Dalam sebuah kisah, terdapat seseorang yang sedang duduk di dalam kereta api, menengok keluar dan melihat seorang petani bersama keluarga kecilnya sedang menanam padi, sambil duduk menikmati sore. Dalam benak lelaki itu "alangkah bahagianya petani tersebut, bisa duduk bertani ditemani keluarga kecilnya". demikian yang lelaki itu pikirkan. Petani itu pun sebaliknya, sambil menanam padi, ia menengok ke kereta api sambil berkata "alangkah bahagianya orang yang naik kereta api, bisa pergi kemana saja maunya".

Dari penggalan cerita itu, kita dapat menemukan bahwa konsep kebahagian berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang menganggap bahagia adalah ketika kita mensyukuri apa yang kita punya, ada yang menganggap bahagia adalah ketika memiliki harta kekayaan yang banyak, dan ada juga yang menganggap bahagia hanya perlu dengan hal-hal yang sederhana.

Namun, mengutip Reza A.A. Wattimena dalam artikelnya "Tirani Konsep" mengatakan bahwa kita dapat bahagia ketika konsep kebahagiaan dalam benak kita dihilangkan. 

Penulis sendiri kurang sepakat dengan pernyataan tersebut. Dasar pikirnya adalah kita harus memiliki dahulu konsepsi terhadap sesuatu, sebelum kita sampai pada sesuatu itu sendiri. Sederhananya adalah kita harus memiliki konsep tentang bahagia dulu, sebelum kita sampai pada bahagia itu sendiri. 

Terlepas dari apakah kita harus memiliki konsep bahagia atau tidak untuk mencapai kebahagiaan, penulis tidak akan membahas lebih lanjut. Dalam tulisan ini yang ingin ditampilkan oleh penulis bukanlah mengenai haruskah kita memiliki konsep atau tidak dalam mencapai sesuatu, melainkan penulis ingin menghadirkan konsep kebahagiaan menurut kaum sinis dan hubungannya dengan koruptor.

Sinisme

Sinisme didirikan oleh Antisthenes (400 SM) di Athena. Ia merupakan salah seorang murid Sokrates yang sangat tertarik pada kesederhanaan. Sampai sesudah kematian Sokrates, ia hidup di kalangan bangsawan sesama murid Sokrates dan tidak pernah menunjukan kekolotan sikap. Namun, sesuatu hal entah kekalahan Athena, atau kematian Sokrates, atau sudah muak dengan perbantahan filsafat yang berlarut-larut, sehingga menyebabkan dirinya memandang rendah segala sesuatu yang sebelumnya ia hargai (Russell, 1946:315).

Kaum sinis yang paling terkenal adalah Diogenes, Ia merupakan murid dari Antithenes. Ia memilih untuk hidup seperti anjing, dan karena itulah ia disebut sebagai seorang sinis (cynic) yang artinya "anjing". Dalam sebuah kisah ia pernah ditanya; hal apa saja yang telah ia lakukan sehingga orang memanggilnya anjing? Ia menjawab "aku mengibas-ngibaskan ekorku dihadapan orang yang memberiku sesuatu, menggongong didepan orang yang tidak memberiku apa-apa, dan membenamkan gigi-gigiku ke tubuh para bajingan".

Cerita tersebut memiliki makna yang implisit. Olehnya itu tidak bisa ditafsirkan secara gramatikal, melainkan diharuskan untuk menggunakan metode penafsiran lain seperti tafsir psikologi. 

Dr. Fachrudin Faiz dalam diskusi "Manusia Alternatif : Diogenes-Sinisme dan Kebebasan"  menjelaskan bahwa "aku mengibas-ngibaskan ekorku dihadapan orang memberiku sesuatu" memiliki makna aku akan berterima kasih kalau ada seseorang memberiku sesuatu atau membawa manfaat dalam hidupku, "menggonggong didepan orang yang tidak memberiku apa-apa" memiliki makna aku akan akan mengingatkan orang-orang yang tidak memberikan apa-apa, dan yang terakhir "membenamkan gigiku ketubuh para bajingan" memiliki makna aku akan menggigit orang-orang yang jahat atau orang-orang yang merusak.

Kaum sinis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terdapat dalam kelebihan lahiriah, seperti kemewahan, materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik. Kebahagiaan sejati
terletak pada ketidaktergantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang. Karena kebahagiaan tidak terletak pada keuntungan-keuntungan semacam ini.

Para penganut Sinisme adalah mereka yang merasa berkecukupan menjalani hidup sebagai manusia dengan kebutuhan Primer dan mengesampingkan kemewahan. Semua konvensi sosial, semisal pembedaan antara milikmu dan milikku, antara publik dan privat, antara telanjang dan berpakaian, antara mentah dan matang, semua itu tidak ada artinya.

Kelompok ini berpikir bahwa kebajikan adalah kebaikan tertinggi. Dan hakikatnya adalah pengendalian diri dan mandiri.
Kebahagiaan timbul dari berbuat penuh bijak, yang bagi mereka juga berarti menggunakan intiligensi bawaan seseorang untuk mempertahankan hidup. Menurut mereka menganut nilai-nilai yang tidak wajar (eksternal dan material), seperti kemashuran, kekayaan, keberhasilan, prestasi, kenikmatan, reputasi, tingkatan akademis, semuanya adalah condong pada ketidakbahagiaan.

Pada umumnya, kaum Sinis adalah orang-orang asketis, anti-nomian (melawan norma,
standar sosial, kebiasaan, tradisi, hukum masyarakat yang mapan), anti-intelektual, non-akademis, non-sistematis, dan individualistis. Mereka menolak kenikmatan, kemewahan, kemuliaan, hawa nafsu dan memuja kemiskinan (Yusro, , 2018: 106).

