Sedih, sendiri, bingung. Siang hari di kala itu seorang wanita menatap kosong jalanan dari sebuah taman di tengah kota. Sejumlah teman satu kost membencinya. Bukan kali pertama, namun kejadian kali ini ada isu tak sedap, yang menyakitkan yang dibagikan ke seisi kantor. Ingin rasanya dia menyerah dan lari dari itu semua. Pulang ke kampung saja ada ibu yang selalu siap menerima dia apa adanya.

 "Ah, masak segini aja sih? Tuhan pasti belum selesai dengan hidupku".

Hanya keyakinan itu yang dia pegang dalam masa-masa sulit di waktu itu. Bekerja pertama kali sebagai karyawan di sebuah yayasan, jauh dari kampung halaman. Dia tidak ingin berhenti begitu saja, dia mau berjuang, membuktikan bahwa mereka semua salah. Membuktikan bahwa dia bisa.

Sebut saja namanya Tina. Wanita kelahiran Magelang itu salah satu dari banyak perempuan di dunia ini yang dianugerahi keterbatasan fisik. Kekurangan yang dimilikinya sejak umur 3 tahun akibat salah suntik mantri mengharuskan dia "menenteng" kreg, alat bantu jalan, kemana-mana. Padahal sebelumnya dia adalah anak yang sehat, normal, ceria, bebas berlarian ke sana kemari.

Kesalahan yang selalu disesali orang tuanya ketika bercerita tentang anak keduanya ini. Dengan ucapan permintaan maaf dan rasa "gelo, getun" tiap kali dia mengungkapkan penyesalan di hadapan anaknya. Ah seandainya waktu bisa berulang, seandainya dulu tidak aku suntikkan, seandainya aku merawatnya dengan lebih baik. Sesal orang tuanya penuh kesedihan meski itu terjadi 30an tahun yang lalu.

Kehidupan menjadi seorang difabel itu hampir sama dengan kehidupan manusia "normal" pada umumnya, ada susah senangnya. Namun terus terang memang lebih banyak sulitnya. Hanya untuk berjalan mondar-mandir sudah melelahkan. Kendala fisik memang hal utama yang menjadi tantangan dan halangan, hal ini juga yang jadi pertimbangan besar sebuah perusahaan dalam menerima seorang yang "berkekurangan" secara fisik.

Sebagai seorang sesama, alangkah baiknya kita berusaha memahami mereka. Sebenarnya apa sih yang kita bisa bantu buat kaum difabel? Apa yang mereka sukai, apa yang mereka tidak senang? Bagaimana seharusnya kita bersikap ketika melihat, berpapasan atau bertemu, berinteraksi dengan mereka?

Dimulai dari hal yang sangat sederhana. Tatapan. Pandangan kita terhadap mereka. Umumnya, ketika kita melihat seorang difabel lewat atau muncul di depan kita adalah melihatnya dengan seksama, seperti melihat hal yang aneh atau ganjil. Coba perhatikan ketika seorang anak kecil melihatnya. Menatapnya dari bawah ke atas ke bawah lagi seperti melihat sesuatu yang beda. Mata dan tatapan yang seolah-olah berkata, Ergh ... Entah mungkin dalam benak tiap orang akan berbeda. Coba jujur, kamu ketika melihat mereka, apa yang ada dalam pikiran kamu? Jelek, lusuh, ribet, menghalangi jalan atau adakah sedikit rasa kasihan?

Yang sebenarnya dia sangat benci adalah tatapan mata "minus" orang lain di sekitarnya ketika dia hadir. Cara memandang yang berlebihan dan tidak sopan. Ibarat artis, diliatin banyak orang, tapi ini dalam hal yang negatif.

Apa yang ada dalam benak difabel ketika diliatin seperti itu, setiap hari? "Ya aku memang aneh, berbeda, tidak cantik, tidak menarik, punya kekurangan yang dengan mudah menarik orang sekitar untuk menatapnya dengan mata sinis." Rasa minder, tidak percaya diri yang terus menerus setiap kali bertemu orang dengan tatapan yang sama. Berusahalah menghindari menatap dengan cara yang berbeda. Biasa saja, perlakukan tatapan matamu seperti melihat orang normal. Itu akan cukup membantu mereka lebih percaya diri dan tidak merasa “dihakimi” karena kekurangannya.

Hal yang kedua. Gercep. Sigaplah ketika melihat mereka di sekitar kamu. Di tempat umum, mereka adalah orang yang rentan butuh perhatian dan pertolongan. Naik turun tangga, menyeberang jalan, membawakan barang adalah beberapa hal yang kemungkinan mereka butuh bantuan. Dan tentu saja itu akan sangat menolong dan membahagiakan mereka. Naik turun tangga jika tidak ada pegangan, itu sangat melelahkan dan membahayakan. Membantunya dengan cepat sebagai pegangan akan meringankan jalannya. Memastikan tidak ada halangan di hadapan mereka akan melapangkan jalannya.

Hal yang terakhir, bertegursapalah. Ajak mereka ngobrol. Kenyataannya, sedikit orang yang mau berteman atau menerima mereka dengan segala keterbatasannya. Itu sudah sangat disadari sendiri oleh mereka. Penolakan yang sudah dimulai dengan sulitnya penerimaan akan dirinya sendiri. Rasa percaya diri yang rendah karena melihat keadaannya sendiri adalah sebuah penolakan yang membuat dirinya kian menutup diri dan berpikir orang lain juga akan menolak dirinya.

Dari berinisiatif mengajak mereka berbicara, tentu tak sopan dan tidak pas jika baru bertemu sudah membicarakan kekurangan mereka. Ajaklah ngobrol bebas hal apa saja di luar keadaan fisik mereka. Ajaklah berteman dan berjanji untuk bertemu lagi. Itu akan sangat menyentuh dan mereka sangat menghargai arti pertemanan.

Pengalaman saya ketika berjalan bersama mereka, hal yang sering dialami tentu saja seperti yang sudah saya sebutkan diatas, tatapan, lirikan mata orang-orang sekitar. Saya sering memberikan semangat gini, “anggap saja kamu itu artis, sehingga tiap kali kamu jalan ke mall, ke tempat makan, orang-orang sekitar pasti melihat, mengamati kamu”. 

Jika kamu memiliki pacar atau pasangan seorang difabel, gandenglah tangan pasanganmu dengan penuh kepercayaan diri dan kasih sayang. Biarkan orang-orang sekitar menatap curiga atau mengenyitkan dahi mereka. Jangan biarkan kebahagiaan pasanganmu diambil. 

***

Tulisan terinspirasi dari penuturan seorang difabel beserta orang tuanya, dan pengalaman hidup selama bertahun-tahun dengan seorang difabel

***