Pamong Sanggar
1 minggu lalu · 215 view · 6 min baca · Cerpen 53514_75819.jpg
Ilustrator: Daioe

Bagaskara

“Aku datang padamu melintasi langit demi langit. Tanpa suara kuhampiri dirimu yang masih dalam kandungan ibumu. Kulihat engkau meringkuk, memendam rindu untuk dilahirkan. 

Dari langit aku datang padamu. Dengan rupa manusia yang begitu mengasihimu. Akulah malaikat itu. Yang mengarahkan awal perjalanan bagimu. Menjadi terang dunia di mana pun kau berada.”

Kata-kata itu terus mengisi dan memenuhi hati Dewi Ratih yang sedang duduk di atas sebuah batu besar, di puncak Gunung Sakya. Semilir angin mengusap lembut rambut panjangnya yang hampir seluruhnya dipenuhi warna putih yang bernama uban.

Hari itu ia ingin sekali menuangkan seluruh kata-kata yang memenuhi rongga hatinya pada angin semilir yang menyapa. Sayangnya hasrat itu acap kali tenggelam begitu embusan angin berganti rupa dangan nama badai. Dan begitulah, setiap bulan Agustus  menghampiri tahun, hasrat itu selalu saja timbul dan tenggelam. Sirna dihempas angin malam yang bersatu dengan dinginnya kabut gunung.

Ini adalah tahun yang ke tujuh belas. Tapi satu kata pun bahkan belum  ia sampaikan pada semilir angin yang diharapkan dapat menyampaikan pesannya pada putra Sang Surya di seberang lautan. 

Dewi Ratih terdiam. Ia hanya mematung menatap hampa sang senja, kecuali hatinya yang bernas dengan suara-suara yang bertentangan dengan yang ada di dalam pikirannya. Semilir angin pun akhirnya ia biarkan bebas menyentuh, dan menerpa rambutnya sekali lagi.

Pikiran Dewi Ratih kini malah melayang jauh ke masa yang telah berlalu. Mengembara pada kisah saat ia melintasi langit bersama putra Sang Surya. Menembus awan dan menyibaknya dengan santun. Menuju tanah leluhur menuntaskan sejarah yang belum usai.

Hati Sang Dewi terbelah saat mendengar suara tangisan nan pilu saat itu. Di atas langit pertama, tangisan perpisahan itu sungguh menyayat sembilu. Tangisan pilu dari  bayi yang berpisah dengan sang ibu yang mengandung dan melahirkannya. 

Dewi Ratih akhirnya mendekap sang bayi dengan lembut. Ia segera menenangkan jiwa perempuannya, sebelum memberikan ketenangan seluas samudra pada sang bayi. Sang Dewi pun tersenyum ketika tangisan sang bayi telah berhenti. Tangisan itu memang tak lebih lama dari mata berkedip, setelah kecantikan bidadari-bidadari dari langit yang datang menghibur, memesona putra Sang Surya. 

Namun tetap saja tangisan itu merobek keheningan dan kelembutan jiwa Dewi Ratih yang datang dari langit. Yang mengawasi setiap gerak laku putra Sang Surya saat masih dalam kandungan hingga terlahir pada bulan Agustus, dan menjadi matahari baru bagi jagad raya.

Dewi Ratih telah mengasihinya sebelum hawa bumi menyapa. Maka, meskipun hatinya terbelah, ia tetap akan menunaikan tugas alamnya. Membawa sang bayi melintasi langit, dan menyeberangi lautan menuju tanah leluhur.

Hari itu Dewi Ratih tiba di tanah leluhur. Senyum sumringah tampak menghiasi wajahnya. Setelah memandikan sang bayi dengan api biru kawah Ijen, ia pun menyapa Gunung Welirang dan Gunung Arjuno sebelum menuju puncak Gunung Kawi.

