Terkadang, kita terlalu sering berbicara perihal persatuan tetapi hal fundamental lain jelas jelas dilupakan yakni memiliki akhlak yang beradab.

Sebulan pasca pemilihan pemimpin desa di tempat Andi tinggal yakni di Desa Ambal Warsa, ternyata sedang mengalami perpecahan. Sebenarnya perpecahan yang sedang terjadi sudah bisa tercium jauh-jauh hari bahkan ber bulan-bulan sebelum pemilihan dilaksanakan. Tepatnya isu perpecahan itu mulai tercium saat masa para calon sedang Turba (Turun Kebawah) jika dalam bahasa gaul nya yakni kampanye. 

Masing-masing menunjukkan janji, visi-misi nya masing-masing yang mereka gunakan sebagai ajang personal branding agar masyarakat di desa berbondong-bondong memilih salah satu dari mereka. Ketika itu terjadi, ekosistem di Desa Ambal Warsa memanas.

Katmaji dan Eko yang sama-sama maju menjadi bakal calon pemimpin desa di masa khidmah yang akan datang. Mereka sama-sama memiliki basis kekuatan pendukung yang sangat militant satu sama lain. Fanatik buta, mungkin itu bahasa yang paling tepat untuk menyebut kedua pendukung mereka. 

Katmaji, sebagai calon petahana adalah calon yang memiliki background yang bagus. Disamping kinerja nya selama masa khidmah sebelumnya yang cukup memuaskan, poin plus lain nya adalah ia berasal dari latar belakang pesantren.

Ya, Katmaji adalah seorang Gus (Panggilan untuk anak seorang Kyai). Katmaji  adalah anak dari Kyai Hasan seorang Kyai sekaligus guru besar bagi masyarakat sekitar di Desa Ambal Warsa.  Nyaris tidak ada suatu permasalahan mengenai desa selama masa kepemimpinan Katmaji. Malahan, dalam periode masa kepemimpinan nya yang lalu, 

Katmaji sering mendapatkan pujian dari masyarakat lantaran banyak terobosan dan kebijakan baru yang dinilai sangat menguntungkan dan baik bagi masyarakat.

Salah satu contohnya, selalu mengadakan rutinan istighosah dan pembacaan yasin dan tahlil tiap malam jumat, menggalangkan kerja bakti untuk membersihkan desa rutin setiap dua minggu sekali. Sontak, dalam masa kepemimpinan nya, Desa Ambal Warsa terlihat lebih disiplin, bersih, dan lebih rapi. Jika dilihat sisi kekurangan nya, 

Ya mungkin ada, tapi itu hanya masalah-masalah internal seperti akses jalan yang rusak. Namun, sebenar nya itu juga bukan tanggung jawab pemimpin desa sebenar nya karena anggaran dan kewenangan untuk memperbaiki dan mempercantik jalan adalah kewenangan dan hak dari seorang bupati.

Sementara itu, calon kandidat lawan daripada Katmaji yakni Eko pada pemilihan calon pemimpin desa tahun ini, dia adalah salah satu orang yang terkenal tajir melintir di desa ini. Ia amat dikenal oleh banyak masyarakat sebagai juragan atau CEO daripada seluruh pabrik tempe yang ada di desa Ambal Warsa. Ia termasuk keluarga konglomerat.

 Bisnis nya telah banyak berdiri pada hampir seluruh kota di provinsi tersebut. Relasi yang dia miliki juga tak main-main, dimulai dari relasi sesama pebisnis daerah, nasional, bahkan manca Negara. Tak jarang di kediaman Eko seringkali kedatangan tamu dengan wajah-wajah bervariasi.

Bisa dibilang, Eko ini jika dilihat segi bisnis nya sudah mencapai taraf internasional walaupun usaha-usaha yang didirikan nya tidak terlalu besar akan tetapi usaha ini telah berkembang dan berdiri dimana-mana. Mungkin, rekan bisnis dari Eko ini mungkin sudah mencakup kelas elon musk, eric thohir, dan Sandiaga Uno sebagai salah satu nya.

Pada inti nya, core of the core nya, Eko adalah orang yang sangat berada dan kaya raya. Namun sayangnya, jalan yang Eko tempuh untuk struggle mendapatkan tempat utama sebagai pemimpin desa bisa dibilang “Kotor”. Ia menggunakan kampanye dan slogan-slogan yang mengkambing hitamkan lawan bahkan cenderung melakukan black campaign. Eko menggunakan kampanye hitam itu untuk mendapatkan voice dan kepercayaan masyarakat.

Menyebarkan kabar yang selalu ber narasi kan negatif terhadap lawan politik nya padahal, belum tentu kabar atau narasi tersebut benar ada nya.

“Sampai sekarang bahkan nanti sekali pun aku tidak akan terima jika Eko yang terpilih” ujar Shodiq.

