Mukadimah atau pendahuluan dalam sebuah tulisan ilmiah biasanya berisi tentang alasan atau latar belakang penulis memaparkan karyanya. Tulisan akan menjadi menarik manakala penulis mampu mengajak pembaca untuk menyelami kedalaman persoalan dan argumentasi serta latar belakang sebuah karya. 

Sebagaimana kebutuhan skill berbicara di depan publik di awal pembukaan untuk menarik perhatian audiens, mukadimah juga merupakan momentum penting dari sebuah karya dalam menarik minat pembaca.

Kiai Sholeh Darat sebagai ulama Nusantara yang produktif telah menghasilkan banyak karya. Kitab-kitabnya tidak hanya berupa ringkasan dari pemikiran ulama abad pertengahan semacam Imam al-Ghazali, melainkan juga syarah (penjelasan) dan ulasan seputar persoalan agama dalam masyarakat di mana ia hidup. 

Bayangkan saja jika beliau hidup di era digital yang serba instan ini, berapa ribu tweet, status, dan caption yang bisa beliau hasilkan?

Namun tentu itu bukan pengandaian yang tepat. Setiap zaman memiliki peluang dan tantangannya masing-masing. Sebuah produk sejarah semisal karya ulama masa lampau selalu memiliki hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari segi apa pun. Termasuk mengorek kembali bagaimana ulama prolifik sekaliber kiai Sholeh Darat ini menuliskan mukadimah kitabnya.

Dalam mengawali tulisan di (hampir) setiap karyanya, kiai Sholeh Darat memiliki style yang bisa dibilang unik dan khas. Saya mencoba untuk merangkum style ini sebagai pembelajaran bagi kita para santri. 

Selain menjelaskan kenapa sebuah karyanya wajib dibaca, ada beberapa hal yang selalu beliau tuliskan dalam setiap pembuka karyanya, di antaranya:

1. Alasan penggunaan bahasa Jawa

Kiai Sholeh Darat merupakan ulama yang melakukan vernakularisasi – proses menjelaskan Islam dengan bahasa lokal – dalam strategi dakwahnya. Dakwah bil qolam kiai Sholeh Darat mewujud dalam karya-karyanya yang berbahasa Jawa pegon. 

Dalam pembuka kitab-kitabnya, ia selalu menjelaskan bahwa ditulisnya kitab yang ia karang dengan menggunakan bahasa Jawa dikarenakan sasaran pembaca utama kitab-kitab kiai Sholeh Darat adalah masyarakat awam. Penggunaan bahasa Jawa juga menandaskan bahwa dalam lanskap kebudayaan, tidak ada unggul-unggulan antara budaya satu dengan yang lain. Termasuk tidak ada sebuah bahasa yang  dianggap lebih unggul dibanding dengan bahasa yang lain. 

Kebudayaan, sebagaimana menurut Gusdur, memiliki keunggulannya masing-masing dan tidak kompatibel untuk saling dipertentangkan. Titik tekan kiai Sholeh Darat bahwa yang lebih unggul, yang lebih mulia ialah mereka orang-orang yang bertakwa.

2. Menulis sebagai jawaban atas permohonan dari para ulama

Tidak hanya di era belakangan ini tampaknya “tradisi” call for paper di kalangan intelektual muslim berlangsung. Di era kiai Sholeh Darat, permohonan menuliskan sebuah kitab juga terjadi. Baik berupa terjemah, syarah, dan tema-tema keagamaan tertentu. 

Kiai Sholeh Darat, dalam beberapa karyanya, mengawali penjelasan tentang alasan penulisan kitabnya dikarenakan faktor permintaan dari ulama-ulama yang merupakan sahabat kiai Sholeh Darat. Sebagaimana saat kiai Sholeh Darat menuliskan permulaan kitab Minhaj al-Atqiya’:

kerono muwafaqoti kersane ba’dhul ikhwan fillahi warosulihi ingkang demen ngaji kitab matan al-madzkur ingkang podo nyuprih marang ingsun moko serihne koyo mengkono moko dadi istikhoroh ingsun marang Allah subhanahu wa ta’ala lan serto nuwun izin ingsun marang mualife moko oleh isyaroh ingsun kelawan isyaroh bil idzni.”

3. Menulis setelah ber-istikhoroh

Hal lain yang menarik dari kiai Sholeh Darat ialah saat ia menuliskan kitab syarah atau terjemah. Ia selalu memaparkan bahwa ia telah mendapatkan legitimasi dan izin dari pengarang kitab yang akan ia tulis syarahnya. Izin dari pengarang kitab biasanya diperoleh melalui mimpi setelah melakukan istikhoroh.

Sikap semacam ini mungkin sudah jarang ditemukan pada diri penulis-penulis cum intelektual muslim saat ini. Para peneliti yang hendak mengkaji sebuah pemikiran seorang tokoh atau ulama, misalnya, belum tentu melakukan apa yang dilakukan kiai Sholeh. 

Pendekatan ‘irfani menjadi pembuka bagi ulama seperti kiai Sholeh untuk membedah dan menafsirkan sebuah kitab. Pendekatan yang sering digunakan oleh para sufi ini menunjukan bahwa corak keilmuan yang sufistik ini mewarnai pemikiran kiai Sholeh Darat.

4. Bersikap tawadhu’

Sebagaimana karakteristik ulama tasawuf pada umumnya, akhlak menjadi dasar setiap tindakan. Tidak terkecuali kiai Sholeh Darat. 

Dalam pembuka setiap kitabnya, beliau selalu menuturkan bahwa tulisan beliau hanya sekadar mengutip dari apa-apa yang telah disampaikan para ulama sufi. Jikalaupun ada sebuah kekeliruan, tentu itu karena kesalahpahamannya sendiri. Bahkan kiai Sholeh Darat tak sungkan jika pembaca menemukan kekeliruan untuk mengoreksi dan mentakwilinya di pinggir kitab.

Selain itu, kepada para pembaca, beliau meminta untuk tidak mengejek dan menghinanya. Karena beliau telah terlebih dahulu meyakini kebodohannya sendiri. Bahkan beliau mengaku orang yang tidak mengetahui ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu alat lainnya. 

Adapun beliau berani menulis sebuah kitab, jelasnya, dikarenakan kerinduan dan cintanya yang besar kepada ulama dan para wali. Sehingga kelak dapat dipertemukan dengan mereka di hari akhir.

Secara umum, di setiap mukadimahnya, ada beberapa hal yang selalu ditonjolkan oleh kiai Sholeh Darat. Pertama, ialah akhlak penulis (kerendah hatian), kedua, kebermanfaatan dan tulisan yang tepat sasaran (obyek yang jelas), ketiga, kecintaannya pada para ulama dan wali, dan terakhir, memasuki dimensi spiritual-sufistik sebelum memulai tulisan (beristikhoroh).

Menulis bagi kiai Sholeh Darat dimasukkan dalam kerangka tashnif al-‘ilm al-nafi’. Beliau terobsesi dengan produktivitas Imam al-Ghazali yang hidup dengan usia 55 tahun tapi mampu melahirkan banyak karangan. Imam al-Ghazali, baginya, merupakan pimpinan para pengarang (sayyid al-mushonnifin).

Hanya dari mukadimah dalam karya-karya ulama seperti kiai Sholeh Darat kita dapat menggali ilmu dan teladan yang cukup banyak. Gaya tulisannya, adab ketimurannya, serta kedalaman spiritualnya memancar dalam setiap karya-karyanya. Tentu akan menjadi lebih kaya pengetahuan jika kita teruskan dengan mengkaji karya-karya mereka lebih mendalam.