Dalam perjalanan, Dewi Ratih bertemu dengan seorang gadis yang sedang menjalani tradisi menanam bunga memohon berkah kecantikan pada Alam. Gadis desa itu bermata jernih dengan kulit kuning langsat yang bersinar cerah. Karena kebaikan hatinya yang terpancar jelas pada wajahnya, Dewi Ratih pun akhirnya mengabulkan doa permohonannya, meskipun sang gadis tak mengenalinya.

Puncak Kawi sudah tampak. Malam pun semakin gelap. Hanya cahaya terang yang terpancar dari puncak gunung nan suci itu. Dan bintang Canopus yang menerangi perjalanan malam Sang Dewi, seolah menjadi penunjuk arahnya.

Malam itu Sang Dewi melesat cepat bagai angin menuju puncak Kawi dan menebarkan kecantikan bagi seluruh kaum hawa yang dilintasinya. Menebarkan kecantikan sejati yang tak hanya tampak di paras rupawan, tapi juga kelembutan hati dan jiwa nan suci. Dan malam telah berganti pagi ketika Sang Dewi sampai di puncak Gunung Kawi.

Kicau burung dan merdu suara nyaring irama tonggeret yang melintasi pohon demi pohon pun bersuka cita menyambut Dewi Ratih dan bayi suci yang ada dalam dekapannya. Buah Dewandaru yang ranum pun juga turut menyambut dengan penuh kebahagiaan. 

Warna merahnya sungguh merona, menggoda untuk dipetik dan dihadiahkan pada putra Sang Surya. Dewi Ratih mengerti, ia pun segera memetik buah itu, dan menyuapkan daging  buahnya pada putra Sang Surya dengan tangannya sendiri. 

Pagi itu, Rsi Agastya yang bertapa sepanjang masa di puncak Gunung Kawi pun turut memberi berkat cahaya pada sang bayi melalui vibrasi kesuciannya. Putra Sang Surya seketika bersinar dalam dekapan Dewi Ratih yang sungguh menawan. Hingga cahaya berkilauan tampak jelas dari puncak gunung Kawi saat mata memandang ke arah sana.

Tapi waktu ternyata berlalu dengan sangat cepat. Seratus hari, lamanya bagai bintang beralih. Dewi Ratih pun menyerahkan kembali bayi suci itu kepada Sang Surya, agar dapat kembali berada dalam pelukan sang Ibundanya. Dan sejak saat itulah Dewi Ratih tak lagi berjumpa dengan putra Sang Surya, hingga kerinduan itu menjadi beku, tersimpan abadi dalam jiwanya. 

Tugas itu telah tunai. Kebahagiaan pun telah bersama jiwanya. Namun ternyata ada keresahan yang menghantui pikirannya, dan mengusik   pertapaannya di puncak Gunung Sakya. Hingga kemudian lahir kata-kata indah menenangkan hati Sang Dewi, yang kembali riuh saat senja mulai menuju malam di tahun ke tujuh belas.

Kata hati memang tak mudah selaras dengan pikiran. Tapi tuntunan alam tetaplah akan selalu dipegang Dewi Ratih dalam hidupnya. Maka hatinya pun kembali terbuka, sekuat dan selembut jiwanya merengkuh putra Sang Surya dalam dekapan kasihnya seperti kala itu. 

Tiba-tiba mata indah Sang Dewi menggantungkan secawan duka. Rasa bersalah pun menghampiri sudut hatinya. Sebagai perempuan, rasa bersalah itu tentu saja dapat dengan mudah mengaliri jiwanya yang lembut. Meskipun selalu tertimbun kata-kata indah atas nama tugas alam. 

Seratus hari mengembara bersama bayi mungil ke tanah leluhur adalah salah satu perjalanan yang indah baginya. Ia tak bisa melupakan senyum merona dari bayi yang memesona itu. Perjalanan itu telah menuntaskan sejarah leluhur yang belum usai dan sekaligus merupakan salah satu bagian tujuan hidupnya kali ini, agar di kehidupan berikutnya dapat terlahir kembali bertemu dengan Dewa Kamajaya, sang pujaan hati.