“Gausah jauh-jauh kamu ya diq, aku saja yang melihat poster dan gambar-gambar wajah dari Eko yang banyak terpampang di baliho-baliho yang masih berdiri tinggi disana aku pun merasa pingin muntah dan jijik melihat nya” timpal Basor.

“Aku heran banget, kenapa kok bisa ada orang model macam dia gitu ya? Dan kenapa kok masih banyak orang yang mau memilih dia”

“HAHA, Yak arena apalagi? Apalagi kalo bukan hasil dari black campaign dengan memfitnah Katmaji dengan narasi narasi negatif yang belum tentu terbukti”

“Lha ya makanya”

Siang itu, Andi hanya bisa menyimak keresahan dari Basor dan Shodiq. Taka da sepatah kata pun yang bisa keluar dari mulut nya. Bukan bermaksud apatis dan tidak peduli, Andi justru masih memendam luka yang perih perihal permasalahan yang terjadi di desa nya.

 Ia sangat teramat resah karena selama proses kampanye sampai pada detik dimana Eko telah ditetapkan sebagai pimpinan, isi nya hanya adu domba dan kebencian. Andi sebenar nya sangat ingin kalau kasaran nya membabat habis segala yang ia pendam selama ini yakni menyelesaikan permasalahan di desa nya itu.

Ia sebenarnya ingin menyelesaikan masalah itu, tapi ia bingung entah bagaimana caranya. Akhirnya, tak ada cara lain selain meminta solusi kepada seorang yang ia anggap sebagai sosok yang pantas untuk dimintai solusi yakni Mas Ahmad.

Mas Ahmad sendiri adalah seorang guru bagi Andi, tak hanya seorang guru, Mas Ahmad juga merangkap sebagai kakak plus teman berbicara. Menurut Andi, Mas Ahmad memiliki kemampuan untuk selalu mengkongkretkan segala persoalan-persoalan hidup yang ada dalam kehidupan Andi.

Malam telah semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul Sembilan lebih empat puluh menit. Seperti biasa, Andi yang sedari tadi memiliki sesuatu yang mengganjal dihati nya sudah menunggu Mas Ahmad di sebuah gubuk kecil samping warung penjual gorengan di belakang sebuah pesantren untuk menyampaikan uneg-uneg nya sekaligus untuk berdiskusi. 

Khusus mala mini sedikit agak berbeda. Andi tidak ditemani sahabat nya yakni Acit. Sebab, Acit sedang tidak enak badan dan ketika Andi menjemput nya dirumah Acit sudah tidur.

Jadi malam ini, diskusi terjadi hanya berdua yakni Andi dan Mas Ahmad. Sambil menunggu Mas Ahmad tiba, Andi mengeluarkan sebungkus rokok dari saku nya. Perlahan, dia merobek bungkus depan rokok yang baru ia beli sebelum menuju gubuk untuk berdiskusi dengan Mas Ahmad. Diambil nya satu batang rokok untuk disebat nya sembari menunggu guru nya tersebut. Tak lama kemudian yang dtunggu-tunggu akhir nya datang.

“Ngopi dulu ndi” ujar Mas Ahmad ketika datang sembari memberikan se cangkir kopi untuk Andi

“Iya mas, terima kasih”

“Rokok apa itu?”

“Rokok Surya mas”

“Satu pack 12 ribu?’

“Iya mas kurang lebih sekitar segitu, monggo mas kalau mau mencoba ini rokok legend andalan saya HEHE” ujar Andi sambil terkekeh

Mas Ahmad kemudian mengambil satu batang rokok itu dan menyedot nya

“Mas, menurut njenengan apakah politik itu penting?”

“Tergantung”

“Tergantung apanya mas?”

“Tergantung substansi dan orientasi nya”

“Maksudnya gimana tuh mas?”

“Politik itu penting, asalkan substansi dan orientasi nya tertuju pada hal-hal baik memperjuangkan hak-hak rakyat, atau melindungi kewajiban dan tanggung jawab nya agar bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Contoh lain nya menjaga segala peraturan agar jangan sampai dilanggar atau bahkan dikelola oleh orang-orang yang salah yang hanya mementingkan golongan nya sendiri dan menempatkan urusan pribadi diatas kepentingan orang lain”.

“Tapi mas, sekarang realita nya para politikus tidak seperti itu mas, malah melenceng jauh terlebih dari sisi substansi”

“Maksud saya mereka menggunakan politik sebagai alat untuk memperlancar hasrat pribadi dan juga golongan nya. Nah, berarti kan mas politik seperti ini sudah tidak baik untuk diikuti?”

“Hehehe” Mas Ahmad tertawa tipis

“Bukan begitu cara berfikir nya ndi”

“Terus bagaimana mas?”

“Jadi gini ndi, politik itu sebenar nya bagus itu tidak akan  bisa kita pungkiri. Kita semua butuh dengan yang nama nya politik bahkan kalau kamu tau dulu baginda nabi Muhammad juga termasuk politikus yang sangat ulung. Meskipun kita tau dalam Quran dan hadis tidak dijelaskan spesifik tentang bagaimana konsep politik yang beliau terapkan”.

