Sejarah umat manusia bergerak dari tahap primitif hingga akhirnya mencapai pencerahannya dalam era modern. Era modern menawarkan sebuah kemajuan dalam berbagai lingkup kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. 

Ia melahirkan sebuah tatanan masyarakat modern dengan segala penggunaan teknologinya yang mempemudah kehidupan, dan menyajikan sebuah sudut pandang gemilang di masa depan. Sederhananya, modernitas adalah sebuah capaian gemilang umat manusia di dunia.

Kemajuan modernisasi telah melahirkan semacam opium baru dalam masyarakat modern; teknologi. Kelahiran teknologi tentu tidak lepas dari proses revolusi industri yang terus berjalan beriringan dengan sistem kapitalisme yang terus memperbaruhi diri dan meninggalkan cara-cara lama. 

Saya sendiri tidak mau larut dalam sebuah harapan akan majunya perkembangan teknologi yang menawarkan kegemilangan seperti apa yang selalu dipaparkan dalam seminar-seminar yang bertemakan ‘Revolusi Industri 4.0’. Mengapa ? jika tidak terlalu kasar saya mau menyebutkan bahwasanya salah satu sebab penindasan adalah modernitas yang sifatnya hegemonik.

Saya sendiri tidak mengklaim diri sebagai seorang pesimistik terhadap modernitas, tetapi lebih kepada menawarkan sebuah perspektif pencarahan untuk melawan hegemoni modernitas yang  sebagai anak kandung dari kapitalisme. 

Dalam hal ini, selain mengakui kehebatan modernitas, tetapi perlu juga menelanjangi modernitas dan selubung penindasannya. Maka dari itu perlu diuraikan terlebih dahulu bagaimana kondisi modernitas dan perkembangan kapitalisme hari ini. 

Pemikir-pemikir Mazhab Frankfurt dari Institut Penelitian Sosial Franfurt (Institut fur Sozialforschung) menyebutnya Spatkapitalismus atau Kapitalisme Maju.

Spatkapitalismus

Era hari ini adalah era dimana kapitalisme menyajikan sebuah penindasan yang coraknya samar, bukan frontal. Spatkapitalismus sendiri artinya adalah kapitalisme maju, dimana telah banyak digambarkan oleh pemikir-pemikir Mazhab Frankfurt dari generasi pertama; Adorno, Horkheimer, Marcuse, hingga generasi kedua Jurgen Habermas.

Era Kapitalisme Maju (Spatkapitalismus) sendiri ditandai dengan berubahnya corak kapitalisme liberal sejak era Marx ke Kapitalisme Monopolis hari ini. 

Di era kapitalisme dimana Marx berada, ekonomi bergerak secara otonom tanpa intervensi unsur eksternal sehingga menyajikan gerak atau corak penindasan yang frontal dengan diperbudaknya kelas pekerja demi menciptakan produk yang menghasilkan profit. Geraknya berulang sehingga penindasannya pun berulang.

Ini kemudian menjadi titik tolak dimana Jurgen Habermas melakukan diferensiasi kapitalisme era Marx dan era Spatkapitalismus. Dalam Kritik Ideologi (1991), Budi Hardiman menulis bahwa ada empat alasan mengapa Habermas merefleksikan kondisi kapitalisme hari ini yang berbeda dari kondisi dimana Marx berada. 

Pertama bahwa pemisahan Negara dan masyarakat yang menandai periodesasi kapitalisme liberal sudah tidak relevan lagi. Politik sebagai superstruktur tidak memungkinkan, dan masyarakat sendiri tidak dapat dipandang sebgai hubungan antara basis ekonomi dan superstruktur politis (Hardiman 1991: 89). 

Kedua, dalam kapitalisme lanjut, standar hidup sudah berkembang jauh sehingga tindakan revolusioner tidak lagi bisa dilaksanakan. Subjek revolusioner makin terintegrasi dalam sistem dan bentuk penindasan makin tersamar. Buruh terdepolitisasi sehingga perjuangan kelas tidak dapat lagi dijadikan dasar untuk perjuangan revolusioner. 

