Baby blues syndrome merupakan salah satu bentuk gangguan emosi yang berisiko mengalami depresi pasca persalinan dengan berbagai efek yang menyertainya. 

Bagi para ibu, kelahiran anak sebenarnya tidak sesederhana kelihatannya. Di sisi lain, kelahiran anak biasanya membanjiri ibu dengan sejumlah peristiwa baru, terutama terkait dengan perubahan peran dan gaya hidup dalam kehidupan pasangan suami istri serta perubahan identitas sebagai ayah dan ibu. 

Bagi seorang wanita, pengalaman menjadi seorang ibu adalah hal yang sering ditunggu-tunggu. Namun ternyata pergantian peran tidak selalu menimbulkan perasaan yang menyenangkan, sehingga diperlukan dukungan dari keluarga serta orang-orang di sekeliling ibu. 

Baby blues lebih sering terjadi pada ibu yang mengalami masa nifas dalam rentang usia 20 tahun karena masih relatif muda dan masih sulit memikirkan tugas serta tanggung jawabnya. Mengurus kehidupan rumah tangga berserta mengurus bayi pada usia ini, organ reproduksi belum sepenuhnya matang dan dibebani rasa takut akan persalinan.

Selain pada wanita usia kurang produktif, sindrom ini juga dapat terjadi pada wanita berusia 35 tahun, karena pada usia tersebut wanita akan mengalami kecemasan pada kehamilan dan persalinannya, serta organ reproduksi yang terlalu tua untuk menerima kehamilan.

Usia aman untuk kehamilan dan melakukan persalinan adalah ibu yang berusia diatas 20 tahun karena dianggap telah mempersiapkan diri secara fisik, emosional, psikologi, sosial, dan ekonomi.

Sekitar 70-80% ibu nifas mengalami sindrom baby blues. Baby blues syndrome dipahami sebagai gangguan efek ringan yang sering muncul pada minggu pertama setelah melahirkan dan memuncak pada hari ketiga hingga kelima dan menyerang pada ibu selama 14 hari setelah melahirkan. 

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa baby blues syndrome hanya dianggap sebagai efek samping dari kelelahan setelah melahirkan, padahal jika dibiarkan dan tidak cepat untuk ditangani dengan baik maka baby blues dapat memicu depresi pasca persalinan. 

Penyebab Baby Blues Syndrome adalah perubahan hormonal, stres setelah melahirkan, ASI yang tidak lancar atau tidak keluar, frustasi, kelelahan, kurangnya dukungan suami dan keluarga atau orang-orang sekitar, takut kehilangan bayi, serta merasa bosan pada kehidupan yang sedang dijalani. 

Faktor pencetus terjadinya baby blues syndrome lainnya adalah proses persalinan secara sectio secaria, proses persalinan prematur yang menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah dan meningkatnya perekonomian keluarga setelah melahirkan yang berarti kebutuhan perekonomian keluarga juga meningkat. 

Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab terjadinya baby blues syndrome yaitu :

Yang pertama yaitu jenis persalinan bersalin tipe normal lebih sedikit mengalami baby blues syndrome, sedangkan jenis persalinan dengan prosedur lebih banyak mengalami baby blues syndrome. 

Yang kedua dukungan sosial, ibu yang tidak mendapat dukungan sosial lebih banyak mengalami baby blues syndrome, sedangkan ibu yang mendapat dukungan sosial lebih sedikit mengalami baby blues syndrome. 

Yang ketiga persiapan melahirkan dan menjadi ibu, yang belum siap melahirkan dan menjadi ibu lebih banyak mengalami baby blues syndrome, sedangkan yang siap melahirkan dan menjadi ibu lebih sedikit mengalami baby blues syndrome.

Manfaat yang dapat diambil dari uraian diatas adalah kita dapat mengetahui tentang apa itu baby blues syndrome, faktor-faktor yang menyebabkan baby blues syndrome, serta juga dapat dijadikan sebagai edukasi atau pengetahuan mengenai baby blues untuk ibu hamil.

Sebagai seorang ibu setelah pasca persalinan, ibu dapat mencoba untuk menghindari baby blues syndrome dengan cara-cara berikut ini :

Yang pertama jangan membebani diri, sebagai ibu pastinya banyak sekali pekerjaan yang dilakukan selain mengurus bayi juga mengurus pekerjaan rumah. Ibu bisa meminta bantuan suami atau orang terdekat kita. 

Yang kedua tidur dengan waktu yang cukup serta memastikan waktu tidur ibu cukup terpenuhi, memanfaatkan waktu jika bayi tidur kita pun juga ikut tidur. Jika bayi tengah malam menangis karena buang air besar jangan ragu meminta bantuan kepada suami untuk mengganti popok pada bayi. 

Yang ketiga konsumsi makanan yang sehat dan bergizi Selama masa pasca persalinan ibu harus memakan-makanan yang bergizi dan mengandung banyak vitamin. Contohnya buah dan sayur. 

Yang keempat olahraga secara rutin dengan berolahraga ibu dapat mengalihkan perhatian dan kekhawatiran yang dirasakan, meningkatkan suasana hati, dan kualitas tidur.

Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa Baby blues syndrome merupakan gangguan emosi dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Baby blues syndrome yaitu dengan tidak adanya faktor pendukung dari suami atau keluarga terdekat, kelelahan, frustasi, tidak keluarnya ASI, dll. 

Maka dari itu disarankan untuk ibu yang mengalami pasca persalinan untuk selalu menjaga suasana hati dalam keadaan baik. Begitupun dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya, dianjurkan untuk membantu meningkatkan kenyamanan fisik dan psikis ibu nifas atau pasca persalinan.