Wartawan
3 tahun lalu · 1206 view · 8 min baca menit baca · Saintek 70911_72646.jpg
Techno Okezone

Bagaimana Sebaiknya Meralat Pertanyaan "Apakah Manusia Berasal dari Kera?"

Tulisan ini sengaja saya buat setelah membaca esai Luthfi Assyaukanie dalam Seri Kajian Ramdhan yang berjudul Pentingnya Memahami Teori Evolusi

Terlepas dari kebingungan mengapa harus membahas teori evolusi di bulan yang ‘berat’ ini (di tengah banyaknya isu-isu sosial yang lebih menarik untuk dibahas), saya terpikat pada bagaimana cara Luthfi menerangkan alasan banyak orang menolak teori evolusi. Karena mereka tidak belajar evolusi dan memang tidak mau belajar. 

Sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi, pernyataan tersebut tentu bukan hal yang baru bagi saya. Terlebih, saat ini saya tengah menyelesaikan tugas akhir tentang materi pokok evolusi. 

Saat ingin mengajukan judul tugas akhir, awalnya saya ragu. Karena di Indonesia sudah begitu banyak buku-buku yang membahas tentang materi evolusi. Namun di satu sisi, seperti yang dikemukakan Luthfi, tidak sedikit guru biologi yang ragu pada teori evolusi dan menularkan keraguan tersebut kepada siswanya.

Saat saya sampaikan hal tersebut kepada dosen mata kuliah evolusi di kampus saya, jawabannya persis seperti apa yang dikatakan Luthfi. Lalu, dosen saya yang juga kerap disapa Luthfi itu menambahkan: tidak ada buku berbahasa Indonesia yang menjelaskan materi evolusi dengan baik dan benar. Sebagian besar yang dibahas bukan tentang evolusi, tapi pendapat mereka tentang teori evolusi. 

Dosen saya (baca: Pak Luthfi) itu memang tergolong orang yang keras dalam memaknai sains. Ia tidak terlalu suka pada orang-orang yang sok berbicara sains dengan cara yang salah. Istilah dia dulu, belajar tentang kadar alkohol dalam bir, tapi yang dibahas hukum meminum bir.

Sebuah kajian yang salah kaprah. Baginya, sains hanya untuk dan hanya memang bisa dipahami oleh orang-orang yang bergelut di bidang tersebut. Karena itu, saat saya viralkan tulisan Luthfi melalui pesan WhatsApp, dosen saya merespons ringan, “Bisa untuk wawasan.”

Saya pribadi setuju dengan prinsip kebanyakan saintis bertipe seperti dosen saya itu. Bahwa memang tidak elok sains dibicarakan oleh mereka yang tidak kompeten di bidang tersebut. Karena hanya akan melahirkan sebuah miskonsepsi dan salah kaprah yang berujung pada respons yang salah pula.

Namun, di sisi lain, haruskah kita menutup mata terhadap implikasi produk sains itu terhadap masyarakat awam? Haruskah salah kaprah itu dibiarkan berlarut-larut hingga pada akhirnya melahirkan kebudayaan pseudosains?

Telah nyata bahwa perbincangan tentang teori evolusi begitu menggemparkan banyak orang. Jangankan di Indonesia yang religiositas masyarakatnya tinggi, di Amerika Serikat bahkan pernah mengalami fase di mana pemerintahnya mengeluarkan kebijakan agar mencari sains alternatif untuk menandingin konsep evolusi.

Tentu saja bukan sains ilmiah yang ditempuh, namun hanya sebatas dogma yang berlandaskan kepercayaan atas Bibel. 

Lantas bagaimana dengan Indonesia dan negara-negara lain yang tingkat religiositasnya lebih tinggi? Itulah sebabnya, menurut hemat saya, bukan lagi saatnya para saintis lepas tangan terhadap implikasi produk sains bagi masyarakat awam.

Pada akhirnya, implikasi itu menentukan arah politik pendidikan bangsa ini. Gelombang penolakan yang demikian besarnya bisa saja memengaruhi desain kurikulum sebagai acuan transfer keilmuan di sekolah formal. Tentu saja tidak ada yang lebih menakutkan daripada (misalnya) bagaimana sejarah Partai Komunis Indonesia dikemas dalam buku-buku paket Sekolah Menengah di Indonesia.

Tugas berat para saintis adalah membetulkan paradigma berpikir masyarakat dalam memandang sains. Orang awam harus terbiasa dengan paradigma berpikir sains yang tidak memberi ruang kepada dogma agama sedikitpun. Bukan karena alasan politis, tapi memang beda kajian. 

Sains punya prinsip falsifikasi, tapi agama tidak. Sains bisa direvisi, ditambah, dikurangi. Tidak demikian dengan agama.

Tempatkan sesuatu pada tempatnya. Belajar sains ya dengan cara sains. Melakoni agama dengan cara bagaimana Tuhan memerintahkan. Memang jatuhnya menjadi liberal. 