Keempat, Uni Soviet sebagai Negara sosialis, membunuh diskursus mengenai Marxisme dan membuatnya ortodoks hingga menjadikannya sebagai ideologi.

Perbedaan ini jelas menggambarkan suatu kondisi kapitalisme yang berbeda. Negara hadir untuk mengintervensi kapital bukan kearah sosialistik, melainkan kearah dimana kapital dapat berjalan dengan aman tanpa hambatan. Bak seorang tamu kehormatan yang datang dan akan dilayani sebaik mungkin. 

Upaya Negara dalam hal ini tentunya melakukan perancangan kembali regulasi agar supaya modal bisa hidup dan berkembang biak dengan nyaman.

Kolaborasi keduanya tentu melahirkan program-program humanis demi kesejahteraan layaknya Walfare Satate. Semisal subsidi, kredit, kenaikan upah, bantuan sosial, pendidikan murah, atau yang biasa diberikan korporasi semisal Corporate Social Responsibility (CSR) dan lain-lain. 

Sepintas ini memang hal yang layak, tetapi kelayakannya dan humanismenya berimplikasi pada tertanamnya hegemoni Negara dan kapital sehingga masyarakat tidak lagi kritis. 

Masyarakat terdepolitisasi sehingga menghilangkan kontrol efektif terhadap kekuasaan. Bahkan upaya-upaya kritisisme yang dibangun masyarakat merupakan hal yang tidak masuk akal dalam pandangan hari ini, sehingga mau atau tidak mau, ruang publik yang kritis tidak dapat lagi diciptakan. 

Media sebagai watch dog pun tidak dapat menunjukkan taringnnya, karena kadang kala sudah dibajak oleh kekuasaan dan lebih lanjut sudah berorientasi penuh pada profit sehingga memberitakan kesengsaraan masyarakat sebagai komoditas. 

Ini dapat kita lihat dalam program-program TV yang menampilkan orang miskin sebagai inti dengan sedikit di dramatisir sehingga menjadi komoditas hiburan menarik.

Dalam hal relasi kapitalis dengan tenaga pekerja dalam bidang ekonomi, sektor usaha dan serikat beruh telah terjadi kesepakatan-kesepakatan politik atau kompromi politik demi menentukan kenaikan upah. 

Dengan demikian, kondisi relasi kapitalisme dan kelas pekerja telah berubah. Pekerja berhasil melakukan kompromi demi sebuah kesejahtraan kelompok mereka.

Upaya perlawanan terhadap kekuasaan merupakan hal yang dianggap irasional hari ini. Peristiwa konkritnya dapat kita amati dari sifat sinisme kelompok masyarakat lain yang menganggap aksi massa untuk menuntut sesuatu adalah hal yang tidak layak karena kesejahteraan (kesejahteraan semu) yang telah diberikan penguasa. 

Penyakit ini menjangkit, bahkan pada kalangan mahasiswa sekalipun.

Masyarakat berada pada situasi yang totaliter, atau situasi ketidaksadaran total akibat samarnya penindasan di era kapitalisme maju hari ini, sehingga masyarakat seperti apa yang dikatakan Herbert Marcuse adalah Masyarakat Satu Dimensi.

Masyarakat Berdimensi Satu

Masyarakat satu dimensi tidak akan lepas dari pesatnya perkembangan teknologi hari ini. Dalam peradaban industri maju, rasio masyarakat tereduksi menjadi rasio teknis. Rasio teknis ini dapat dilacak dari pesatnya perkembangan teknologi. 

Perkembangan teknologi melahirkan rasionalisasi baru dalam masyarakat, yaitu Rasionalitas Teknologi. Lewat One Dimension Man (1964) Herbert Marcuse menjelaskan tentang bagaimana rasionalitas hari ini dipahami sebagai rasionalitas teknologi. 

