Immanuel Kant (1724-1804) lahir di Konigsberg, sebuah kota kecil di Prussian Timur. Karir Kant dimulai saat dia menjadi profesor universitas di Kota Konigsberg, yang juga merupakan tempat di mana ia dahulu pernah mengenyam pendidikan semasa ia masih menjadi mahasiswa.

Kant menjalani hidupnya penuh dengan keteraturan dan kedisplinan. Setiap rutinitasnya selalu punya waktunya tersendiri. Seseorang bahkan bisa menebak kapan Kant mulai bangun tidur, menulis, makan, ataupun ketika Kant sedang mempelajari materi kuliah. Bahkan, tetangga Kant pun hafal bahwa setiap pukul setengah empat sore, Kant akan meninggalkan rumahnya dan berjalan-jalan. Tak heran itulah mengapa Kant dianggap sebagai salah satu filsuf yang paling berpengaruh yang pernah hidup.

Moral Agama

Untuk memahami filsafat moral Kant, adalah penting untuk mengetahui apa masalah yang dia, dan pemikir lain pada masanya, hadapi saat itu; yaitu kepercayaan dan praktik moral agama. Kitab suci, seperti Al-Quran dan Alkitab biasanya menetapkan aturan moral yang menurut banyak orang berasal dari Tuhan, seperti: Jangan membunuh, mencuri, berzina, dan sebagainya. 

Lahirnya revolusi sains pada abad ke-16 dan ke-17 yang mengarah pada gerakan budaya yang dikenal sebagai "Renaissance", doktrin-doktrin agama pun mulai mendapat tantangan tersendiri dari para elit intelektual. Nietzsche misalnya. Ia terkenal karena menggambarkan pergeseran agama ini dengan menyebutnya sebagai "kematian Tuhan."

Tentu cara berpikir yang baru ini menimbulkan masalah pelik bagi para filsuf moral: Kalau agama bukan lagi landasan moral, landasan apa lagi yang harus kita gunakan? Jika tidak ada Tuhan - dan karena itu tidak ada jaminan keadilan yang memastikan bahwa orang baik akan diberi pahala dan orang jahat akan mendapatkan dosa - lalu mengapa kita harus repot-repot untuk menjadi baik? 

Untuk menjawab hal tersebut, solusi yang dibutuhkan para filsuf moral adalah dengan memahami kembali apa yang dimaksud dengan moral dan mengapa kita harus bermoral.

Masalah dengan Utilitarianisme

Utilitarianisme merupakan salah satu aliran filsafat yang membahas masalah-masalah etika yang dipelopori oleh filsuf seperti David Hume (1711-1776) dan Jeremy Bentham (1748-1742). 

Menurut kaum Utilitarian, tugas utama manusia adalah mencari hal yang dapat memberikan mereka kebahagiaan dan menghindarkan mereka dari penderitaan. 

Pandangan yang cukup menarik, namun Kant percaya bahwa Utilitarianisme keliru dalam memahami sifat moral yang sebenarnya. Bagi Kant masalah mendasar Utilitarianisme adalah mereka terlalu menekankan nilai suatu tindakan berdasarkan pada konsekuensi atau hasil dari tindakan tersebut - di mana suatu perbuatan yang membuat orang bahagia disebut baik, sementara yang tidak itu disebut buruk. 

Namun, coba pikirkan ini: Mana yang lebih baik, politikus yang menyumbangkan uang senilai Rp.10.000.000 kepada orang lain namun dengan syarat harus mencoblosnya pada saat pemilu, atau buruh bergaji rendah yang menyumbangkan sebagian besar penghasilan mereka kepada orang yang membutuhkan secara cuma-cuma karena menurutnya - sudah tugasnya lah untuk saling membantu?

Jika 'hasil' adalah hal yang paling penting, sebagaimana yang dikatakan oleh filsuf Utilitarian, maka tentu tindakan politikus tadi secara teknis adalah tindakan yang "baik". Namun kebanyakan kita pasti tidak akan melihat situasinya seperti itu. Kita cenderung menilai suatu tindakan berdasarkan alasan atau niat yang melatarbelakanginya, alih-alih pada konsekuensi atau hasilnya. Alasannya jelas: itu karena konsekuensi dari suatu perbuatan sering kali di luar kendali kita, laiknya bola yang berada di luar kendali pelemparnya setelah terlepas dari tangan si pelempar. 

Niat Baik

Kant pernah menyatakan bahwa “satu-satunya hal baik adalah niat baik.” Argumen Kant cukup masuk akal. Kita mungkin bisa memikirkan hal apa saja yang kita anggap "baik" - kesehatan, kekayaan, ketampanan, kecerdasan, dan sebagainya. Namun, seharusnya kita juga dapat memikirkan sebuah keadaan di mana apa yang kita sebut baik tersebut ternyata tidak (selalu) baik. Misalnya, seseorang bisa menindas orang lain dengan kekayaannya; Kesehatan seorang pemerkosa membuatnya semakin getol untuk melecehkan korbannya, dan lain sebagainya. Sebaliknya, niat baik, kata Kant, selalu baik - dalam segala situasi. 