Namun, untuk sementara, itu satu-satunya jalan keluar, di zaman yang masyarakatnya (tak peduli ia serang atheis atau religius) begitu mengagung-agungkan sains sebagai logosentrisme. 

Saintis tidak harus melulu mencari pertautan sains dengan dogma agama, adat, tradisi, dan kebudayaan. Tindakan yang lebih condong kepada ‘cocoklogi’ itu hanya akan melahirkan pseudosains. Bukan mencari benar, tapi mencari tenang. 

Lalu jika Anda ingin tenang, mengapa harus belajar? Anda cukup percaya dan ongkang-ongkang di warung kopi. Selesai perkara!

Apa Sebetulnya Perkara dalam Teori Evolusi?

Kembali lagi pada esai Luthfi berjudul ‘Pentingnya Memahami Teori Evolusi’. Ada satu pembahasan yang menurut hemat saya penting, namun belum selesai dibahas Luthfi, yaitu sebuah pertanyaan ‘Apakah manusia berasal dari kera?’. Itulah inti dari perkara konflik teori evolusi dengan agama.

Inti dari teori evolusi adalah menolak teori penciptaan.Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang diciptakan dan terlahir dalam bentuk yang paten seperti yang ada saat ini. Semua makhluk hidup berasal dan berevolusi dari moyangnya, termasuk manusia. 

Bukan hanya dalam biologi, dalam cabang fisika, kita juga mengenal teori kekekalan massa, yang menolak sejumlah massa bertambah dalam ruang tertentu. Yang artinya makhluk hidup dalam ruang jagat raya ini tidak mungkin ada dengan sendirinya, namun bertransformasi dalam bentuk menjadi bentuk lainnya. 

Namun, tidak ada satupun agama Ibrahim yang menjelaskan hal demikian. Tidak ada sedikitpun celah dalam agama untuk berdamai dengan konsep yang diajukan oleh teori evolusi. 

Jika saja sejak awal manusia tidak digolongkan ke dalam kelompok makhluk mamalia, mungkin perkara tidak seheboh seperti sekarang. Hewan dan tumbuhan, mungkin saja bisa diterima oleh kalangan agamawan muncul dengan konsep evolusi. 

Tapi jika manusia pun demikian, orang merasa derajatnya sebagai manusia langsung anjlok. Sudah menjadi kodratnya, manusia itu akan berang saat harkat martabatnya direndahkan. Banyak cara akan ditempuh untuk memulihkan kembali martabatnya.

Pertanyaan ‘apakah manusia berasal dari kera’ bagi saya adalah sebuah persoalan yang bikin pening. Bahkan hingga sekarang, saya masih belum menemukan cara yang tepat untuk menjawab jika nanti siswa saya bertanya demikian saat saya menjelaskan teori evolusi di kelas. 

Sebetulnya, masalah bukan pada jawaban, tapi pada pertanyaan yang keliru. Atau tidak tepat, atau sudah tidak layak dipertanyakan. 

‘Apakah manusia berasal dari kera’ adalah pertanyaan responsif yang diajukan oleh orang-orang yang kontra terhadap teori evolusi sejak pertama kali Charles Darwin menerbitkan On The Origin Of Species pada 1859. Sudah dua abad berlalu, dan pertanyaan itu masih saja eksis hingga sekarang. 

Penyebabnya ada dua. Pertama, memang sengaja dipelihara agar tetap eksis. Kedua, karena perkembangan sains di bidang evolusi tidak mencapai masyarakat awam dan juga guru-guru biologi yang berpikir awam. 

Saya tidak tertarik pada penyebab pertama. Biarlah itu menjadi urusan Anda yang kompeten di bidangnya. Tapi akan menyoroti penyebab kedua. 


Cobalah Anda bertanya pada seorang kenalan, apa yang diketahui tentang teori evolusi. Kurang lebih mereka akan menjawab, imuan: Charles Darwin, buku: On The Origin of Species, bukti-bukti: fosil tulang belulang manusia purba, mekanisme evolusi: seleksi alam, kesimpulan dan kontroversi: manusia itu berasal dari kera. 

Jika Anda memang tertarik dengan evolusi, cobalah meng-update informasi dan mengikuti perkembangan kajian evolusi biologi. Bacalah buku dan jurnal berkualitas yang memang membahas tentang evolusi sebagai sebuah kajian sains. Tidak cukup jika hanya Anda membaca perdebatan teori evolusi, yang hanya merupakan kajian sampingan dalam sains evolusi.

Anda akan terkejut begitu mengetahui bagaimana saat ini cabang ilmu evolusi sudah begitu pesatnya berkembang. Evolusi tidak hanya bisa dipahami dengan cara ‘berkhayal’, tapi sudah bisa dikalkulasikan dengan hitung-hitungan matematis. 