Rasionalitas teknologi adalah pandangan yang menganggap bahwa suatu hal dipandang rasional apabila sejauh dapat dipergunakan secara teknis, dimanipulasi, dimanfaatkan, atau melalui kalkulasi matematis ekonomis.

Bagaimana teknologi sifatnya menjadi politis sebagai dominasi dijelaskan Marcuse bahwa dewasan ini, dominasi mengekalkan dan memperluas dirinya sendiri bukan saja melalui teknologi tetapi juga sebagai teknologi. Dan ini memberikan legitimasi yang besar dalam memperluas kekuasaan politis, yang menyerap semua bidang kebudayaan (H. Marcuse 1964: 239).

Berikut Budi Hardiman menambahkan bahwa: para penguasa dapat mempertahankan kekuasaannya sejauh mereka sukses memobilisasi, mengorganisasi dan mengeksploitasi produktivitas secara mekanis, teknis dan ilmiah bagi kebudayaan industri. Proses mesin dan organisasi teknis menjadi kenyataan politis, dalam arti bahwa seluruh bidang kehidupan diteknologisasikan menjadi sistem birokrasi yang total (Hardiman 1991: 75).

Kontrol teknologis atas masyarakat modern tidak diketahui secara sadar, mereka senantiasa menganggap situasi sedang bersahabat. Masyarakat satu dimensi menunjukkan wataknya dalam kehidupan sehari-hari yaitu menunjukan bahwasanya masyarakat tersebut terbuka dan bebas. 

Dalam bidang ekonomi, pesatnya kemajuan industri telah membuka jalan bagi masyarakat untuk dapat menikmati apa saja sesuai hatinya. Industri terus menerus melahirkan sebuah inovasi dan secara otomatis membuat masyarakat menjadi konsumtif akibat terbuai dengan segala produk industri. 

Maka juga selubung penindasan dalam modernitas adalah sifat konsumerisme yang dilahirkan industri atau kapital.

Dalam bidang politik, masyarakat menunjukkan kebebasannya dalam berbagai sarana demokratis misalnya mimbar bebas, pers, berkumpul, dan beroposisi. Tetapi kebebasan menurut Marcuse dapat menjadi sarana dominasi yang kuat.

Kebebasan protes dan beroposisi dapat diredam dan dimanipulasi dengan mudah dalam masyarakat modern. Sistem teknologi yang telah terancang sedemikian rupa dapat menjadi alat untuk menstabilkan sistem. 

Segala bentuk prostes dan oposisi dapat dialihkan dan ditundukkan dengan mudah bukan dalam bentuk konfrontasi langsung, tetapi memanipulasi kebutuhan. Yaitu menjadikan protes dan oposisi sebagai komoditas hiburan yang menarik dan bersensasi. 

Dengan demikian, masyarakat dicegah untuk kritis terhadap sistem, perlawanan terhadap sistem menjadi lelucon akbiat rasionalitas teknologi. Melawan sistem tidak dapat dimungkinkan karena kontrol teknologis yang mengikat dan menundukkan. Kekuatan perlawanan malah melanggengkan sistem yang ada dan membela status quo.

Sistem kontrol teknologis sudah tersaji sedemikian rapi melalui produksi dan konsumsi yang manipulatif. Kebutuhan untuk melakukan perubahan sosial atau perubahan kualitatif tidak dimungkinkan bukan hanya karena dominasi yang total, tetapi juga karena bertentangan dengan rasionalitas hari ini yaitu rasionalitas teknologis.

Masyarakat modern dibuat hanyut untuk mengikuti, membela, bahkan memperkokoh sistem yang ada.

Hilangnya negasi terhadap sistem teknologis itu melingkupi seluruh bidang dalam masyarakat, baik dalam bidang sosial, politik, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan filsafat. Dengan demikian makin jelas apa yang dimaksud Marcuse bahwa masyarakat hari adalah masyarakat satu dimensi.

