Modernitas banyak menumbuhkan perubahan di segala lapisan kehidupan. Entah sosial, ekonomi, teknologi, budaya, yang bergeser ke arah baru. Budaya misalnya, perubahan yang dulunya bersosial secara fisik, kini lebih banyak dilakukan secara virtual. Komunikasi sosial secara virtual mengakibatkan segala privasi penggunanya sangat rentan diketahui banyak orang.

Rancunya ruang privat dan ruang publik mengaburkan perbedaan bagian intim dan luar. Semua didominasi oleh dunia simulasi, dan manusia kontemporer hidup dengan ekstasi komunikasi yang kacau atau dunia yang telah “melampaui realitas”, kata Baudrillard. 

Lebih lanjut Abuddin Nata dalam bukunya Akhlak Tasawuf menggambarkan kehidupan modern masyarakat saat ini adalah masyarakat yang bercorak informasi. Di mana sejak Revolusi Industri 4.0, komputerisasi membuat peralihan pekerjaan. Lebih dari 60% pekerjaan bergerak dalam bidang jasa dan informasi.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut memaksa manusia bekerja lebih ekstra daripada sebelum peralihan itu terjadi. Dan, tidak hanya persoalan pekerjaan, sikap masyarakat modern juga bertransformasi ke arah baru. Nata menyebutkan ciri-ciri masyarakat modern memiliki sikap rasional—lebih mengutamakan berpikir secara logika ketimbang emosi, bersikap terbuka dan objektif.

Tentunya, segala perubahan terjadi karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari sini, banyak dampak yang ditimbulkan, baik secara positif dan negatif. Dampak negatif banyak dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari hidup yang materialistik, hedonis, sikap ingin selalu memiliki segala aspek kehidupan, stres, kepribadian yang terpecah, kemorosotan iman.

Problem sikap tersebut berimplikasi pada kesehatan jiwa/mental masyarakat modern. Yang membuat kesehatan psikologis menjadi kurang sehat. 

Merebaknya beragam penyakit spritual dan moral oleh Fredrich Schumacher dalam bukunya A Guide for the Perplexed, menjelaskan bahwa belakangan seseorang baru sadar krisis ekonomi, lingkungan, maupun kesehatan, justru berangkat dari krisis spritual dan krisis pengenalan diri kita terhadap Tuhan. Olehnya, perlu sebuah nilai-nilai baru atau terapi batin dalam menyikapi problema yang berhubungan dengan dimensi spritual.

Dari segi Islam, tasawuf hadir sebagai pengetahuan esoteris (batiniah) yang berupaya mencerahkan kesadaran jiwa dan ketenangan hati. Ilmu tasawuf berupaya menjalin kedekatan murni dengan Tuhan, dalam kehidupan duniawi yang tergambarkan melalui kesalehan individu dan sosial.

Praktik ilmu tasawuf banyak dilakukan oleh ajaran tarekat para Sufi. Dalam sejarah, seorang sufi menyebarkan ajaran-ajaran Islam dengan jalan kecintaan dan pendekatan kepada Tuhan. 

Al-Ghazali menyebut ilmu tasawuf adalah ajaran Islam yang menekankan pada aspek batin. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi Muhammad saw yang mengatakan “Alquran memiliki makna secara zahir dan batin, awal dan akhir.” Makna-makna yang tersimpan tidak akan tersingkap tanpa menggunakan sebuah takwil (penafsiran).

Penafsiran dalam ayat Alquran tidak serta-merta ditafsir dengan akal begitu saja. Perlu adanya penguasaan ilmu-ilmu tafsir untuk membedah dan menemukan makna/kandungan ayat per-ayat Alquran. 

Oleh karena itu, dalam ajaran tasawuf, seseorang dituntut untuk memurnikan batinnya dari hal-hal buruk dan tidak beretika. Terapi batin yang disinergikan dengan keagungan ayat-ayat Alquran merupakan manifestasi batin manusia yang tertinggi.

Betapa pentingnya ilmu tasawuf, ditegaskan oleh Nasr, bahwa ajaran ini merupakan jantung ajaran Islam yang berupaya memayungi segala problematika ilmu pengetahuan dan mental. 

