Belum lama ini publik lagi-lagi digegerkan oleh sebuah isu yang beredar di seputar dunia pendidikan. Bila sebelumnya publik dibuat sibuk dengan perdebatan antara belajar secara daring ataukah perlu untuk segera memulai pembelajaran tatap muka, kali ini bahan perdebatan adalah soal pelajaran sejarah.

Berawal dari bocornya draf berkop Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang berjudul 'Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional' bertanggal 25 Agustus 2020, muncul isu bahwa pelajaran sejarah akan dihapus. Meskipun hal ini sudah dibantah oleh Mendikbud, tapi rupanya isu sudah tersebar dan polemik mulai membesar.

Seolah tidak memperhatikan penjelasan Mas Menteri, orang mulai berseru-seru tentang pentingnya pelajaran sejarah. Para orang tua, pendidik, pemerhati pendidikan, dan netizen yang budiman mulai menyodorkan berbagai argumen tentang 'jasmerah', jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, sebuah idiom Bung Karno yang terkenal.

Para patriot mulai mengacung-acungkan telunjuknya sambil berceloteh, “Apa jadinya bangsa kita bila masa depan diletakkan di tangan anak-anak yang tidak mengerti sejarah? Pelajaran sejarah itu mutlak perlu supaya kita bisa mengambil nilai-nilai luhur dari masa lalu demi kejayaan bangsa.. bla bla bla."

Saya sampai berpikir, mungkin orang-orang yang begitu hebohnya mempermasalahkan soal sejarah ini dulunya adalah murid-murid yang sangat pintar dan rajin belajar sejarah. Mungkin nilai sejarahnya di raport kalau tidak 9 ya 10.

Saya sendiri bukan anak yang pintar sejarah. Pernah sekali dalam seumur hidup ada angka merah di raport saya, dan itu adalah pelajaran sejarah. Sekali saya pernah mengulang ujian, dan itu adalah sejarah. Sepertinya saya perlu sungkem pada bapak ibu guru sejarahku dulu.

Buat saya, pelajaran sejarah dulu begitu tidak menarik. Dan ternyata yang berpendapat demikian tidak hanya saya. Ada banyak komentar netizen di media sosial yang menyatakan hal serupa. Saya jadi merasa ada temannya.

Bagi sebagian orang, mungkin sejarah itu tidak lebih dari sebakul fakta-fakta yang harus dihafal. Dan parahnya, kadang kita tidak mengerti apa pentingnya menghafal fakta-fakta itu. Untuk apa misalnya kita harus hafal candi Muara Takus itu ditulis tahun berapa, Perang Padri terjadi tanggal berapa, atau siapa saja yang berkumpul di rumah Laksamana Maeda saat proses penulisan teks Proklamasi.

Saya tidak sedang mengajak berdebat tentang perlu tidaknya pelajaran sejarah. Dalam hal ini saya mendukung 100% pelajaran sejarah harus tetap ada dalam kurikulum sekolah. Saya percaya saja bahwa pelajaran sejarah ini sangat penting dan berperan dalam pembentukan karakter anak-anak bangsa.

Cuma bagaimana caranya agar pelajaran sejarah ini bisa disampaikan dengan lebih menarik agar sasaran pembelajaran dapat tercapai, inilah yang harus dipikirkan oleh otoritas dunia pendidikan. Apa betul karakter bangsa bisa dibentuk dengan menghafal berjejal-jejal tanggal-tanggal, tokoh-tokoh, atau peristiwa-peristiwa?

Menurut saya, seseorang akan berminat untuk mempelajari sesuatu bila dia merasa sesuatu itu menarik hatinya. Khusus dalam pembelajaran sejarah, saya pernah mengalami ketertarikan saat guru menyampaikan pelajaran tersebut seperti menyampaikan cerita.

Di dunia ini, mungkin tidak ada orang yang tidak tertarik pada cerita-cerita, baik itu anak-anak, remaja, maupun dewasa.

Oleh sebab itu, akan sangat mendukung bila seorang guru sejarah bisa membekali dirinya dengan keterampilan bercerita. Sangat terasa bedanya, antara guru yang hanya memaparkan deretan fakta-fakta, atau yang menyampaikan bahan ajar dalam bentuk cerita yang menarik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita, misalnya, lebih senang membaca novel sejarah daripada buku pelajaran sejarah. Tidak lain karena manusia suka dengan cerita-cerita.

Contoh lain misalnya dalam pelajaran agama, murid-murid sangat senang dengan cerita-cerita tentang 25 nabi. Waktu SD dulu guru saya selalu menjanjikan 'gimmick' berupa cerita tentang nabi setelah menyelesaikan satu bab mata pelajaran agama Islam.

Barangkali sama dengan agama-agama yang lain yang biasanya juga memiliki banyak kisah dalam khazanahnya. Dengan cerita-cerita itu biasanya akan banyak hal yang menempel di benak murid, termasuk fakta-fakta ataupun nilai-nilai yang ingin disampaikan.