Krisis Dalam Kapitalisme Maju?

Sebuah pertanyaan mendasar yaitu akan kah terjadi krisis dalam kapitalisme maju? Habermas menjawab dengan argument kondisional “ya” atau “tidak”. Dalam kapitalisme maju, krisis yang dapat dimungkinkan adalah suatu krisis legitimasi akibat ketidakmampuan proses administrasi untuk mengatur sistem ekonomi.

McCarthy menulis bahwa proses administratif siklus krisis ekonomi memunculkan serangkaian kecenderungan krisis, yang dari sudut pandang genetis, menampilkan suatu hierarki fenomena krisis yang berlangsung dari atas ke bawah (McCarthy 1982: 471).

Seperti yang telah disinggung diatas, kecenderungan krisis bergerak secara Top-Down akibat tidak berhasilnya aparatus Negara mengelola sistem. Lebih lanjut ini akan berakibat pada disintegrasi sosial dan menjadi krisis identitas.

Disintegrasi sosial ini dapat dilacak dari apa yang dikatakan Habermas sebagai “krisis rasionalitas” dalam kapitalisme lanjut. Krisis rasionalitas adalah suatu krisis dimana kehancuran kinerja penentu (integrasi sistem) mengarah pada keruntuhan integrasi sosial (McCarthy 1982: 477). 

Dengan begitu, krisis rasionalitas dapat juga diartikan sebagai suatu krisis yang muncul ketika alat-alat Negara tidak dapat lagi mengendalikan sistem ekonomi secara baik. Akibat disorganisasional ini berimplikasi lebih lanjut kepada ditariknya legitimasi pada kekuasaan yang menjurus pada ancaman integrasi sosial. 

Dengan demikian terjadilah suatu krisis legitimasi akibat kekecewaan yang dapat mengancam sistem. Krisis legitimasi dapat menjadi krisis identitas, yaitu terjadi akumulasi orang-orang yang kecewa kemudian itu adalah suatu ancaman langsung bagi integrasi sosial.

Krisis legitimasi diatas diakibatkan dari kolaborasi sistem politik dan sistem Negara. Kolaborasi keduanya senantiasa meminta sebuah legitimasi agar prosesnya berjalan baik. Habermas menulis bahwa perpaduan sistem ekonomi dengan sistem politik menyebabkan kebutuhan akan legitimasi semakin meningkat. 

Aparatur Negara, sebagaimana dalam kapitalisme liberal, tidak lagi hanya mengamankan berbagai syarat umum bagi keberlangsungan produksi, namun terlibat aktif dudalamnya (dikutip dlam McCarthy: 1982: 480).

Jadi, situasi konkret yang akan terjadi nantinya adalah pencarian legitimasi terus menerus agar supaya proses produksi dapat terus berjalan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa upaya-upaya kritisisme dalam ruang demokrasi merupakan hal yang harus dihindari karena dapat mengancam proses produksi dan hilangnnya legitimasi. 

Keberhasilan-keberhasilan negara untuk merepresi kritisisme itu akhirnya membuat krisis dalam kapitalisme lanjut sulit terjadi. Demokrasi terancam demi proses ekonomi. Perisis seperti kondisi aktual di Indonesia hari ini dengan logika Economic Developmentalism yang telah mengancam demokrasi.

Upaya Emansipasi

Sedemikian kompleks nya sistem dan penindasan dalam era modern hari ini membuat kita bertanya-tanya, bagaimana keluar dari pelukan manis modernitas yang menindas ?. 

Menawarkan cara-cara untuk bisa keluar dari situasi semacam itu sangat sulit. Tetapi setidaknya refleksi diri kritis yang coba digagas Habermas bisa menjadi perhatian.

Habermas menawarkan sebuah alternatif untuk keluar dari segala dominasi yaitu refleksi diri kritis. Habermas dalam Knowledge and Human Interest (1971) mengatakan “Refleksi diri adalah intuisi sekaligus emansipasi, pemahaman sekaligus pembebasan dari dogmatisme” (Dikutip dalam Hardiman 1991: 187). 