Haidar Baqir pun mengafirmasi, tasawuf merupakan mazhab cinta. Dalam penuturannya, Baqir menyebutkan bahwa tasawuf saat ini bukan lagi diminati oleh kalangan muslim. Namun, Barat juga mulai berupaya ‘menyelami’ dimensi spritualitas tasawuf.

Kitab-kitab Rumi banyak diburu oleh Barat dan mereka menyukai syair-syair spiritual dari sentuhan ajaran tasawuf yang termaktub dalam kitab Rumi. Agar, kehausan spiritual bisa terpenuhi. 

Lebih dari itu, fenomena kehausan spiritual masyarakat modern bisa kita jumpai dalam pencarian mesin Google, kata “spiritual”/yang berhubungan dengan dimensi ke-Tuhan-an banyak menjadi penelusuran paling ramai belakangan ini.

Term “spiritual” menumbuhkan sebuah kasus baru. Hadirnya fenomena masyarakat modern, yang berupaya meyakini aspek material sebagai sebuah pencapaian kebahagian atau lazimnya sebagai simbol kebahagiaan. 

Pencarian kekayaan atau hasrat ingin memiliki banyak harta, untuk mencapai kebahagiaan ternyata kenyataannya tidak menimbulkan rasa bahagia. Saat ia telah mendapatkan dan memiliki harta yang dikumpulkan, tak ada rasa kebahagian yang dirasakan. Dimensi batinnya tetap merasa ada yang ‘kurang’ dari kebahagian yang diidam-idamkan.

Dari sini, tasawuf menyikapi problem di atas. Semisal, sebuah pertanyaan sederhana, kebahagiaan itu adalah memiliki atau melepaskan? 

Acap kali, pribadi meyakini bahwa dengan “memiliki”, kebahagiaan sempurna akan didapatkan. Tapi, coba Anda telaah. Ketika seseorang mendermakan hartanya—dari kacamata Islam disebut bersedekah—maka, yang timbul dari hasrat dalam batinnya adalah sesuatu rasa yang sangat positif memancar keluar. Artinya, timbul kebahagiaan istimewa saat seseorang bersedekah.

Dalam suatu riwayat pernah diceritakan, bahwa Siti Aisyah r.a. pernah bersedekah seekor kambing. Setelah disembelih beberapa ekor, kemudian beliau bertanya kepada salah seorang pembantunya, “ada yang tersisa?”, “iya ada, sepenggal paha kiri ini punya kita.” 

Lantas Aisyah r.a. berkata lagi, “tidak-tidak, yang milik kita adalah yang disedekahkan itu. Yang bagian ini akan menjadi kotoran. Dan yang milik kita adalah yang kita berikan kepada orang lain.” 

Maka, kalau seseorang bahagia dengan sesuatu, tentunya lebih bahagia lagi jika melepaskannya, tidak memilikinya. Begitulah, salah satu sisi primordial (pondasi awal) dalam menyikapi kebahagiaan.

Dengan bertasawuf, pembangkitan dimensi spiritual menjadi penekanan utama. Fondasi dalam membentuk hubungan erat dengan Tuhan adalah manifestasi tertinggi bagi tasawuf. 

Buah dari tasawuf akan membentuk pribadi muslim yang insan kamil, yaitu manusia yang berhasil memerangi keburukan dan menuntut pribadinya dalam kebaikan. Yang tercermin dari akhlak dan etika dalam perilakunya di kehidupan sehari-hari.

Sebagai suatu ilmu batiniah (yang berhubungan dengan batin manusia), tasawuf merupakan sebuah alternatif baru bagi seorang muslim dalam menyikapi dan menjadi ‘penawar’ bagi problem psikologis. Dan ilmu ini sangat erat kaitannya dengan pelajaran akhlak/moral. 

Bagaimana mungkin jika tidak sedikit orang yang mengatakan, ilmu tasawuf sesat. Padahal, ilmu tasawuf berupaya membangkitkan kesalehan pribadi dan sosial. Dari sisi Islam disebut Habluminallah dan Habluminannas—menjaga keseimbangan hubungan dengan Allah dan manusia.