Disudut-sudut kota hiruk pikuk lalu-lalang jalanan adalah teman bagi setiap para pengguna jalan bahkan rakyat miskin sekalipun yang mengais rezeki, entah dengan berjualan (pedagang kaki lima), mengamen, mengemis, memungut sampah dari tong sampah disepanjang jalan dan lain sebagainya.

Di persimpangan jalan lampu merah itu, sudut jalan yang terlihat kini berdiri badut jalanan dengan kostum yang tidak lupa terpasang di baju badutnya dan juga topeng badut. Kostum badut Upin, Ipin, Dora, Naruto, dan lain-lain berbagai kostum yang menarik perhatian masyarakat pengguna jalan, utamanya anak kecil.

Masyarakat kebanyakan hanya tahu, mereka bekerja mencari uang menafkahi keluarganya. Mereka hanya tahu, mereka menebar kebahagiaan bagi kanak-kanak. Mereka hanya tahu badut jalanan itu hanya untuk menghibur dan menyenangkan dengan sedikit goyangan dari tubuh yang diperlihatkan badut-badut jalan itu seraya memutarkan lagu yang mengiringinya.

Namun, apakah kita tahu apa yang mereka rasakan saat memakai kostum?

Apakah kita mengetahui bagaimana ekspresi mereka didalam kostum yang mereka pakai?

Bahkan, apakah kita tahu bagai mana isi hati mereka?

Apakah kita mencoba untuk mengetahui itu semua, yang kita hanya mengetahui mereka hanyalah seorang badut jalanan.

Keringat yang bercucuran yang membasahi tubuh mereka, gerahnya panas terik matahari yang mereka rasakan, bahkan kadang hujan yang tiba-tiba membasahi kostum yang mereka pakai saat di persimpangan jalan. Mungkin yang kita lihat mereka bergoyang-goyang seraya menghibur kita, tapi dibalik topeng kostum yang mereka pakai, mereka seakan menjerit kesakitan bahkan meneteskan air mata mereka.

Kita melihat mereka sedang menari-nari seraya mengulurkan wadah meminta untuk diberikan uang dengan sukarela dari para pengguna jalan yang mereka lewati ataupun yang melewati mereka dengan ekspresi yang kita lihat bahwa. Tetapi sebenarnya tidak, bisa jadi dibalik kostumnya itu ia sedang merintih dan berdo'a agar mereka dapat membawa uang untuk memberi makan keluarganya dirumah yang mengharap dan menunggu kedatangannya pulang demi sesuap nasi untuk menyambung kehidupan.

Mereka bersembunyi dibalik topeng kostum badut mereka, menyimpan rapat-rapat semua kesusahan yang mereka rasakan. Tak jarang mereka pulang dengan gontai kakinya menuju rumah yang gubuk derita.

Mereka hanya menjual tawa, tidak mencuri dijalanan. Mereka menebarkan bahagia, bukan menebarkan kekacauan. Tapi sering mereka harus berhamburan berlarian di jalan-jalan, ketika mereka dikepung oleh Satpol-PP yang menangkap mereka secara dadakan. Kadang nasib naas yang menimpa mereka, harus ditangkap dan dibawa ke Satpol-PP untuk diamankan. Bukan mendapatkan uang untuk pulang, tapi kadang-kadang yang menunggu kedatangan mereka pulang ke rumah harus menerima kepahitan mereka diamankan digelandang.

Tidak jarang kepahitan itu mereka rasakan. Hanya menjual tawa dijalan-jalan mereka harus diamankan, sedangkan kesedihan dan kesusahan yang mereka pendam untuk sebuah kehidupan. Kadang mereka membawa kehampaan pulang. Mereka hanya berusaha untuk hidup lewat tawa.

Badut jalanan itu adalah pekerja seni. Mereka tanpa banyak basa-basi namun menebarkan kebahagiaan. Tanpa memberi pun kita, mereka tetap seperti orang yang bahagia. Menyuauri jalanan panjang, di persimpangan jalan lampu merah itu mereka berdiri seraya menari-nari.

Kita tidak bisa memberi mereka dengan uang, senyum pun kepada mereka adalah kekuatan bagi mereka dan itu akan menjadi penghibur bagi mereka. Berinteraksi tanpa suara adalah cara mereka membuat kita tertawa. Menawarkan canda tawa, bukan luka. Itulah mereka dengan segala senang hati mengajar kita untuk bermakna walau kita belum tentu benar-benar merasa bahagia.

Ketika mereka ada, jangan usir mereka. Biarkan mereka menawarkan tawa pada kita dan kita balas dengan senyum juga bahagia. Beri mereka sedikit rezeki kita, bukan malah sindiran yang menambahkan lupa pada hati mereka. Mereka cukup bahagia, ketika kita terhibur dengan tawa bahagia. Dan mereka tidak perlu kita tahu kesusahannya, itulah cara mereka badut jalanan pekerja seni yang menawarkan tawa.

Selagi kita temui mereka, jangan pernah kucilkan mereka. Andai kata mereka menggangu jalan raya, jangan lagi bentak mereka dan memaki bahkan merendahkan mereka. Support mereka dengan apa yang kita bisa, pandang mereka dengan pandangan kemanusiaan yang memanusiakan manusia.

Kita memberi mereka 500 rupiah pun tidak akan mengurangi harta kia. Selagi mereka juga memiliki niat untuk bekerja menjual tawa dari pada melakukan praktek minta-minta bahkan mencuri, apalagi mencuri uang rakyat. Mereka lebih terhormat, menjual seni yang dibungkus dengan tawa ditawarkan kesana kemari entah pada anak kecil, orang dewasa bahkan orang tua.

Dan untuk para badut pekerja seni, tetaplah menawarkan tawa dari pada menawarkan luka. Tetaplah menjadi kuat dan terlihat bahagia, walaupun nyatanya kau dahaga dalam rasa. Teruslah mengukir senyum lebar di wajah semua orang tanpa mereka harus tahu dibalik topeng mu kau berekspektasi seperti apa.