Manusia hakikatnya adalah binatang; kita saling berbagi ruang dengan binatang lain yang, pada dasarnya, memiliki banyak kesamaan dengan kita, salah satunya: perasaan.

Namun, terlepas dari kesamaan tersebut, kita nyaris tidak pernah memperlakukan binatang sebagaimana kita memperlakukan manusia lain. Sebaliknya, sepanjang sejarah, kita menyiksa mereka, menjadikan mereka sebagai bahan eksperimen, menggunakan bulu dan kulit mereka sebagai penghangat dan busana, menjadikan mereka sebagai alat transportasi, memaksa mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, dan bahkan menjadikan mereka sebagai bahan hiburan dan taruhan.

Apa yang membuat perbedaan antara bagaimana kita memperlakukan manusia dan bagaimana cara kita memperlakukan binatang? Dalam etika, perbuatan dan bagaimana cara kita melihat sesuatu tidak terlepas dari “nilai” yang kita punya.

Para filsuf berpendapat bahwa hanya makhluk rasional saja yang memiliki “nilai” sehingga membuatnya pantas menjadi objek moral. Karena binatang tidak memilikinya, maka mereka dianggap tidak layak menjadi objek moral. Mereka percaya bahwa binatang tidak memiliki apa yang disebut sebagai kedudukan moral (moral standing).

Ide sentral mengenai moral biasanya berpusat pada asumsi bahwa manusia memiliki nilai dan keunikan yang membuatnya berbeda dengan makhluk lain. Nilai inilah yang membuat manusia berbeda dan penting. Sejak abad ke-18, setidaknya ada dua tradisi filsafat yang mendominasi pandangan manusia tentang moral; Utilitarianisme dan Kantianisme. Kedua aliran ini sangat berbeda dalam memahami nilai manusia.

Utilitarianisme

Utilitarianisme adalah aliran yang juga dikenal sebagai "konsekuensialis." Kaum Utilitarian percaya bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan (atau kebijakan) itu tergantung pada hasil yang ditimbulkannya. Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang dapat membawa konsekuensi atau hasil yang baik. 

Maka hasil yang baik adalah hasil yang dapat menciptakan kebahagiaan. Olehnya, untuk mencapai hal tersebut, kita mesti memikirkan orang lain yang akan terdampak oleh perbuatan kita.

Kelompok ini melihat bahwa nilai seseorang atau makhluk terletak pada perasaan mereka yang dapat merasakan kenikmatan, kebahagiaan, dan rasa sakit. Perasaan-perasaan tersebut dapat diukur dengan melihat dua masalah: durasi dan intensitas nilai. John Stuart Mill, dalam bukunya “Utilitarianism” (buku ini telah dialih-bahasakan dengan judul yang sama oleh Penerbit Basa Basi) menambahkan masalah ketiga, yaitu kualitas nilai, di mana kita dapat mengetahui efek yang ditimbulkan oleh kenikmatan atau kebahagiaan.

Olehnya, dalam perspektif Utilitarian, menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah tergantung pada bagaimana kita mengukur kebahagiaan dan rasa sakit yang disebabkan oleh perbuatan kita dengan cara: 1) Mempertimbangkan intensitasnya (seberapa tinggi kesenangan yang dihasilkan); 2) melihat durasinya (berapa lama kesenangan itu dirasakan); 3) Melihat kualitasnya (mengetahui efek yang ditimbulkannya atau melihat seberapa banyak kebaikan yang dihasilkannya).

Dalam pandangan ini, apa yang membuat suatu kehidupan bernilai adalah esensi kehidupannya yang diisi oleh perasaan-perasaan tertentu. Sebut saja, manusia dan binatang sama-sama bernilai atau memiliki kedudukan moral karena keduanya sama-sama merasakan kenikmatan, kepuasan, frustrasi, dan rasa sakit.

Namun demikian, meskipun di satu sisi Utilitarian menganggap nilai manusia dan binatang setara, di sisi lain mereka juga beranggapan bahwa manusia, dalam kondisi tertentu, lebih penting dan harus diutamakan daripada binatang. Sebagai contoh:

Coba bayangkan Anda dihadapkan pada suatu keputusan di mana Anda harus memilih antara mencambuk seekor anjing atau mencambuk manusia di tempat umum (argumen ini mulanya diperkenalkan oleh Peter Singer dalam makalahnya yang berjudul "Killing Humans and Killing Animals" pada tahun 1979.)

Dalam kasus di atas, bagi Utilitarian, cambuk lebih menyakiti manusia daripada anjing. Karena, bagi Utilitarian, manusia memiliki dua aspek, yaitu fisik dan psikis: cambuk tidak hanya akan menyakiti manusia secara fisik, namun juga secara psikis karena manusia yang dicambuk akan merasa dipermalukan di depan umum. 

Ditambah lagi, sebab lain mengapa cambuk lebih menyakiti manusia karena manusia tidak terbiasa dengan penderitaan fisik jika dibandingkan dengan binatang. Olehnya, kita mungkin bisa meminimalisir nilai dari rasa sakit dengan mencambuk anjing tersebut daripada manusia.