Habermas mencoba menawarkan jalan keluar dari kesadaran palsu atau dogmatisme akibat sistem yang menindas lewat kemampuan rasio untuk melakukan refleksi diri, dan refleksi diri adalah upaya pemberontakan untuk keluar dari kungkunngan dominasi. Maka refleksi diri secara kritispun diartikan sebagai upaya emansipatoris.

Dalam refleksi diri kritis, kita adalah ego yang berusaha keluar untuk menjumpai kesadaran. Kita menjumpai suatu pemahaman baru atas diri kita, dan akibat kesadaran baru itu kita merubah kehidupan kita. 

Dengan demikian tindakan merubah kehidupan menjadi tindakan emansipatoris dan merupakan perwujudan praxis. Tetapi sebelum ia menjadi perwujudan praxis, ego harus mempunyai kepentingan dalam otonominya. 

Seperti yang dijalaskan Thomas McCarty dalam Critical Theory Of Jurgen Habermas (1982) bahwa untuk sampai ke sudut pandang tersebut, ego harus memiliki kepentingan dalam otonominya sendiri, suatu kehendak untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap hal-hal disekitarnya (McCarty 1982: 99).

Tindakan refleksi diri kritis dan penggunaan rasio bertujuan untuk menghancurkan pemahaman yang keliru akan sesuatu dan keluar dari dogmatisme atau kondisi hegemoni sehingga geraknya adalah gerak emansipasi. 

Tentunya harus dipahami bahwa emansipasi menurut Habermas adalah tindakan interaktif yang sifatnya konsensual dan intersubjektif atau tindakan komunikatif yang bertujuan untuk mencapai konsensus rasional. 

Untuk mencapai konsensus rasional, tindakan komunikasi yang dibangun adalah tindakan komunikasi tanpa distorsi.

Kepentingan emansipatoris yang juga merupakan refleksi diri kritis akan menemukan jalannya dalam paraxis sosial. Praxis sosial sebagaimana diartikan habermas adalah interaksi simbolis tanpa terdistorsi sehingga melahirkan sebuah komunikasi yang genuine yang sifatnya mutual understanding.

Sejak awal Habermas memang mencita-citakan suatu kondisi ideal dalam berkomunikasi, yaitu komunikasi yang tidak terdistorsi dan bebas dominasi. 

Komunikasi yang terdistorsi ditandai dengan munculnya niat untuk melakukan dusta atau upaya-upaya manipulasi yang dilakukan subjek yang berkomunikasi. 

Sedangkan komunikasi atau dialog bebas dominasi adalah proses dialog yang terbebas dari selubung-selubung ideologis dalam berbagai hal. Komunikasi ini merupakan teori diskursus habermas yang tidak semuanya saya singgung.

Petanyannya, akan kah diskursus bebas dominasi merupakan praxis sosial untuk keluar dari kondisi penindasan terselubung di era modern hari ini ? Habermas menjawab upaya diskursusnya adalah upaya yang memakai logika Trial and Eror. 

Refleksi diri secara kritis dan melakukan diskursus bebas dari dominasi sebagai upaya emansipasi manusia dari penindasan adalah sebuah tawaran yang coba dikemukakan oleh Habermas. Sehingga teori dengan maksud praxis dapat terwujud sebagaimana cita-cita teori kritis Mazhab Frankfurt. 

Dengan demikian Habermas dianggap sebagai pembaharu teori kritis dari generasi pertama yang menemui kebuntuhan.

Referensi

  • F. Budi Hardiman. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Kanisius 2009, Yogyakarta.
  • Herbert Marcuse. Manusia Satu Dimensi. Narasi-Pustaka Promothea 2016. Yogyakarta
  • Thomas McCarty. Teori Kritis Jurgen Habermas. Wacana Kreasi 2019. Yogyakarta.