Pada umumnya, manusia itu, kata Syekh Muhammad al-Ghazali, seorang dai ternama asal Mesir, bisa mencintai sesuatu karena dua hal: Satu, keagungan (al-‘Azhamah). Dua, keindahan (al-Jamâl). Tumbuhnya rasa cinta memang seringkali berawal dari dua hal itu, atau dari hal-hal yang terkait dengan dua hal itu.

Kalau suatu ketika kita menyaksikan satu kreasi yang megah, dahsyat, teliti, rapi, dan didisain sedemikian istimewa, biasanya perlahan-lahan akan muncul rasa kagum dalam diri kita terhadap sosok yang ada di balik kreasi itu.

Begitu juga halnya kalau kita melihat satu kreasi yang memiliki pesona dan keindahan. Ketertarikan, kekaguman, ketakjuban, dan keterpesonaan yang mendalam terhadap sesuatu yang indah nan agung itu biasanya berakhir dengan perasaan cinta. Cinta seringkali bermula dari hal-hal semacam itu.  

Dalam kehidupan sehari-hari, rasa cinta itu juga kadangkala muncul dari keindahan yang kita lihat dari perbuatan seseorang. Misalnya kalau suatu waktu kita hidup sengsara sebatangkara, lalu tiba-tiba ada orang yang dengan rela hati meringankan beban hidup Anda, tanpa mengharapkan imbalan dan balasan, dan hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang, biasanya, perlahan tapi pasti kecintaan terhadap orang itu akan muncul dengan sendirinya di dalam diri kita.

Rasa cinta itu pada gilirannya akan melahirkan satu dorongan kuat dalam diri kita untuk berterima kasih atas apa yang sudah kita terima dari dia. Dan rasa terima kasih itu bisa diekspresikan dengan berbagai macam cara. Sekarang kita, sebagai manusia, sudah menyaksikan sekaligus merasakan keindahan perbuatan Tuhan itu berhari-hari, setiap detik, dan setiap saat.

Anda bisa saja menolak adanya campur tangan Tuhan di balik itu. Tapi, dengan keluasan rahmat-Nya, pengingkaran Anda itu tidak menghalangi-Nya untuk tetap memberi Anda nikmat. Nikmat yang kita terima sudah tak terhingga. Tapi dosa yang kita lakukanpun tidak Tuhan balas seketika kita berbuat dosa. Bukankah itu mencerminkan suatu keindahan yang layak mengundang rasa kagum dan cinta?  

Nah, cara pandang seperti ini penting untuk kita tularkan kepada anak-anak kita. Kalau kita berharap anak didik kita mencintai Tuhan, tanamkanlah keyakinan bahwa Tuhan itu ada di balik segala sesuatu yang membuat dia kagum dan terpana itu. Dalam hal apa saja. Dari mulai hal-hal yang paling kecil sampai yang paling besar. Rasa cinta itu akan muncul dengan sendirinya manakala nalar dia sudah terbiasa mengaitkan segala sesuatu dengan kebesaran Tuhan yang Mahakuasa.

Narasi-narasi yang menakutkan dalam Agama tak perlu disampaikan dengan dosis berlebihan. Tuhan yang Maha pemaaf, Mahakasih, Maha pengampun, Maha Memberi rizki, Maha Lembut, dan sifat-sifat Tuhan lain yang serupa dengan itu perlu ditanamkan sejak dini. Bukan berarti kita mengajarkan mereka untuk tidak percaya pada siksa Tuhan, tetapi itu adalah bagian dari proses pembelajaran awal agar sejak dini pandangan mereka tentang Tuhan itu tidak dipenuhi dengan spirit ketakutan.

Katakanlah kepada mereka—seperti yang dikatakan Tuhan sendiri kepada diri-Nya—bahwa rahmat Tuhan itu lebih luas ketimbang amarah-Nya. Neraka itu hanya Tuhan siapkan bagi orang-orang yang memang menginginkan kedurhakaan. Adapun orang-orang yang berbuat salah, dan menyesali kesalahannya dengan jujur, pintu ampunan Tuhan tak akan pernah tertutup bagi orang-orang semacam itu.

Lalu bagaimana kalau kelak dia mempertanyakan cinta dan kasih sayang Tuhan tatkala dia melihat keburukan, kezaliman, penderitaan orang-orang lapar, kaum tertindas, dan fenomena sejenisnya? Agama menyediakan sekian banyak jawaban. Kita bisa memilih jawaban-jawaban sederhana untuk anak kita.

Misalnya, menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa keberadaan kita di dunia ini persis seperti anak sekolah yang sedang berada di ruang ujian. Jika ingin lulus, sang siswa harus menjawab soal-soal dengan benar. Balasannya akan diraih nanti setelah ujian selesai, bukan ketika dia berada dalam ruangan. Dan yang tidak ikut ujian sudah pasti tidak akan naik kelas.