“Statistik dan biologi molekuler telah mengubah konsep evolusi yang abstrak menjadi dapat dikalkulasikan dan dianalisa secara kuantitatif,” kata David Burnie.

Dalam tingkatan mikroevolusi, saintis sudah terbiasa melakukan uji coba di laboratorium untuk membuktikan bahwa kehidupan ini memang mengalami sebuah evolusi. Di Inggris, ditemukan ngengat melanik yang kemudian diketahui muncul seiring dengan revolusi industri.

Bagaimanapun juga, teori evolusi yang ada saat ini sudah tidak lagi tergantung pada Seleksi Alam yang diajukan oleh Darwin dua abad silam. Perkembangan cabang-cabang keilmuan biologi lainnya seperti genetika, biologi molekuler, sistematika, dan anatomi histologi, telah memperjelas dan menambah bukti-bukti evolusi makhluk hidup.

Teori evolusi yang dipakai oleh para saintis saat ini disebut dengan teori sintesis moderen (the modern synthesis). Mengkaji evolusi biologi dengan perpaduan berbagai macam bidang keilmuan seperti genetika, biologi molekuler, sistematika, paleontologi, biogeografi, biokimia, dan lain-lain. 

Ilmuan berpengaruh dalam perkembangan kajian evolusi biologi diantaranya R.A Fisher, Theodosius Dobzhansky, J.B.S. Haldane, Ernst Mayr, G.G. Simpson, Richard Dawkins, D. J. Futuyma, dan masih banyak lagi. 

Buku-buku berkualitas tentang evolusi juga sudah begitu banyaknya, seperti evolutionary biology (Futuyma, 1998), the selfish gene (Dawkins, 1976), atau what evolution is (E. Mayr, 2001).  

Bukti-bukti evolusi pun sudah demikian banyaknya. Saat ini bukan lagi bergantung pada penemuan fosil untuk menjelaskan adanya evolusi makhluk hidup. Bidang Biologi molekuler, sistematika, dan antomi misalnya, berusaha menjelaskan bahwa makhluk hidup memiliki kekerabatan satu sama lain. 

Hingga saat ini, faktanya belum pernah ditemukan makhluk hidup yang memiliki susunan genetik, morfologi, dan fisiologi yang berbeda dengan makhluk hidup yang telah ada. 

Kita bahkan tidak bisa membedakan embrio manusia dengan makhluk hidup lainnya seperti ayam, ikan, dan kadal. Jika diamati struktur anatomi testis pada reptil (hewan berdarah dingin) berada di dalam rongga tubuh. Tapi pada makhluk hidup berdarah panas seperti mamalia, testis berada di luar rongga tubuh (di dalam scrotum).  

Jika diamati struktur anatomi testis pada mamalia, akan terlihat salah satu saluran testis menyangkut pada saluran ginjal atau ureter . Mirip seperti sebuah selang air yang nyantol pada paku setelah selesai digunakan. Hal tersebut menunjukan bahwa mamalia memiliki nenek moyang, yaitu reptil. 

Berbicara mekanisme evolusi, tidak lagi hanya seleksi alam penyebabnya. Seleksi alam hanya merupakan salah satu penyebab, atau lebih tepatnya faktor yang membuat evolusi menjadi paten di alam. 

Dalam sistesis modern, penyebab evolusi adalah penyimpangan gen, aliran gen, dan mutasi gen. Yang semua itu ada karena difasilitasi oleh variasi dan rekombinasi genetik yang dimiliki makhluk hidup. 


Bagaimana?

Anda merasa pusing dan asing dengan apa yang saya sebutkan di atas? Itulah mengapa evolusi biologi sangat sulit sekali dipahami. 

Pada tataran memaklumi konsep, memang bisa dilakukan dengan cara berkhayal sedikit nakal seperti yang dianjurkan Luthfi. Tapi pada tataran memahami konsep, diperlukan kerja keras dan kajian mendalam tentang berbagai cabang ilmu lainnya yang berkaitan dengan kajian evolusi biologi. 

Itulah sebabnya mengapa pertanyaan ‘apakah manusia berasal dari kera?’ sudah tidak relevan lagi diajukan dalam kajian sains, terutama evolusi. Perdebatan dalam evolusi bukan lagi bertanya apakah manusia berasal dari kera, tapi bagaimana bisa proses perubahan tersebut terjadi. 

Penelitian dalam cabang ilmu evolusi biologi belum berhenti hingga saat ini. Para saintis masih berdebat tentang kemungkinan-kemungkinan lainnya yang menjadi faktor mekanisme evolusi. 

Tapi untuk Anda yang kekeuh dan keberatan bahwa manusia memang berasal dari kera, saya mengalah deh. Memang manusia tidak berasal dari kera, tapi dari reptil yang dulunya amfibi, dulunya lagi ikan, protozoa, dan bakteri. Anggap saja tidak pernah ada kera dalam dunia ini. Perkara selesai. Anda tenang, saya senang.

Artikel Terkait