Ini memberikan kita pandangan baru bahwa ‘semakin peka seseorang akan perasaannya, semakin penting lah dia’. Yang mana dalam kasus di atas kepekaan manusia dipandang jauh lebih besar daripada anjing sehingga membuatnya lebih penting dan utama, meskipun menurut Utilitarian, sebagaimana yang telah saya uraikan di awal: manusia dan binatang sama pentingnya.

Mungkin banyak dari kita yang mendapati masalah yang cukup prinsip dari pandangan di atas yang terlalu menitikberatkan nilai sesuatu pada perasaan-perasaan. Seolah Utilitarianisme menganggap manusia dan binatang, sebenarnya, tidak penting. Sebaliknya, hanya sesuatu yang memiliki nilai seperti kebahagiaan dan rasa sakit lah yang penting. Artinya, manusia dan binatang bukan lah apa-apa tanpa perasaan-perasaan tersebut: kita penting karena hidup kita berisi kesenangan dan rasa sakit. 

Tidak heran filsuf Tom Regan menganggap manusia dan binatang tidak lebih dari sekadar "wadah" dari nilai yang mereka punya: Bukankah piring tidak ada artinya tanpa makanan di atasnya?

Kantianisme

Pandangan Utilitarian tentang nilai manusia di atas kontras dengan pandangan Kant. Kant berkata:

"...Segala sesuatu memiliki harga, atau martabat. Apa yang memiliki harga akan dapat diganti dengan sesuatu yang lain, sebagai alternatifnya; sedangkan apa yang ditinggikan di atas harga apa pun, dan olehnya tidak lagi setara dan dapat diganti, memiliki martabat."

Dalam perspektif Kant, setiap orang memiliki nilai khusus yang dia sebut dengan "martabat" atau "kehormatan.” Sebuah nilai yang tidak dapat digantikan oleh hal apapun. Gagasan utama Kant mengenai moral adalah: kehidupan setiap makhluk penting karena itu penting bagi makhluk itu sendiri.

Jika menurut Utilitarian manusia dan binatang memiliki nilai karena mereka dapat merasakan kebahagiaan, kenikmatan, rasa sakit, dan penderitaan, maka sebaliknya, dalam pandangan Kant, bukan perasaan-perasaan tersebut yang memberikan suatu makhluk nilai, justru manusia dan (mungkin) binatang lah yang memang sejak awal bernilai dengan sendirinya. 

Di sini Kant meluruskan, bahwa manusia bukan lah "wadah" nilai, sebaliknya, mereka adalah sumber nilai absolut dan moral itu sendiri.

Selain itu, menurut Kant, nilai yang dimiliki oleh setiap makhluk bersifat non-komparatif, yang artinya: nilai tersebut tidak dapat digantikan dengan apapun. Tentu ada alasan mengapa Kant berpendapat seperti itu. Menurut pandangan ini: kesenangan dan kepuasanku, hidupku, baik karena mereka baik bagiku, dan hidupmu baik karena itu baik bagimu. Apa yang baik karena itu baik untukmu tentu tidak dapat menggantikan apa yang baik karena itu baik untukku.

Jadi menurut Kant, masing-masing dari kita memiliki nilai non-komparatif ini yang membuat posisi dan keberadaan kita, secara moral, penting. Namun, di sini ada implikasi serius dari pemikirannya, bahwa apa yang memberikan kita nilai (martabat atau kehormatan) adalah prinsip moral. Olehnya, hal apapun yang bertentangan dengan moralitas adalah salah.

Menurut Kant, hukum moral lah yang menentukan nilai dari sesuatu. Dalam pengertian lain, moralitas membatasi hak kita memaksa orang lain untuk mempertimbangkan dan memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita anggap baik bagi kita, karena Kant percaya bahwa se-istimewa apapun Anda, moralitas harus menjadi landasan utamanya.

Namun terlepas dari itu, di satu sisi saya bersepakat dengan cara bagaimana Utilitarian melihat prospek moral secara umum dan juga saya bersepakat dengan gagasan Kant bahwa nilai setiap orang itu berharga dan tak tergantikan dan kehidupan setiap binatang itu penting, karena itu penting bagi binatang itu.

Jadi, sampai di sini, meskipun kedua teori moral di atas memiliki alasan yang berlawanan mengenai “mengapa manusia dan hewan memiliki nilai” dan “apa itu nilai,” namun, sejauh ini, kita dapat menyimpulkan bahwa dua teori moral tersebut sama-sama mengarah pada kesimpulan bahwa manusia, dalam pengertian tertentu, tidak memiliki nilai yang lebih daripada binatang, singkat kata: manusia tidak lebih penting daripada binatang. 

Karena, mempertimbangkan gagasan Kant, bahwa kehidupan setiap makhluk itu penting, unik dan tak tergantikan, karena itu penting dan unik bagi makhluk itu sendiri.