Tak hanya Dewi Ratih yang bahagia dengan tugas ini, cahaya Sang Surya pun turut bahagia menyempurnakan jalan masa depan bagi bayi dalam dekapan Dewi Ratih yang cantik tiada tara itu. Meluruskan garis hidup yang disandang sang bayi, yang nantinya akan meneruskan trah leluhur yang mengalir dalam darahnya. Menjadi penerus yang utama.

Dewi Ratih masih tertegun. Harusnya tak ada resah sedikit pun dalam jiwanya. Putra Sang Surya telah mencapai alam-alam surga sebelum dilahirkan. Bahkan setelah perjalanan seratus hari ke tanah leluhur, ia pun akan dapat kembali mengingat pencapaian yoganya pada penjelmaan terdahulu. Hingga ia dapat menjalankan tugas alamnya di bumi, dan mampu menyejahterakan siapa pun yang ada di dekatnya.

Dewi Ratih masih tak kuasa merangkai kata-kata yang telah memenuhi rongga dadanya. Yang tiap kali akan ia sampaikan pada semilir angin, tangisan bayi yang terpisah dengan ibunya saat berada ketinggian langit kala itu selalu saja terngiang, dan menghentikan kekuatan yang ada dalam hati dan jiwanya.

Perlahan, cawan duka itu akhirnya tumpah juga dari pelupuk mata Dewi Ratih. Sebelum Sang Surya benar-benar tenggelam dan semilir angin mengusap rambutnya kembali, Dewi Ratih pun akhirnya berjalan meninggalkan keraguannya, dan melepaskan resah dengan keikhlasan yang sempurna.

Pada semilir angin, Dewi Ratih akhirnya mengungkapkan kata-kata indah yang telah selaras dengan pikirannya. Jiwanya pun tak lagi gemetar, karena hari ini adalah waktunya. Waktunya bagi Sang Dewi memejamkan mata dibuai semilir angin yang mengusap rambutnya.

Sebelum semilir angin itu bergerak lebih  kencang membuat pusaran dengan rupa badai. Sebelum Sang Dewi melesat menuju mata badai dalam keadaan terlelap dengan ketenangan jiwa yang sungguh sempurna menuju Purnama.

Hari ini adalah memang waktunya. Karena putra Sang Surya pun telah berusia lebih dari dua windu. Ia telah dapat mengingat kembali pencapaian yoganya, hingga bisa mendengar bisikan angin nan merdu, yang membawakan puisi indah untuknya. Dan kelak saat matanya memandang ke bulan, ia akan tahu dari mana puisi itu berasal.

“Aku datang padamu melintasi langit demi langit. Tanpa suara kuhampiri dirimu yang masih dalam kandungan ibumu. Kulihat engkau meringkuk, memendam rindu untuk dilahirkan.

Dari langit aku datang padamu. Dengan rupa manusia yang begitu mengasihimu. Akulah malaikat itu. Yang mengarahkan awal perjalanan bagimu. Menjadi terang dunia di mana pun kau berada.

Mohon maafkan aku, Nak. Atas tangisanmu saat berada di ketinggian langit kala itu. Kerinduan yang telah menjadi beku itu adalah milikku. Biarlah waktu yang kan meleburnya, dalam keikhlasan yang sempurna.

Lewat semilir angin kukirimkan puisi indah. Padamu yang berada di seberang lautan. Padamu yang kini berada dalam kehangatan dari sosok ibu yang mengandung dan melahirkanmu. Padamu yang telah bercahaya serupa dengan Sang Surya.

Dan sebagai putra Sang Surya, semoga kelak engkau dapat menjadi terang bagi sesama hidupmu seperti matahari yang bersinar. Sesuai dengan makna yang melekat pada namamu, BAGASKARA.

Artikel Terkait