Namun, sebenarnya apa yang dimaksud Kant dengan niat baik itu? Jawabannya sederhana; Ketika seseorang bertindak berdasarkan niat baiknya karena mereka berpikir bahwa itu adalah hal yang harus mereka lakukan. Singkatnya, ketika seseorang bertindak berdasarkan nuraninya. 

Kewajiban dan Kecenderungan

Jelas, kita tidak selalu melakukan sesuatu berdasarkan kewajiban semata. Sering kali, kita juga mengikuti kecenderungan kita - atau bertindak berdasarkan dorongan pribadi. Benar, memang tidak ada yang salah dengan hal tersebut, namun, bagi Kant, mengejar kepentingan pribadi tidak pantas diapresiasi.

Namun, apa yang unik dari manusia adalah bahwa terkadang kita melakukan tindakan yang murni bermotif moral. Misalnya, ketika seorang tentara rela melemparkan dirinya ke atas granat dan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan orang lain. Atau ketika saya membantu membayarkan sewa kosan teman saya meskipun itu berarti saya harus mengorbankan uang jajan saya.

Apa Tugas Kita?

Mengatakan bahwa orang harus melakukan suatu hal karena rasa tanggung jawab itu memang mudah, namun bagaimana kita bisa mengetahui apa yang musti kita lakukan? Karena terkadang kita dihadapkan dengan dilema moral yang membikin kita bingung dalam memutuskan tindakan apa yang harus kita lalukan sekaligus dapat dibenarkan secara moral.

Menurut Kant, bagaimanapun, dalam banyak situasi, kewajiban itu jelas. Jika kita tidak yakin, kita dapat mencari jawabannya dengan mengambil prinsip umum yang oleh Kant sebut sebagai "kategori imperatif".

Kant menawarkan beberapa versi berbeda dari kategori imperatif ini. Salah satunya adalah bertanya pada diri sendiri. Misalnya, saya adalah orang yang sering mengingkari janji. Bisakah saya mengharapkan dunia di mana setiap orang dapat melanggar janji mereka sebagaimana yang saya lakukan, sementara saya sendiri tahu bahwa melanggar janji itu sama sekali tidak mengenakkan? Kant berpendapat bahwa pasti jawaban dari pertanyaan ini adalah 'tidak' - kita tidak menginginkan hal ini, karena di dunia seperti itu tidak ada yang akan berjanji karena semua orang tahu bahwa berjanji tidak ada artinya.

Prinsip Tujuan

Sisi lain dari kategori imperatif yang ditawarkan Kant adalah menyatakan bahwa seseorang harus "memperlakukan orang lain sebagai tujuan, bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan". Ini biasanya disebut sebagai "prinsip tujuan". Prinsip ini mirip dengan prinsip: "kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan."

Olehnya adalah wajib bagi kita untuk memperlakukan orang lain sebagai tujuan. Misalnya: Saya bisa menghormati kebebasan Anda dan menganggap Anda mampu untuk membuat keputusan yang baik secara mandiri meskipun saya tahu kemungkinan besar keputusan Anda boleh jadi berbeda dari apa yang saya harapkan. Jadi jika saya ingin Anda melakukan sesuatu, satu-satunya tindakan yang baik secara moral yang bisa saya lakukan adalah bagaimana saya menjelaskan situasinya, apa yang saya inginkan, dan kemudian membiarkan Anda memutuskannya sendiri. 

Pencerahan Kant

Dalam esainya, Kant mendefinisikan pencerahan sebagai "emansipasi manusia dari ketidakdewasaan yang dipaksakan." Apa maksudnya dan apa hubungannya dengan gagasan moralnya?

Jawabannya adalah kembali ke masalah agama yang mana ia nilai tidak lagi memberikan landasan moral yang memuaskan. Apa yang dimaksud Kant sebagai "ketidakdewasaan" manusia di atas adalah ketika seseorang tidak lagi berpikir dan bertindak berdasarkan diri mereka sendiri, dan sebaliknya, hanya sekadar menerima aturan (taklid buta) moral yang diturunkan oleh agama, tradisi, atau oleh otoritas-otoritas seperti ustad, pendeta, presiden, raja, bahkan Tuhan. 

Hal ini mungkin sedikit menggambarkan apa yang kebanyakan orang pahami sebagai krisis spiritual Barat. Karena, mari pikirkan ini, kalau nilai moral agama tidak dibutuhkan lagi dan/atau seperti kata Nietzsche bahwa Tuhan sudah mati, lalu bagaimana kita bisa tahu apa yang benar dan apa yang salah?

Jawaban Kant untuk pertanyaan tersebut adalah setiap orang harus mencari jawabannya sendiri. Kant percaya bahwa "moral" adalah sesuatu yang hanya dapat kita temukan melalui akal. Karena moral bukanlah sesuatu yang dipaksakan kepada kita oleh hal-hal di luar dari diri kita.