“...saat Abu Bakar As-shidiq RA sebagai Khalifah, usai perang al-Yamamah 70 sahabat penghafal Al-Qur’an gugur di medan tempur. Merasa mulai krisis, Sahabat Umar mempunyai gagasan pengkodifikasian Al-Qur’an...”

Al-Qur’an sebagai Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebuah pegangan penting bagi umat Islam sampai kapanpun. Ini terbukti dengan adanya firman Allah. Dengan demikian, orisinalitas Al-Qur’an akan terjaga sampai kapanpun tidak seperti kitab-kitab lain.

Dalam proses pemeliharaan Al-Qur’an, terdapat istilah jama’a yang mengandung dua arti. Pertama, mengumpulkan di hati dengan jalan menghafal. Kedua, dalam bentuk tulisan dengan metode penulisan atau ukiran. Menurut Manna’ al-Qathan, menambahkan bahwa pengumpulan juga meliputi masalah yang berkaitan dengan pembedaan antara ayat-ayat dan surat-surat, menyusunnya satu persatu.

Mushaf Al-Qur’an Pra Ustman

       Bagi pengikut pendapat bahwa pengumpulan Al-Qur’an yaitu dengan metode menghafal, pada masa Nabi Muhammad SAW diberi wahyu dan ia kemudian menghafal dan memahaminya seketika. Sesuai dengan janji Allah “إنا علينا جمعه وقرآنه

Nabi mempunyai daya hafal yang sangat tajam. Ia disebut sebagai ummiy tidak bisa baca dan tulis, hanya mengandalkan kecerdasan hafalan. Kala itu, kecerdasan hafalan bagi kalangan Arab jahiliyyah menjadi bagian yang sangat penting, mereka menghafalkan beragam macam syair. 

Wahyu turun, terkadang 1 ayat, bahkan bisa mencapai 10 sekaligus. Rasul mengajarkan kepada para sahabat seketika. Sepulang mereka dengan Nabi, mereka ajarkan kepada keluarga.

Diantara sahabat yang disebut al-Bukhari sebagai penghafal Al-Qur’an adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal Mawla Abi Hudaifah, Mu’adz bin Jabal, Abu Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin al-Sakkan dan Abu al-Darda’.

 Nabi juga menyuruh sebagai sahabat pilihan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan dan mengajarkan mereka meletakkan ayat-ayat sesuai dengan surah-surahnya. Mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’ad bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan keempat sahabat yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali Radhiyallahu ‘Anhum).

Ada beberapa sahabat yang menulis Al-Qur’an tanpa diperintah Nabi. Mereka menulisnya di tilang, batu putih, pelepah kurma, lembar-lembaran kertas, pelana binatang angkutan, potongan-potongan kulit dan tulang kambing yang sudah kering. Ini berdasarkan riwayat seorang sahabat.

Perlu diketahui, wujudnya Al-Qur’an seperti sekarang bukanlah hanya sebuah pengumpulan dan penyusunan berdasarkan pemikiran nabi dan para sahabat. Akan tetapi adalah perintah dan Wahyu dari Allah melalui Jibril a.s. Dan Jibril mengajarkan pada Nabi lalu Nabi menunjukkan kepada sahabatnya untuk meletakkan pada tempatnya ayat tersebut sesuai dengan surah-surahnya.

Pengumpulan Dalam Bentuk Tulisan

       Saat Abu Bakar As-shidiq RA sebagai Khalifah, usai perang al-Yamammah 70 sahabat penghafal Al-Qur’an gugur di medan tempur. Merasa mulai krisis, Sahabat Umar mempunyai gagasan pengkodifikasian Al-Qur’an. Ia usul pada Abu Bakar As-shidiq RA, namun Abu Bakar menolak, ia berdasar bahwa Rasulullah tidak pernah melakukannya.

Allah kemudian memberikan petunjuk pada hati Abu Bakar As-shidiq, kemudian ia menyetujuinya. Abu Bakar memberikan tugas kepada Zaid bin Tsabit sebagai pengumpul Al-Qur’an menjadi satu mushaf. Semula Zaid bingung sebagai mana Abu Bakar. Hasilnya, sebelum Abu Bakar As-shidiq meninggal dunia, hingga Sayyidina Ali berkata :

“Orang yang paling banyak pahalanya dalam penyusunan mushaf adalah Abu Bakar. Rahmat Allah bagi Abu Bakar. Dia merupakan orang yang pertama kali mengumpulkan kitab Allah.”

Pengumpulan dengan model demikian, dikenal sebagai pengumpulan kedua.

Mushaf Periode Utsman

       Penyebaran Islam mulai meluas, banyak orang belajar kepada qurra’. Dalam perkumpulan tertentu, diantara mereka ada yang kaget dengan realitas perbedaan antara satu dengan yang lain. Hudzaifah Al Yamani adalah di antara orang yang gelisah melihat perbedaan yang bahkan ada yang sampai menuduh orang lain kafir sebab perbedaan bacaan yang muncul.

Ia melaporkan kepada Khalifah Usman supaya perseteruan segera padam dan Al-Qur’an yang telah Dikodifikasi pada masa Abu Bakar As-shidiq RA segera disalin dan diperbanyak. Hal ini penting supaya Al-Qur’an tidak terkontaminasi tahrif oleh orang Yahudi Nasrani.

Utsman kemudian mengutus Hafshah mengambil mushaf Abu Bakar. Ia kemudian mengirimkan nya kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-Ash, Abdul Rahman bin Harits dan memerintahkan mereka untuk mengganti mushaf sesuai dengan lisan Quraisy, sebab Al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraisy. 

Pada saat inilah timbul istilah Al-Qur’an Rasm Utsmani. Jumlah yang diselesaikan oleh panitia penulisan Rasm Utsmani ada lima buah. Satu mushaf disimpan di Madinah yang nantinya dikenal dengan sebutan Mushaf Al-Imam. Sedang yang empat lainnya dikirim ke Makkah, Suriah, Basrah dan Kufah.

Mushaf Pasca Utsman

       Penulis Utsmani adalah dengan memakai tulisan khat kufi. Model tulisannya tanpa titik dan berbaris. Hal ini tidak menimbulkan masalah karena rata-rata sahabat adalah orang yang faham berbahasa Arab. Namun, setelah Islam tersebar hingga daerah ajam atau non Arab, banyak umat Islam kesulitan membaca Al-Qur’an. 

Andaipun mampu, akan banyak salah baca akibat dari tidak adanya tanda baca yang cukup memadai. Maka timbullah gagasan dari Abu al-Aswad Al-Du’ali periode Mu’awiyah menjabat untuk memberi tanda dalam Al-Qur’an dengan tinta yang berlainan warna dengan tulisan Al-Qur’an. Tanda tersebut berupa titik, titik atas Fatihah, bawah kasrah dan lain sebagainya. 

Seiring berjalannya waktu pula, tanda-tanda bertambah dengan diberi tanda titik pada huruf-huruf yang sekarang bertitik dengan warna tinta yang sama dengan penulisan Al-Qur’an. Oleh Nasir bin Asim dan Yahya bin Ya’mur pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Penulisan ini dipakai mulai dari zaman Bani Umayyah sampai zaman Bani Abbasiyah.