Seumur hidup, baru kali itu saya benar-benar melihat persis wujud burung puyuh. Seperti seekor ayam, hanya saja ukurannya mini, semini suaranya. 

Biasanya hanya menjumpai di jalan perkampungan, keluar dari semak belukar tetiba saja berlari menyeberang jalan, nyaris tertabrak. Pikir saya, mampu ya burung sekecil itu membawa lari badannya yang besar dan bulat untuk ukurannya, lari sekencang-kencangnya?

Puyuh-puyuh itu bercuit-cuit kecil, namun ramai dalam sangkar yang bersusun, di sebuah kandang peternakan milik rumah baca "Pintu Ilmu", yang terletak di desa Sidera, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Begitulah rumah baca itu dituntut oleh Perpusnas (Perpustakaan Nasional). Literasi tak cukup sekadar baca-tulis, tetapi juga punya output yang dihasilkan dari proyek literasi itu.

Saya bertemu para pengurusnya, terasa suasana literasinya. Aura buku sudah mewujud dalam bahasa percakapan. Sikap kritis berwawasan terselip di antara canda dan tawa khas masyarakat pedesaan yang tersentuh oleh buku-buku.

Salah satu poin percakapannya adalah menyoroti, atau lebih tepatnya mengkritisi konsep ini; literasi merupakan jalan yang sunyi nan ideal berupaya dipragmatiskan. Bagaimana tidak pragmatis, baca buku seharusnya dikhususkan semata membuka wawasan tentang apa saja, tetapi diharuskan agar menghasilkan sesuatu yang bernilai materi.

Konsep literasi yang menghasilkan itu, kalau logikanya dibalik, niscaya orang-orang akan berpikir; jika membaca tak menghasilkan apa-apa, mending tak usah membaca. Toh juga tak ada manfaat ekonominya. 

Kalau sudah begitu, literasi bukannya menghasilkan kemajuan, tapi membuat segalanya jadi berputar di tempat. Orang-orang tetap saja mendasarkan kegiatannya pada orientasi ekonomi, tak lebih dari itu.

"Jadi, peternakan puyuh itu adalah hasil dari membaca buku sebanyak ini, hahaha....," celetuk salah seorang pengurus sambil menunjuk buku-buku yang berjejer di lemari.

Selain di desa Sidera, ada pula Kampung Literasi Sigi (KLS) yang juga merupakan rumah baca yang terletak di desa Walatana Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi--sama-sama di wilayah Kabupaten Sigi. Konsepnya juga sama, ada tempat baca buku, ada kegiatan usaha produktif yaitu pembuatan kripik pisang.

Hanya saja pengurus KLS tak mengatakan "Jadi, usaha kripik pisang ini adalah hasil dari membaca buku sebanyak yang dipunyai KLS...."

Keduanya, yakni Pintu Ilmu dan KLS merupakan berkah dari bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda dataran Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong (Padagimo) pada 28 september 2018 silam. Kedua rumah baca ini justeru berdiri setelah bencana, padahal sebelumnya tak pernah terpikirkan.

Hanya saja ada perbedaan, KLS sudah melanglang buana ke tingkat nasional dengan citra usaha kripik pisangnya. Berkali-kali pengelolanya diundang oleh pihak Perpusnas untuk mengikuti kegiatan literasi (yang seremonialnya saja) di berbagai daerah. Termasuk mempresentasekan usaha kripik pisang dari KLS yang terbilang sukses memenuhi pasar di seantero Kabupaten Sigi.

Sementara Pintu Ilmu masih saja malu-malu nyudut di singgasananya. Wajar, rumah baca yang satu ini tidak mendapat support dari pemerintah desanya, selamanya dibiarkan tenggelam begitu saja tanpa terekspos. Hanya masyarakat kompleks rumah baca itu yang mendukung dan turut meramaikan kegiatan di dalamnya.

Bagi pengurus Pintu Ilmu, yang utama adalah mendekatkan masyarakat dengan buku. Terutama anak-anak yang merupakan pengunjung terbanyak di rumah baca itu. Pengurus belum menjadwalkan program tetap dan rutin, takutnya akan menjauhkan anak-anak dari buku. Sebaliknya, program itu dikhawatirkan justeru lebih mendekatkan anak-anak pada programnya, bukan pada bukunya.

Makanya sembari terus berupaya menjaga agar masyarakat cinta terhadap buku, pengurus Pintu Ilmu menambah sejumlah fasilitas seperti hotspot wi-fi, alat peraga sains, komputer, makanan ringan, dan air mineral. Semuanya agar para pengunjung menjadi betah.

Jadi, masyarakat yang berkunjung dibebaskan beraktifitas apa saja dengan fasilitas yang ada. Minimal bagi pengurus, mereka tetap melihat-lihat buku yang terpajang. Dari melihat buku, beranjak ke memegang buku, lama kelamaan mulai membolak-balikkan halaman buku, kemudian mulai membaca, dan pada akhirnya ketagihan pada membaca.

Akan tetapi, tak kegiatan literasi mesti juga ditopang oleh pembiayaan yang memadai. Rumah baca, memang motivasi awalnya sekadar memfasilitasi masyarakat sekitar agar mau membaca. Supaya masyarakat tetap bisa membaca, salah satu caranya adalah buku harus awet, maka perlu ada perawatan. Mestinya ada pembiayaan untuk upaya itu.

Maka tidak salah, jika rumah baca memiliki usaha untuk terus membuatnya hidup. Tetapi juga mesti dijaga, jangan sampai usaha milik rumah baca lebih menggiurkan ketimbang membaca itu sendiri. Di sinilah perlunya pengertian dari pengelola, bahwa usaha milik rumah baca, dimaksudkan agar rumah baca tetap hidup.

Membentuk satu jenis usaha (yang menghasilkan uang) adalah sebaik-baik cara untuk menghidupi rumah baca, ketimbang mengharap uluran tangan dari sesiapa, termasuk oleh pemerintah. Selain itu, untuk lebih mengingatkan bahwa kewirausahaan juga sangat penting.

Tidak sepantasnya lagi literasi ditopang oleh sumbangan sukarela pengurus, dari pengurus, oleh pengurus, dan untuk pengurus. Jika pengurus jenuh, literasi juga akan mati.