Sebentar lagi akan diadakan Pilkada serentak, pesta demokrasi lagi! Lihat, baliho sudah dipasang di tiap sudut kota. Media daring sudah sibuk menyiarkan soal para calon kepala daerah yang maju. 

Televisi pun meliput acara-acara penyampaian program kerja dan debat kandidat. Koran-koran juga memberitakan soal seluk-beluk calon pejabat yang ikut berkontestasi. Bahkan, kampanye terus berjalan meski masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

Tetapi jawaban teman saya itu membuat saya agak terkejut. "Who cares! Siapa peduli soal Pilgub atau apalah," katanya. Saya jadi berpikir, ternyata masih ada banyak orang yang abai soal politi dan tidak mau berpartisipasi. Bahkan, tidak jarang diantara mereka yang berakhir golput.

Lalu, bagaimana kalau banyak orang-orang abai soap politik? Bagaimana kalau sebagian besar masyarakat ini malah golput? Atau, kalau orang-orang pintar dan baik tidak ikut memilih dalam politik, apa yang terjadi bila bangsa ini nasibnya ditentukan oleh orang-orang awam dan kurang baik, yang gencar menggeluti politik praktis dan aktif melaksanakannya? 

Meskipun di tulisan-tulisan saya sebelumnya seakan-akan saya juga abai dan apatis soal politik dan demokrasi, tapi percayalah sebenarnya saya peduli dan terus memperhatikan tingkah politik negeri ini (bahkan luar negeri). Selain karena memang politik itu menarik, tentu karena politik juga secara langsung maupun tidak langsung akan sangat berpengaruh pada hidup kita.

Secara sadar atau tidak, karena politik-lah adanya program BPJS yang membantu menangung biaya rumah sakit yang sampai berjuta-juta itu. Atau, kalau bagi kami pasien cuci darah, biaya yang dibutuhkan bisa ratusan ribu per terapi selama dua kali seminggu dan seterusnya. 

Belum lagi suntik hormon dan obat-obatan rutin yang semuanya takkan bisa ditanggung oleh rakyat dengan ekonomi rendah. Tentu rakyat kecil seperti saya akan pusing kalau tiada program BPJS dari pemerintah ini.

Lihat juga bahan makanan dan minuman yang kita konsumsi tiap hari. Itu semua tidak lepas dari kebijakan politik. Harga beras, cabai, bawang, daging, minyak goreng, ikan, sayur, bumbu rempah, telur dan sebagainya, jelas dipengaruhi oleh bagaimana tata-kelola ekonomi dan pertanian yang keputusannya tentu beralada di tangan penguasa.

Kemudian lihat pula harga listrik dan air PDAM, tak lepas pula dari genggaman pemerintah. Naik turunnya ditentukan dengan berbagai pertimbangan.

Pengaruh harga bahan pokok dan listrik serta air sangat terasa bagi rakyat kecil dan industri UMKM. Misalnya, pernah saat saya mengelola restoran, naiknya harga bahan pokok, listrik dan air bisa memangkas lebih dari 50% profit dalam sebulan operasional. Bahkan, beberapa kali restoran kami tidak mendapat untung sama sekali demi menalangi kebutuhan pokok yang meroket.

Lalu nasib petani juga sangat dipengaruhi oleh harga hasil panen. Misal, harga bahan karet mentah dan CPO (minyak sawit), kebijakan ekspor-impor yang ditangani para pemimpin akan sangat mempengaruhi harga komoditas tersebut. 

Kalau harga stabil di atas setidaknya petani bisa tetap sejahtera. Kalau harga labil dan anjlok, petani bisa apa? Masalahnya sering kebijakan orang atas membuat harga komoditas tersebut anjlok di bulan-bulan tertentu.

Contoh paling sederhana dari pengaruh politik, yaitu saat pak Jokowi menaikkan harga BBM. Maka sebagai domino effect, biaya transportasi naik, karena memang transportasi sangat dipengaruhi oleh BBM. Kalau transportasi sudah naik, maka semua barang akan inflasi. 

Semua harga ikut naik, baik bahan pokok maupun bahan sekunder. Persis sama kalau BBM jenis premium dihapus, ya semua transportasi yang awalnya pakai BBM premium yang harganya murah, harus pindah ke pertalite yang lebih mahal. Sama saja dengan kebijakan menaikkan harga BBM.

Contoh lain pengaruh politik pada rakyat adalah adanya kebijakan pengesahan UU Ciptaker. Kebijakan ini tentu sangat berpengaruh untuk kalangan pekerja terutama para buruh. Setelah itu terjadi, barulah semua ingin gemuruh dan turun ke jalan meneriakkan kekesalan. Tapi semua itu hampir sia-sia. UU Ciptaker tetap berjalan.

Mau atau tidak, semua orang, baik kaya atau pun miskin, tua atau muda, perawan atau janda, cebong atau kampret, semua pasti terkena dampak politik. Politik itu lebih dahsyat dan lebih luas sebarannya daripada virus Covid-19 yang melanda bumi kita saat ini. 

Setiap orang, yang dalam hidupnya berinteraksi, bermuamalah, dan berhubungan dengan orang lain, maka ia akan kena dampak politik. Bahkan sampai urusan "kamar" pun bisa saja akan dipengaruhi perpolitikan negeri ini.

Jadi, marilah, eling dan sadari bahwa politik bukan hal paling tabu dan harus diabaikan. Tidak! Memang perpolitikan di Indonesia masih terasa carut-marut dan banyak kekurangan, tetapi tidak ada alasan bagi kita untuk selalu diam. 

Ayo, ikuti dan teliti gerakan politik dan berpartisipasi setidaknya dalam memilih calon pejabat, masalah pengaruh apa yang nanti akan terkena atau terdampak pada kita, kita serahkan pada Yang Kuasa. Setidaknya kita sudah memberikan yang terbaik dengan mengikuti jalannya politik yang ada serta menyuarakannya dalam Pilkada nanti.