Nah, berbagai macam ujian yang diterima oleh manusia itu persis seperti soal yang mereka terima di ruang ujian. Memang itu sulit, sesulit soal ujian yang kerap disesuikan dengan tingkat kelas dan tingkat kemampuan. Tapi kelak, orang-orang yang lulus ujian itu akan Tuhan berikan balasan yang jauh lebih besar dari apa yang mereka sangkakan. Itu bukan kata saya. Kitab suci yang mengatakan itu.

Tuhan menjanjikan adanya hari akhirat. Di sanalah kesabaran manusia itu akan diganjar secara berlipat-lipat. Kalaupun mereka sengsara di dunia, kesengsaraan itu tak akan sebanding dengan kebahagiaan yang kelak akan mereka terima. Ini hanya sebagai contoh sederhana tentang bagaimana seharusnya kita menanamkan prasangka baik dalam diri anak kepada sang Mahapencipta, melalui ilustrasi-ilustrasi sederhana seperti itu. Ini poin yang pertama. 

Kedua, hindari pola mendidik anak dengan cara “memaksa”. Memaksa itu kurang baik, meskipun menyangkut hal-hal yang baik. Saya pernah baca beberapa kisah orang Ateis, seperti Bertrand Russel, Sigmund Freud, Ludwig Feurbach, Christopher Hitchens, Richard Dawkins, dan tokoh-tokoh Ateis terkemuka lainnya, dan ternyata, sebab paling dominan yang mendorng mereka untuk mengambil jalan ateisme itu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis. Salah satunya karena mereka mendapatkan perlakuan yang “memuakkan” dari orang-orang tuanya.

Ada satu buku bagus yang mengisahkan riwayat hidup para pemikir besar Ateis itu—sekaligus menjelaskan fenomena ateisme dari sudut psikologis—yang ditulis oleh seorang penulis ternama Mesir bernama ‘Amru Syarif. Judulnya: al-llhâd Musykilah Nafsiyyah. Dalam buku itu didedahkan sekian banyak kisah dan bukti penelitian yang menunjukkan bahwa ateisme itu merupakan problem psikologis.

Beberapa filsuf besar yang memilih jadi Ateis itu ternyata dulunya kurang mendapatkan pendidikan yang tepat di lingkungan keluarganya. Dan salah satu pola pendidikan yang salah itu ialah “memaksa”, yang pada akhirnya membuat sang anak tertekan dan merasakan ketidaknyamana dalam menjalani kehidupan.

Gambaran tentang Tuhanpun menjadi buruk di mata mereka, karena cara buruk yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya. Bagaimana anak mau mencintai Tuhan dan agama kalau sejak dini saja mereka sudah dipaksa dan diperlakukan secara keras sedemikian rupa? Alih-alih menanamkan rasa cinta, cara-cara semacam itu hanya akan membuat batin mereka tersiksa.     

Dulu di Mesir ada orang ateis terkenal namanya Ismail Adham. Dalam salah satu buku ia bercerita bahwa dia memilih jadi ateis disebabkan, antara lain,  sejak kecil orang-orang terdekat di keluarganya selalu maksa-maksa dia salat, menghafal alquran, pergi ke masjid, dsb. Padahal usianya masih kecil. Mungkin orang tuanya berniat baik. Tapi niat baik yang ditempuh dengan cara yang kurang baik kadangkala melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak baik.

Sayangnya, sebagian dari orang tua ada yang masih menempuh cara-cara seperti itu. Padahal yang terpenting itu sebenarnya bukan memaksa anak untuk berbuat baik, tapi mengajarkan mereka untuk cinta pada kebaikan. Dan rasa cinta itu tidak mungkin terlahir dari suatu paksaan. Kalau mereka sudah mencintai kebaikan, dengan keteladanan yang mereka lihat di sekitar, insyaallah mereka akan tumbuh sebagai orang-orang yang baik.

Terakhir, mengutip perkataan guru saya, kalau mau punya anak yang lurus dalam beragama, ajarkan anak Anda untuk mencintai nabi Saw. Mencintai nabi itu, kata beliau, merupakan kunci dari seluruh keselamatan (miftâh kulli najâh). Ceritakanlah sedikit demi sedikit tentang perjalanan hidupnya. 

Sampaikanlah beberapa butir dari petuah-petuahnya. Sering-sering membawa dia ke tempat-tempat zikir, majlis salawat, perkumpulan orang-orang saleh, baik yang hidup maupun yang sudah mati, lalu tanamkan dalam diri mereka satu keyakinan bahwa Tuhan mencintai perbuatan-perbuatan itu.

Sejujurnya secara spiritual itu lebih membantu. Sebab spritualitas itu kadang terbentuk bukan hanya dari doktrin, tapi juga dari lingkungan. Manakala spiritualitas itu sudah ditempa sejak dini, pada akhirnya rasa cinta itu akan datang sendiri. 

Barangkali dengan cara seperti itulah anak-anak kita bisa mencintai Tuhannya. Dan jika rasa cinta itu sudah tertanam, tidak akan sulit bagi mereka untuk merengkuh kebahagiaan dalam menjalani sisa kehidupan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.