I

Di umurnya yang ke-26 tahun, Andries Teeuw melintasi benua Eropa menuju Asia, dari Holland ke Indonesia. Ia datang sendirian, meski dengan dana pemerintah. Dia ambisius, tapi tentu bukan hanya itu yang membuatnya besar.

Teeuw adalah kritikus sastra, meskipun tak suka disebut begitu. Sebagai filolog, objek kajiannya luas dan melintasi batas geografis: Belanda dan Indonesia. Karenanya, ia tahu betul tentang sastra Indonesia, kendati, menurut Sapardi Djoko Damono, Teuuw cenderung hati-hati. Tidak serampangan.

Goenawan Mohammad (GM), dalam Catatan Pinggirnya berjudul Teeuw (1921-2012), bilang, “Waktu itu seseorang seakan-akan ‘dibaptis’ setelah dibahas Teeuw.”

Tak ada yang meragukan keseriusan Teeuw perihal sastra. Teeuw perlu dipelajari sebagai bagian dari sastra kita, meski kerap dilupakan di zaman banalitas komunikasi kini.

II

Meskipun Teeuw adalah seorang Belanda, dia tetap menjadi rujukan sastra Indonesia di masa awal kemerdekaan. Sedikit getir melihat apresiasi generasi kini pada tokoh sastra seperti Teeuw tidak lebih banyak daripada penulis populer.

Tentu saja itu tidak sepenuhnya bermasalah. Sementara kita mengapresiasi tulisan populer atau sastra mutakhir, produk sastra zaman dulu pun patut dirawat.

Iran, misalnya, adalah salah satu negeri yang paling kuat tradisinya terkait apresiasi dan perawatan atas karya sasstra.

Merujuk Afifah Ahmad dalam catatan perjalanannya berjudul Road to Persia, Iran menjadikan beberapa pemakaman penyair sebagai ruang terbuka untuk aktivitas sastra dan kepenyairan. Sebut saja makam Hafiz Shirazi.

Hafiz Shirazi adalah penyair terkemuka di Iran. Makamnya terletak di sebelah utara Kota Shiraz. Pusaraya berada dalam sebuah kompleks taman yang megah. Di dalam kompleks taman tersebut, berdiri museum, perpustakaan, pusat riset, dan kedai teh. Beberapa ruang kelas digunakan untuk diskusi sastra.

Di kompleks pemakaman Hafiz, berdiri museum, perpustakaan, pusat riset, dan kedai teh. Beberapa ruang kelas digunakan untuk diskusi sastra.

Apresiasi dan perawatan sastra dan kepenyairan tentu tak hanya ditunjang dengan pendirian kompleks pemakaman dan segala ruangnya. Masyarakat Iran juga turut andil dalam merawat ingatan sastra dan kepenyairan di masa lampau.

Hafiz meninggal tujuh abad yang lalu, tapi puisi-puisinya terus dilantunkan oleh masyarakat Iran. Afifah Ahmad, ketika berkunjung ke pemakaman Hafiz, melihat pengunjung-pengunjung membaca syair Hafiz di tepi makam. Tidak hanya itu, kumpulan puisi Hafiz yang berjudul Dican HafizI hampir terdapat di setiap rumah.

Divan Hafiz sering digunakan sebagai petunjuk. Bila seseorang sedang ragu mengambil keputusan, ia akan membuka buku Divan Hafiz secara acak lantas menjadikan syair yang ditemukan tersebut sebagai petunjuk.  

Divan Hafiz adalah penyair sekaligus pahlawan bagi masyarakat yang punya penghargaan lebih atas sastra.

III

Setelah melihat perbandingan apresiasi antara Teeuw dan Hafiz, tentu kita juga perlu bertanya, mengapa apresiasi atas puisi diperlukan?

Puisi bisa menjadi ruang paling terang atau gelap bagi seseorang menyampaikan sesuatu. Bisa sangat mudah atau malah sulit dipahami. Sebab, bagi saya, puisi selalu berusaha menembus batas-batas logika bahasa yang acap kali justru mengekang ekspresi dan emosi seseorang.

Karenanya, usaha apresasi puisi membantu kita untuk memahami atau berempati terhadap psikologi individu dan sosial yang paling dalam. Artinya, memahami puisi tidak hanya bertujuan untuk berempati pada individu yang menulis puisi, tapi juga psikologi masyarakat yang juga ikut membentuk kepribadian penulis. 

Kita memang bisa membaca sejarah untuk mengetahui kondisi psikologi individu atau sosial masyarakat tertentu. Kita bisa membedah alam pikiran seseorang dan masyarakat menggunakan alat analisis tertentu dan rasionalitas.

Namun, persoalan yang kerap terjadi di masyarakat kita kini adalah keringnya cara pandang kita terhadap masyarakat atau orang lain. Kita melihat orang lain dalam bingkai-bingkai rasionalitas. Kita mengobjektifikasinya.

Padahal, masyarakat atau setiap individu punya cara pandang dan narasi sendiri yang terbentuk dari dinamika kehidupannya. Tidak cukup untuk memandang dan memahami orang lain, kita pun perlu menghayati dan mengilhami narasi tersebut.

Ada banyak cara untuk menghayati narasi itu. Mengapresiasi puisi sebagai ekspresi jiwa, saya pikir, patut dicoba untuk menghayati narasi seseorang dan lingkungan sosialnya tanpa terjebak objektifikasi dan bingkai rasionalitas.

IV

Hafiz Shizari bukan satu-satunya penyair yang makamnya menjadi korpus terbuka. Riwayat dan karya Saadi, Attar, Khayyam, Rumi, dan penyair beken Iran yang lain kerap didokumentasikan dalam kompleks pemakamannya. Bangunan megah berdiri hampir di atas semua pemakaman penyair terkemuka.

Warga Iran pun menghidupinya. Selain menziarahi ulama dan mullah, mengambil berkah di pemakaman penyair juga menjadi tradisi di Iran. Iran dan sastra bagai dua entitas yang tak dapat dipisah.

Pemimpin Revolusi Iran Khomeini pun menulis puisiSaya percaya tradisi apresiasi puisi sebagai penghayatan narasi individu dan sosial menjadikan Iran negara yang bermartabat hingga kini.

Terhitung sejak 1979, ketika revolusi pecah, Iran tetap berdiri tegak. Berbeda dengan gelombang musim semi Arab yang menyapu Timur Tengah. Beberapa dari negara yang terdampak musim semi itu kini kembali sengsara di bawah kungkungan rezim masing-masing.

Mungkin dugaan saya salah. Mungkin puisi tidak berperan segitunya. Tapi membayangkan makam Teeuw, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan sebagainya berdiri megah seperti sastrawan Iran tentu bukan ide yang buruk.