi, bukan untuk meledek apalagi mengajak pertikaian. Ringkasnya, hanya guyonan belaka saja, titik.

Iya, saya ulang sekali lagi, hanya sebagai sebagai guyonan saja kok. Sudahlah, hidup jangan dibikin ribet atau pusing dengan pertanyaan itu (walau agak menyakitkan juga sih, hiksss). Kadang usai mendengar ‘suara penasaran’ tersebut dari orang-orang terdekat, saya jeda sejenak dan tersenyum, lantas melanjutkan aktivitas: rebahan sambil nonton anime atau memburu cuan yang elegan.

Namun, ketika pertanyaan tersebut beranjak dari dimensi guyonan (wah ini) kemudian memasuki wilayah anyar yang melibatkan sikap superior, yakni mendikte atau menyuruh menikah, ehem, saya nggak mampu lagi dong memberikan toleransi atau menghadirkan pemakluman. Tiba-tiba saja ingin ngegas, ingin hijrah ke dunia Isekai atau berubah menjadi Colossal Titan agar dapat mengamuk dan meluluhlantakkan mulut-mulut nir-empati.

Berdasarkan pengamatan abal-abal saya (maaf, hal ini tidak seperti menulis skripsi yang mesti ilmiah dan banjir referensi yaa) ada beberapa hal yang menyebabkan orang-orang melontarkan kata nir-faedah tersebut. Di antaranya, mereka mengetahui bahwa saya telah memiliki pekerjaan dan memperoleh cuan yang lumayan, gelar sarjana yang bakal nongkrong di belakang nama saya (yah, meskipun gelar ini nantinya  saya peroleh dengan menulis skripsi sekadarnya), dan yang terakhir, mereka tau bahwa saya memiliki gebetan, bhaaaaa.

Nah, setelah mengetahui hal itu dan mereka merasa telah “selesai” dengan wilayah domestiknya masing-masing, tiba-tiba merasa punya wewenang untuk mendikte saya menikah. Melalui artikel ini, saya ingin melakukan pembelaan atau apalah namanya. Bagaimanapun juga, perkara ini telah menyinggung salah satu hal yang paling krusial dan sakral dalam hidup, setidaknya menurut saya. PERNIKAHAN. Iya, pernikahan. Hal yang semestinya kami (saya dan pasangan) rencananakan dengan matang dan penuh pertimbangan dewasa. Kenapa sih harus diintervensi oleh manusia-manusia santuy yang tidak paham konteks dan dinamika internal.

Wahai Saudara-saudara sekalian yang terhormat. Mendikte atau menyuruh saya menikah itu, tanpa kalian sadari, telah mencoba membangkitkan kembali praktik kolonial di masa pra-kemerdekaan. Maksudnya berpotensi melakukan penjajahan, bahkan pelecehan, meskipun dalam ruang lingkup yang kecil sih.

Begini penjelasannya. Sebagai seorang manusia yang memiliki kesempatan untuk menyandang status mahasiswa selama 14 semester (wah, golongan tua yang patut dimuseumkan ini), memiliki akses terhadap dunia pendidikan formal, diajari cara berpikir ala-ala mahasiswa progresif dan memiliki visi misi ke depan, juga dididik untuk memutuskan segala sesuatu dengan pertimbangan yang matang maupun dewasa, maka seolah-olah kalian menempatkan objek yang didikte (maksudnya saya) belum berdikari. Pada titik ini, terjadi semacam pelecehan atau potensi untuk melakukan penjajahan terhadap kehidupan pribadi seseorang.

Atau bahasa sederhananya, kalian menganggap saya belum dewasa hingga tidak kuasa menentukan jalan hidupnya sendiri. Astagaaaaaa, benar-benar ingin ngajak berantem saja. Bukan, saya bukannya memiliki hati sekeras dan setebal Dinding Maria seperti di serial anime Attack on Titan, hingga tidak mau menyerap nasehat atau pelbagai saran, cuma tidak mau aja kok diintervensi terlalu dalam, jauh, bahkan menyentuh ubun-ubun.

Dan sialnya, kebanyakan orang-orang yang mendikte saya menikah itu juga pernah duduk di bangku kuliah dan melalui proses berpikir juga. Kok kalian jadi berpikiran instan begini sih? Ingat, sebagaimana yang kita ketahui, setiap manusia itu memiliki pemikiran, alur hidupnya, serta ragam kreatifitas masing-masing dalam menjalani maupun menyelesaikan masalahnya, termasuk dalam hal ini rencana pernikahan. Jadi, jangan diintervensi semena-mena dong.

Toeh, ketika Saudara-saudara sekalian mendikte atau menyuruh saya menikah, pada saat itu saya membaca sebuah isyarat untuk berkelahi, dan saya bakal menerimanya. Yah, meskipun saya berani berkelahinya cuma lewat artikel ini, nggak berani baku hantam secara real life. Bhaaaaaaa. Maklum, saya ‘kan pecinta damai. Tapi, kalau ada yang ingin mencoba membangkitkan Bijuu saya (hadeh), nggak tanggung jawab loe kalau saya mengamuk. Bhaaaaaa.

Begini Saudara-saudara, daripada kalian sibuk mendikte saya menikah, kenapa sih kalian tidak menyibukkan diri saja dengan membenahi kembali pola pikir yang begituan, toeh kita pernah sama-sama duduk dibangku kuliah, mengumpulkan dan memperoleh beragam pengetahuan dan menyerap pelbagai pengalaman. Atau, melakukan hal konkret saja yang dapat menghadirkan keharmonisan di antara kita.

Misalnya?

Hadeh, jangan tanya lagi dong. Daripada mendikte atau menyuruh saya menikah, mendingan saudara-saudara sekalian dengan keteguhan hati dan keringan jemari untuk mentransfer cuan ke rekening saya, sebagai anu, ehem, modal untuk mempercepat proses pernikahan saya. Bukan hanya sekedar mendikte saja. Kalau hanya sekedar mendikte, aduh, kalian kira saya anak kecil yang baru belajar baca tulis.