“Success is not the key to happiness. Happiness is the key success. If you love what you are doing, you will be successful”

Banyak orang mengira bahwa sukses itu adalah kebahagiaan sejati. Maka segala cara dilakukan untuk mencapai kesuksesan, termasuk mengorbankan harga diri dan martabat. 

Inilah realitas yang terjadi, bahwa banyak orang terjebak pada pikiran sempit. Bahwa yang sukses itulah yang bahagia, padahal sejatinya tidaklah demikian. Kebahagian sejati  adalah  kunci kesuksesan, dan inilah yang kurang disadari oleh banyak orang.

Siapa diri kita?

Banyak teori yang mendefenisikan siapa diri kita sesungguhnya. Teori filsafat misalnya, menguraikan bahwa sejatinya diri kita tidak memiliki inti yang tepat. Diri kita selalu dibentuk oleh setiap situasi yang kita alami.

Sebagai misal, saat kita memetik gitar, kita terhanyut dan merasa seolah hidup hanya sekali. Saat kita menyanyi kita merasa kitalah yang paling bahagia dari yang lain, demikian seterusnya saat kita  gembira atau sedih  karena keinginan kita tercapai atau karena kita gagal mencapai yang kita inginkan. 

Jadi sejatinya, diri kita tidak memiliki inti yang tepat, diri kita dibentuk oleh situasi-situasi yang kita alami.

Lain hal dengan doktrin-doktrin agama, seperti dalam doktrin agama Katolik dimana diri kita adalah ciptaan istimewa dari Allah. Kitalah yang paling mulia dari segala ciptaan yang lain. Karena kita memiliki akal budi, perasaan, intuisi, dan sebagainya.

Denganya kita bertindak atas segala ciptaan yang lain. Dengannya pula sebagai dasar bagi kita dalam menjalani kehidupan. Jadi diri kita berakar pada ciptaan yang mulia dari Allah.

Maka yang pertama dan utama bahwa terlepas dari segala macam teori, diri kita adalah ciptaan yang sempurna dari Allah. Karena diri kita sempurna, maka kita memiliki kewajiban untuk menyempurnakan hidup kita di alam semesta ini. Kewajiban itu ditentukan sejauh kita meraih kebahagian sejati di setiap pijakan kita di alam semesta ini.

Tujuan kita untuk apa?

Hidup bagai ombak yang selalu bergelora tanpa arah. Begitulah hidup tanpa tujuan. Bahwa tujuan hidup kita bukan sekali jadi, ia juga bukan seperti benda mati yang sifatnya tetap. Tujuan hidup kita adalah sebuah proses dan karena itu selalu berubah-ubah.

Tujuan hidup kita adalah sebuah proses. Hal demikian karena tidak ada tujuan yang tercapai tanpa proses yang matang. Mau jadi apa kita kelak, selalu melewati proses. 

Proses akan menentukan apakah tujuan kita tercapai ataukah hanya sebatas angan-angan. Bila proses terhenti tujuan kita pun gagal. Demikian pula  tujuan hidup kita akan selalu berubah-ubah tergantung pada setiap proses yang kita jalani.

Dan apa yang paling penting dari tujuan kita? Adalah bukan kekayaan, bukan nama baik, tetapi kebahagiaan sejati yang kita miliki. Inilah yang jarang diketahui oleh orang lain. 

Bahwa banyak yang mengira uang dan nama baik adalah tujuan utama dalam hidup, maka mereka mengorbankan segalanya untuk mendapatkannya, termasuk harga diri. Sehingga yang mereka dapatkan bukan kebahagiaan sejati melainkan kebahagiaan semu.

Maka, apa yang harus kita lakukan? hiduplah apa adanya. Hiduplah dengan penuh kesadaran bahwa apa yang dilakukan adalah yang baik bagi orang ain. Sejatinya inilah  tujuan hidup kita selama kita berpijak di dunia ini. Tujuan seperti inilah yang yang membentuk citra diri kita di hadapan publik. 

Kita menjadi yang terbaik bila tujuan kita memberi yang terbaik untuk orang lain. Ini hanya bisa tercapai apabila kebahagiaan sejati senantiasa berkobar dalam diri dan hidup kita. 

Kemana kita nantinya?

Tersenyumlah lalu pejamkan mata sesaat. Tariklah nafas dan hembuskan lalu renungkan hidup ini. Batapa luar biasanya hidup ini. Hidup ini indah dipenuhi aneka ciptaan lainnya. Serentak pula sempurna karena segalanya baik adanya.

Bila ini yang kita lakukan setiap pagi, maka kita tahu kemana kita nantinya? maka, konsekuensinya  apa yang terbaik itulah yang harus dilakukan hari demi hari?

Sejatinya hanya ada dua arah yang menentukan kemana kita nantinya dari segala sesuatu yang kita lakukan setiap hari. Hanya ada dua arah yakni berbuat baik dan tidak berbuat baik.

Dalam konteks eskatalogi, berbuat baik konsekuensinya ialah masuk ke dalam hidup yang penuh kebahagiaan. Sebaliknya tidak berbuat baik akan masuk ke dalam kehidupan yang penuh siksaan dan kertak gigi. 

Apa yang terbaik dan yang tidak terbaik, tergantung pada pilihan hidup kita. Sepenuhnya kita adalah tuan atas hidup ini.

Jika dua arah ini yang menentukan kemana kita nantinya, maka tidak ada pilihan lain selain berusaha untuk samaksimal mungkin mengikuti apa yang terbaik diakui secara universal. 

Sebab itulah yang menentukan kebahagiaan hidup kita. Maka do the best, karena melakukan yang terbaik itulah hukum utama di alam semesta ini.

Back to our self

Jika sepenuhnya kita sadar siapa diri kita, untuk tujuan apa kita dilahirkan di dunia, dan seperti apa  kelak tujuan kita nanti. Sepenuhnya kita tahu tiga hal ini maka sepenuhnya pula kita akan kembali kepada  diri kita.

Apa artinya kembali kepada diri kita?  Adalah suatu keistimewaan apabila hidup kita dijalani dengan kesadaran penuh dan utuh. Kesadaran tentang siapa diri kita, untuk apa kita lahir, dan kemana kita nantinya. 

Hidup dengan penuh kesadaran mensyaratkan adanya jalan untuk meditasi, merenungkan apa yang terbaik dalam hidup ini, apa yang seharusnya dilakukan dan bagaimana seharusnya hidup dengan baik di dunia ini.

Dengan kesadaran penuh maka kita akan tahu bahwa kita hanya hidup di  “saat ini”. Apabila kita tahu bahwa kita  hanya hidup di “saat ini”, maka kebahagian sejati akan kita peroleh. 

Karena kebahagian  yang sejati adalah dengan menyadari ”saat ini”.” Maka, orang yang kehilangan ”saat ini” akan kembali masuk ke dalam kecemasan dan penderitaan hidup. Sebab, yang ada sejatinya hanyalah ”saat ini”. Yang lain hanya ilusi.

Oleh karena itu, jika tujuan hidup kita yang pertama dan utama adalah kebahagiaan sejati, konsekuensinya jadilah yang terbaik, hiduplah selaras dengan hukum-hukum alam, hiduplah dengan penuh kesadaran, bahwa yang ada hanya ‘saat ini”.

 Dengan demikian, kesuksesan bukan soal berapa banyak kekayaan atau prestasi yang kita peroleh, melainkan tentang bagaimana kita menjalani hidup apa adanya dan  darinya kita meraih kunci kesuksesan yakni  kebahagian sejati dari saat ke saat.