Persoalan limbah sampah menjadi permasalahan klasik di tengah masyarakat. Baik sampah organik maupun anorganik. Berbagai pihak telah mencoba banyak cara dalam menanganinya. Salah satu cara yang dianggap cukup ideal adalah adanya Bank Sampah di setiap desa yang dinaungi oleh Bank Sampah Induk. 

Selain tujuan utamanya mengolah limbah sampah, terdapat pula sisi keuntungan finansial bagi nasabah Bank Sampah. Secara tidak langsung, digadang-gadang mempunyai misi pemberdayaan ekonomi mikro rumah tangga di setiap desa. Tujuan mulia inilah yang mendasari jika terdapat Bank Sampah di sebuah Kabupaten dapat digunakan sebagai nilai plus untuk ajang Adipura dan ajang lain yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup.

Penulis terinspirasi dari Bank Sampah Ampelgading, Malang, Jawa Timur. Penulis mencoba memulai pengalaman di Bank Sampah Welas Asih Kelurahan Sari Bungamas Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Bank Sampah didirikan tahun 2014 lalu vakum hingga tahun 2017. Pada tahun 2017 November, Penulis meminta izin ke kelurahan untuk membentuk kepengurusan Bank Sampah Welas Asih. 

Pengurus Bank Sampah diambil dari Kelompok PKK dan orang-orang yang mempunyai hasrat di Bank Sampah. Setelah terbentuk tim, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten dengan sangat antusias mengirim perwakilan Bank Sampah Induk untuk memberikan edukasi manajemen Bank Sampah. Dari DLH dan Bank Sampah Induk kami diberikan daftar harga Sampah anorganik dan buku rekening untuk nasabah.

Persoalan terbesar dari Bank Sampah adalah banyak yang hanya seumur jagung. Disebabkan oleh tidak solidnya pengelola Bank Sampah. Menyamakan presepsi, visi dan misi sangatlah penting. Untuk apa Bank Sampah itu didirikan? Apakah hanya untuk perut pribadi, golongan atau untuk masyarakat?

Tentu, Bank Sampah yang hanya untuk pribadi dan golongan bukanlah bentuk Bank Sampah yang ideal. Bank Sampah ada untuk masyarakat, segala keuntungannya untuk masyarakat dan harus tepat sasaran yakni ekonomi rumah tangga dan menjaga lingkungan.

Beberapa waktu lalu di sebuah warung kopi, seorang teman mengutarakan hendak mendirikan Bank Sampah dengan skema setiap rumah tangga membayar Rp20.000 agar sampah rumah tangganya dapat dikelola oleh Bank Sampah. Bank Sampah memberdayakan tenaga karang taruna untuk menjemput sampah di rumah nasabah.

Dalih yang diusung hasil dari pengelolaan Bank Sampah akan langsung didistribusikan berupa alat-alat olahraga, pembangunan wisata desa, dan hal-hal yang bisa dinikmati oleh khalayak umum, baik nasabah ataupun bukan.

Tujuan tersebut boleh saja, namun itu adalah langkah besar yang tidak banyak Bank Sampah bisa lakukan. Hanya Bank Sampah yang benar-benar solid yang mampu melakukan. Tentu dengan kesadaran masyarakat yang tinggi sebab operasional Bank Sampah berdasarkan pembayaran dari masyarakat.

Pada praktik yang telah kami lakukan dan cukup untuk mengundang masyarakat tertarik, justru masyarakatlah yang dibayar. Masyarakat diposisikan sebagai subjek bukan objek atas pengelolaan sampah rumah tangga. Keterlibatan mereka dalam memilih dan memilah sampah di rumah masing-masing adalah program lanjutan dari sosialisai Bank Sampah di Forum kelompok PKK, Posyandu atau Majlis Ta'lim.

Sampah yang dimaksud adalah sampah anorganik. Berupa sampah plastik, selain kantong keresek, bungkus makanan dan plastik-plastik yang tidak ada di daftar harga penjualan. Kertas dan sejenisnya, besi, alumunium, kuningan, tembaga dan botol-botol kaca. Oleh karena itu formulir daftar harga sangat diperlukan.

Supaya Bank Sampah unit dapat keuntungan yang lumayan, perlu adanya seleksi harga baik dari Bank Sampah Induk dan tengkulak barang rongsokan di wilayah tersebut. Biasanya, setiap pengepul memiliki daya beli barang yang berbeda-beda. Sebagai contoh, pengepul A unggul di pembelian sampah jenis plastik, pengepul B unggul di pembelian sampah jenis kertas, dan seterusnya. 

Oleh sebab itu, idealnya Bank Sampah harus memiliki gudang yang besar untuk pemilahan yang dilakukan oleh pengelola Bank Sampah. Pemilahan kedua ini berfungsi untuk pengelompokan klasifikasi sampah berdasarkan jenisnya. Kala itu kami dipinjami gudang oleh kelurahan.

Bank Sampah tidak perlu buka setiap hari, bisa dioperasikan di akhir pekan. Dari jam 08.00-14.00 WIB. Nasabah membawa buku tabungan dan sampah anorganik ke Bank Sampah secara sendiri-sendiri pada hari sabtu dan minggu. Untuk sampah yang tidak memungkinkan untuk dibawa, maka akan dijemput ke rumah nasabah dengan bentor.

Barulah setiap tri wulan, Nasabah dapat menikmati hasilnya. Sebab targetnya hanya sekitar desa, butuh estimasi tiga bulan untuk mengumpulkan sampah. Setelah itu nasabah diberi pilihan untuk mengambil tabungan atau tetap menabungnya.

Sistem bagi hasil diterapkan dalam Bank Sampah. Besaran hasil jual 80%diberikan kepada Nasabah, 15% untuk pengelola dan operasional, dan 5% untuk lain-lain. Dalam konsep Bank Sampah, Nasabah harus mendapatkan lebih banyak. Jangan sampai Nasabah sebagai partner tidak mendapatkan apa-apa dengan dalih edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat.

Ada sebuah slogan, “isilah perut dulu baru bicara yang lain”. Jika kita mau bicara pemberdayaan ataupun hal yang serupa, kenyangilah dulu perutnya, jangan sampai kelaparan sebab hanya memakan konsep dan konsep.

Kini, Bank Sampah Welas Asih telah mendapatkan bantuan cukup besar dari DLH Kabupaten berupa bentor, gudang, kerja sama dengan banyak pihak, dan keunggulan Bank Sampah adalah diperacaya untuk mengambil lelang barang. Walaupun pengelola hanya mendapatkan 15%, namun keuntungan lain bisa didapatkan berkali-kali lipat hasil dari kerja sama banyak pihak.