Saat mengajarkan tentang peristiwa Perang Bubat di Majapahit, misalnya. Daripada hanya menyampaikan fakta-fakta tentang tentang perang itu, terjadi tahun berapa, yang terlibat siapa saja, dan lain sebagainya, alangkah menariknya bila guru bisa merangkai cerita tentang Dyah Pitaloka, putri kerajaan Sunda yang akan dijadikan permaisuri oleh Prabu Hayam Wuruk namun gagal dan berakhir pilu dengan terjadinya perang akibat ambisi Gajah Mada untuk menaklukkan Sunda.

Dengan cerita itu, murid akan bisa mengembangkan imajinasinya hingga terbayang suasana yang terjadi dalam peristiwa sejarah tersebut. Dari imajinasi itu diharapkan murid juga bisa menjiwai nuansa batin yang terjadi pada diri tokoh-tokoh yang ada, dan dapat memetik pelajaran atau nilai-nilai yang diungkap oleh para tokoh tersebut.

Guru juga bisa mengembangkan mekanisme bercerita ini dengan menugaskan murid yang menyusun dan menuturkan ceritanya. Di masa sekarang, sudah jamak bila murid yang diminta untuk mencari bahan sendiri untuk disusun dan dipresentasikan. Mekanisme ini bisa digunakan untuk menuturkan peristiwa sejarah. Bahkan proses ini bisa lebih meningkatkan pemahaman anak akan peristiwa tersebut.

Namun memang tidak selamanya tokoh-tokoh sejarah itu adalah hero. Para tokoh sejarah adalah juga manusia biasa seperti kita, yang memiliki sisi baik dan buruk, benar dan salah. Di sinilah para guru harus pandai-pandai dan bijaksana dalam menyampaikan kepada murid sisi-sisi baik yang patut diteladani, dan sisi-sisi buruk untuk ditinggalkan.

Misalkan tentang tokoh Ken Arok yang sangat kontroversial itu. Meskipun dia telah membuat sejarah besar dengan mendirikan kerajaan Singasari yang menjadi cikal bakal kerajaan Majapahit, tapi sepak terjangnya yang penuh jejak berdarah perlu juga disampaikan agar menjadi pelajaran supaya tidak dicontoh di masa depan.

Hal berikutnya yang bisa menambah ketertarikan anak terhadap pelajaran sejarah adalah keterhubungan sejarah itu dengan mereka. Sebagai contoh, anak yang merupakan penggemar musik tentu akan sangat berminat dengan sejarah musik. Anak yang berminat dengan kisah-kisah perang tentu akan berminat dengan sejarah peperangan. Anak yang suka dengan teknologi tentu akan suka dengan sejarah perkembangan teknologi.

Oleh karena itu, alangkah bagusnya bila guru bisa mencari konteks di masa kini yang kira-kira akan terhubung dengan minat anak-anak atau situasi yang pernah/sedang dialami oleh anak. Sebagai contoh, saat menjelaskan peristiwa demo mahasiswa tahun 1966, guru bisa menghubungkan dengan peristiwa demo menentang revisi RUU KPK yang lalu, misalnya.

Menceritakan sejarah negara-negara tetangga, misalnya Korea, guru bisa menghubungkan dengan kisah drama Korea yang sedang hits di negeri ini. Menceritakan sejarah dunia di mana pernah terjadi wabah-wabah yang merenggut jutaan nyawa manusia di masa lalu, bisa dihubungkan dengan pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Pengaitan dengan konteks masa kini akan membuat murid melek dan memerhatikan.

Berikutnya, hal yang membuat pelajaran sejarah menjadi begitu tidak menarik adalah banyaknya bahan yang harus dipelajari oleh murid. Banyaknya materi ini membuat proses belajar menjadi kehilangan ruhnya, karena tiap materi ini hanya dihafal saja tanpa adanya proses menghayati yang menjadi prasyarat terjadinya proses internalisasi suatu pengetahuan.

Oleh sebab itu, perlu kiranya agar materi pelajaran sejarah ini bisa disederhanakan. Saat menjelaskan kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara, misalnya. Tidak perlulah membahas semua kerajaan karena jatuhnya hanya akan jadi menghafal. Lebih baik membahas 1 atau 2 kerajaan yang besar dan terkenal dengan penceritaan yang lebih detil.

Ceritakan kehidupan di kerajaan tersebut, sistem pemerintahannya, mata pencaharian rakyatnya, kehidupan agamanya, adat istiadatnya, dan lain-lain. Hal itu tentunya akan lebih menghadirkan pada anak suasana yang terbangun dari proses penceritaan itu daripada hanya sekadar menghafal.

Itulah hal-hal yang bisa saya usulkan sebagai seorang mantan murid dan sekarang sebagai orang tua mengenai keberlangsungan pelajaran sejarah. Seiring waktu, ternyata saat ini saya mendapati diri saya cukup menggemari sejarah. Hal ini tumbuh dari keingintahuan yang terpupuk secara alami dari rangsangan informasi yang bertebaran di berbagai media.

Semoga di masa depan pun anak-anak kita mempunyai minat yang baik terhadap sejarah, supaya kita selalu ber'jasmerah'.