Walapun begitu Sinisme telah mengalami perubahan makna. Pada awalnya sinisme memiliki semangat untuk mencapai "keutamaan", yang mana menganggap keutamaan hanya dapat dicapai dengan cara menganggap barang-barang duniawi tak ada nilainya. Namun, sekarang orang menganggap sinisme sebagai pandangan atau pernyataan sikap yang mengejek atau memandang rendah.

Selain dari pada itu, sinisme dulu mengedepankan hidup sederhana, asketis, pengganggu kemapanan secara kritis, menggunakan retorika humor, lebih menekankan pada level perilaku, apa adanya, menyenangkan dan menghibur, sedangkan sinisme zaman sekarang, perilakunya immoral, egois, hipokrit, menggunakan retorika satire, lebih menekankan pada level konsep dan pemikiran, serius dan menyakitkan (Faiz, 2021).

Hubungannya Dengan Koruptor

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa koruptor adalah orang yang melakukan korupsi. Secara etimologi korupsi berasal dari bahasa Latin, corruptio atau corruptus yang berarti merusak, tidak jujur, dapat disuap. Korupsi juga mengandung arti kejahatan, kebusukan, tidak bermoral, dan kebejatan.

Dalam KBBI, korupsi berarti buruk, busuk, rusak, suka memakai barang (uang) yang dipercayakan padanya, dapat disogok (melalui kekuasaanya untuk kepentingan pribadi), penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan), untuk kepentingan pribadi atau orang lain.

Dr. Alfitra (2014) menjelaskan bahwa terdapat tiga sebab terjadinya korupsi, yaitu

1.  corruption by greed (keserakahan)

Korupsi ini terjadi pada orang yang sebenarnya tidak butuh, tidak mendesak secara ekonomi, bahkan mungkin sudah kaya. Kasus korupsi seperti ini banyak terjadi dikalangan pejabat tinggi dan penguasa.

2. corruptin by need (kebutuhan)

Korupsi yang dilakukan karena keterdesakan dalam pemenuhan kebutuhan. Kasus korupsi seperti ini banyak dilakukan oleh pegawai/karyawan kecil, polisi, tukang parkir, dan lain-lain.

3. corruption by chance (adanya peluang)

Korupsi ini dilakukan karena adanya peluang yang besar untuk melakukan korupsi, peluang untuk cepat kaya melalui jalan pintas, dan lain-lain.

Selain dari sebab yang telah disebutkan diatas, terdapat juga motivasi yang mendorong seseorang melakukan korupsi, yaitu motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Pada motivasi instrinsik yang dimaksud adalah dorongan adanya kepuasan yang ditimbulkan oleh tindakan korupsi, sedangkan pada motivasi ekstrinsik yang dimaksud adalah dorongan korupsi dari luar diri pelaku yang tidak menjadi bagian dari pelaku itu sendiri, seperti alasan ekonomi.

Penulis ingin menegaskan bahwa koruptor yang dimaksud dalam tulisan ini adalah koruptor seperti yang dijelaskan pada sebab awal (corruption by greed) yang sering dilakukan oleh pejabat tinggi dan penguasa. Jika dilihat dari segi kebutuhan sebenarnya mereka tidak membutuhkan karena tidak mendesak secara ekonomi, hanya saja demi memuaskan hasrat pribadi maka hal itu (korupsi) dilakukan.

Sang koruptor seraya tak peduli dengan hak-hak masyarakat kecil. Hal inilah yang membuat sehingga diogenes tidak mau terlibat dalam kehidupan sosial dan politik. Disampaikan oleh Sayyid Abidin Bozorgi dalam makalahnya "tarikhe falsafe garb" bahwa  Diogenes menghindari berbagai kehidupan sosial dan politik. Menurutnya, kehidupan sosial mengarahkan manusia pada perdebatan materi. Pada kehidupan politik, Diogenes memandang bahwa para pejabat telah mengambil hak-hak masyarakat kecil untuk memenuhi kepuasanya. Akibatnya masyarakat kecil saling menjatuhkan satu sama lain sebagai sikap memenuhi kebutuhan dan hak yang diambil oleh para pejabat.

Berbagai penjelasan diatas telah mengindikasikan bahwa korupsi adalah perbuatan buruk yang bersumber pada hasrat akan sesuatu yang sifatnya materi; mengagung-agungkan kekayaan dan sebagainya, sehingga berujung pada tindakan korupsi. Sinisme menawarkan jalan keluar agar kita terbebas dari korupsi, yaitu dengan cara hidup sederhana; menganggap barang-barang duniawi tak ada nilainya, sehingga kita bisa terlepas dari tindakan korupsi tersebut.

Referensi: 

1. Russel, Bertrand (2002). Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

2.Abd. Muid N (2018). Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta Selatan: Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran.

3. Dr. Alfitra, SH., MH. (2014). Modus Operandi Pidana Khusus di Luar KUHP. Jakarta: Raih Asa Sukses.

4. Media Koentji. "Manusia Alternatif : Diogenes-Sinisme dan Kebebasan". Youtube Video, 1.44.10. https://youtu.be/qyJA3VohJEA.

5. Zona nalar (2021, 31 agustus). Filsafat Anjing: Diskursus Filsafat Barat dan Isla. Diakses melalui https://www.instagram.com/p/CTLoGVOpTy8/?utm_medium=copy_link, 1 september 2021.

6. Wattimena, A.A Reza (2021). Tirani Konsep. https://rumahfilsafat.com/2014/11/09/tirani-konsep/ (diakses 01/09/21).