Mahasiswa
2 tahun lalu · 490 view · 3 menit baca · Politik fb_img_1459074864500.jpg
http://www.idealistrevolution.org/controversial-illustrations-by-spanish-artist-mirror-the-ugly-side-of-society/

Bacaan Wajib Sebelum Menjadi Politisi

Dalam sebuah diskusi ringan dengan teman dan senior di emperen kos-kosan, tiba-tiba junior yang belum genap setahun berada dikampus menyatakan, Kak saya mau jadi politisi, Sontak teman yang duduk disebelah kanan saya juga merupakan ketua senat mahasiswa, kaget mendapati juniornya yang berkata seperti itu.

Jadi politisi itu hebat, banyak teman, menyelesaikan masalah apa saja jadi gampang, dan tentunya akan mendapatkan banyak uang. kata junior yang baru saja membaca buku filsafat ilmunya Fuad Ihsan itu lantas mengatakan mau jadi politisi. politisi gundulmu dik.

Puber intelektual yang terjadi pada anak itu sudah akut, dia merasa sombong atas pengetahuannya, atau malah kehilangan nilai atas apa yang dia ketahui. berpsoses itu penting untuk menyaring apa yang benar dan salah. sebagai mahasiswa yang baru saja terpaksa lulus, saya jadi miris mendapati manusia yang segala isi kepalanya tentang pragmatisme.

Tapi tak usahlah kita menyalahkan satu junior ini, tentu banyak fenomena lain. coba saja anda perhatiakan orang-orang di warung kopi dengan peci dikepalanya, isinya hanya tentang politik, walau berbicara politik memang penting sebagai orang yang seolah-olah mengurusi negara tapi mengurusi rumah tangga saja tidak becus.

Mereka yang bercerita tentang politik bukan berdasarkan fakta lapangan yang dia teliti sendiri, tapi hanya memindah-mindahkan cerita dari warkop A ke warkop B, lantas mengklaim dirinya politisi ulung, banyak kenalan (sembari perlihatkan salah satu selfie-nya dengan Jonru ).
Hanya karna sering nongkrong diwarung kopi atau posyandu, mendengar cerita orang, digunakanlah kemudian cerita itu, diolah dengan analisa cocoklogi, untuk orang lain yang telinganya sebagai jamban. Tai kan..

Belum lagi kalau Jadi tim sukses dalam pilkada atau pilgub, lalu kandidatnya kalah dalam pemilihan. nah kan, tidak sukses, katanya tim sukses.

Tentu dengan judul diatas saya tidak serta merta menggurui, demikian saya pun awam dengan politik melirik bukunya Machiavelli saja tidak mampu apalagi menjawab persoalan dengan analisa ideopoliostratak, serta meyakinkan satu perempuan untuk di persunting pun selalu terjebak pada gengsi, sebab tongkat terlalu pendek.

Tetapi sebagai manusia biasa dengan sedikit empati saya merasa perlu menyarankan bahwa menjadi politisi tidak menjaminkan kekayaan, kehormatan dan kekuasaan.

Tetangga saya, yang dulunya adalah politisi yang sangat disegani sekaligus berhasil menjadi anggota DPRD, tentu uangnya banyak, Mobil tiga. salah satunya Fortuner. lah sekarang ngapain ? Jual ikan dipasar. politik itu seperti perempuan, kejam, dia memenjarakan tapi tidak membunuh.

Menjadi politikus mesti kuat mental, tahan banting anti karat dan anti pecah. Loh, kok kayak pecah belah. Ahmad syafii Maarif pernah bilang, jangan jadi politikus sebelum mampu dan cukup dalam urusan keuangan keluarga dan jangan jadikan panggung politik itu untuk mengais rezeki.

Jelas, bahwa dalam politik murni persoalan sosial kemasyarakatan, sama halnya dengan konsep Rahmatan Lil alamin bahwa apa yang kita perbuat melalui jalur politik adalah demi untuk urusan keummatan, ke universalan serta persaudaraan isi semesta. bukan kekuasaan individu atau kelompok. bukan untuk mencari uang.

Yasraf amir piliang dalam bukunya, Hantu-Hantu politik dan matinya sosial. Merupakan bentuk pukulan telak bagi anak muda ngehe yang selalu merasa diri adalah harapan bangsa. Yasraf benar bahwa Kita kehilangan perdebatan-perdebatan berkualitas dari panggung politik. Tak ada lagi getar dari ucapan para politisi yang lahir dari ideologi yang dibawa oleh dirinya dan partainya, tak ada lagi arena keberpihakan yang jelas sesuai dengan gagasan kebenaran yang dianut oleh nilai-nilai ideologis yang dipahaminya, apalagi keberanian menjadi oposisi kebenaran bagi apa yang dianggapnya benar.

Kita selalu menganggap bahwa melingkar pada kekuasaan merupakan jalan satu-satunya untuk tetap hidup. lalu pada yang lain kita mencitrakan diri sebagai penguasa itu.

Menjadi politisi juga adalah cita-cita mulia, tapi kan politisi tidak hanya melulu bermodalkan cerita orang lain, lingkaran, ataupun pelukan mantan, eh. Lihat saja Bung hatta yang mengorbankan segala hasrat biologisnya demi kemerdekaan indonesia, tentu dengan jalur politik dan mental yang kuat.

Mungkin kamu ingin seperti Adian Napitupulu orang yang terkenal sebagai macan dijalanan menentang segala kezaliman dan sekarang menempel dalam ketek penguasa, ingin sekali saya melihatnya menjilad ludahnya sendiri dijalanan.

Atau mungkin kalian ingin seperti aktifis forkot 98 sebagai organklitoris eh organisatoris, yang sampai sekarang belum menuntaskan reformasi pun saat dia menerima beberapa jabatan di senayan.

tapi tentu segalanya adalah pilihan kita masing-masing kepada siapa kita menuntun, Mau jadi politisi atau polisi.

Tapi kalau boleh saran jadi polisi saja.

Artikel Terkait