“Tetapi, kita masih bisa melihat nilai-nilai positif dalam konsep politik beliau. Bisa kita lihat dalam Piagam Madinah. Piagam Madinah bisa kita ambil sebuah pelajaran bagaimana Baginda Nabi Muhammad berdiplomasi dan melakukan kerja sama yang adil dan tidak merugikan salah satu pihak. Jadi, kalau kita ambil inti nya Politik itu bagus yang membikin itu jadi buruk adalah oknum nya, orang-orang yang menjalankan nya”.

“OOO gitu ya mas”

“Ada apa ndi? Tumben sekali kamu Tanya-tanya tentang politik? Mau nyalon jadi politikus?”

“Oh ndak mas, gimana mau jadi politikus, orang saya aja ndak pernah sekalipun ikut organisasi”

“Nah, terus ada apa?”.

“Masak iya hanya gara-gara politik dan sebuah jabatan bisa membuat masyarakat jadi terpecah begitu hebatnya?”

“Oalah begitu,” sembari mengambil satu punting rokok di saku nya dan mulai untuk menyulut rokok itu dengan korek api.

“Nah iya mas, itu bagaimana?”.

“Gini, sekarang gini, apa yang sebenar nya ingin kamu harapkan dari permasalahan ini?”

“Kalau saya mas, inti nya ingin masyarakat jadi damai kembali seperti semula sebelum ada nya masalah ini masyarakat yang guyub, rukun tanpa memandang ada dimana pilihan politik mereka, yak an kalau mau mengganti pemimpin desa juga ndak mungkin karena sudah secara resmi ditetapkan”>

“Kalau seperti itu harus nya sih gampang ndi”

“Bagaimana mas?”

“Masih hafal pancasila kan?”

“Ya hafal lah mas”

“Sila yng membahas tentang persatuan itu ada pada sila berapa”?

“Ketiga mas”

“Nah, pancasila saja sebenar nya sudah lebih dari cukup untuk menjadi tolak ukur bagaimana situasi politik dan kebijakan pemerintahan berjalan”

“Gimana maksud nya mas?”

“Gini, Pancasila itu kan saling berkesinambungan dari sila satu sampai lima, nilai-nilai hirearki nya saling bersambung sinambung. Jika kamu berharap sila ketiga bisa diterapkan pada kasus ini maka kamu juga harus bisa memastikan jika sila satu, dua, empat dan lima juga sudah berjalan dengan baik”

Andi termenung, sembari menatap wajah mas Ahmad yang sedang menyulut rokok nya seakan ia benar-benar telah menerima wejangan yang sangat dalam

“Sekarang gini ndi, apakah sila kedua sudah dilaksanakan dengan baik? Perihal keadilan dan keberadaban? Jika aku mendengar ceritamu tadi sepertinya sila kedua juga belum bisa diterapkan dengan baik karena hanya karena kasus perebutan jabatan pimpinan kepala desa saja sudah ndak karu-karuan begitu apalagi dengan kampanye nya yang amoral itu” Andi masih menatap dalam-dalam Mas Ahmad mencerna pelan-pelan maksud penjelasan dari Mas Ahmad.

“Jadi sebelum kita mengharapkan kemanusiaan yang beradab, persatuan, dan kebijaksanaan hingga keadilan sosial hal yang paling fundamental yang harus kita lakukan adalah sila pertama yakni Percaya dan iman kepada tuhan.

 Jika iman kita sudah beres, sudah barang tentu akan tercermin akhlak yang baik, jika sudah punya akhlak yang bagus, maka akan dengan mudah mewujudkan persatuan, jika sudah bersatu akan lebih mudah untuk membuat suatu keputusan yang memihak masyarakat. Nah, jika semua itu sudah berjalan dengan baik maka keadilan akan dapat dirasa oleh seluruh elemen masyarakat bahkan termasuk kita ndi”.

“Oh begitu ya mas”

“Iya ndi, mulai sekarang kamu harus memiliki kedaulatan sendiri dalam menganalisis realita yang ada di desamu, jangan sekali kali pernah percaya sama orang yang menggembar gemborkan keadilan dan persatuan jika orang itu sendiri moral nya masih ndak karu-karuan semua itu bullshit” terang Mas Ahmad

Andi masih terus menyimak apa yang dijelaskn oleh Mas Ahmad, bahkan sangking khusyuk nya, Andi tak menyadari jika punting rokok nya terjatuh tepat pada sarung nya seketika Andi menghempaskan sarung nya dengan sangat keras. Tanpa disadari sangking keras nya hempasan sarung andi tadi sampai menyenggol cangkir kopi yang tinggal sedikit itu hingga jatuh dan pecah

“Sarung mu ndak ada akhlak ndi ekekek” Mas Ahmad terkekeh