1 tahun lalu · 773 view · 4 menit baca · Pendidikan 90277.jpg
Pondok Pesantren Babus Salam, Pabuaran Sibang Tangerang

Babus Salam, Pesantren Sederhana yang Mengajarkan Kesederhanaan

Tepat pada bulan juni tahun 2011 silam, saya dan teman-teman seangkatan ditakdirkan lulus dari salah satu pesantren di kawasan Tangerang bernama Babus Salam.

Selama menimba ilmu di sana, ada banyak kenangan dan pelajaran yang melekat segar dalam ingatan saya hingga sekarang. Dari mulai soal asmara, hingga soal Agama. Dari urusan makan, hingga soal persahabatan. Dari urusan nyuci baju, sampai urusan diomelin guru. 

Dari mulai soal tidur tergeletak, hingga urusan kepala dibotak. Dari soal mandi, hinga urusan antri-mengantri. Dari urusan kedisiplinan hingga soal ketatnya aturan yang diberlakukan. Semuanya hampir terekam jelas dalam ingatan. 

Di pesantren inilah saya dan teman-teman menekuni ilmu-ilmu keislaman dari mulai Bahasa Arab, Fikih, Ushul Fikih, Hadits, Tafsir al-Quran dan beberapa disiplin keilmuan lain yang biasa dikategorikan sebagai ilmu-ilmu “keduniawian”, seperti Fisika, Bahasa Inggris, Biologi, Matematika, Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, dan sebagainya.

Selama nyantri, hampir tak ada kemewahan fasilitas yang kami terima dari pesantren ini. Semuanya terlihat sederhana dan biasa-biasa saja. Soal makan, para santri hanya disuapi tempe-tahu dan sayuran.

Satu minggu sekali kadang dikasih lempengan butir telur. Beberapa bulan sekali kadang dikasih potongan daging ayam. Sesekali dikasih “jenggot naga”(bihun kecap), dan menu-menu sederhana lainnya.   

Soal tidur, di malam hari hampir seluruh santri (kecuali santri kelas satu yang masih baru), tidur terkapar tanpa beralaskan kasur yang empuk dan tebal. Kain setipis apapun bisa mereka jadikan alas.

Ketika suhu dalam kamar mulai memanas, sebagian santri ada yang lebih memilih tidur di kelas, di depan kelas, dekat kuburan, di depan kantor, di tangga, di mushalla, bahkan ada yang tidur lapangan, dengan beratapkan tujuh lapis langit indah yang dihiasi dengan gemerlap bintang dan bulan.

Wakti pagi tiba, mereka mulai mengais ilmu di ruangan kelas yang apa adanya. Sebagian santri ada yang tidak punya kelas. Karena tidak punya kelas, di antara mereka ada yang “terpaksa” belajar di depan kamar, di rumah pak kiai, atau di samping kuburan belakang, yang kalau malam hari di huni oleh hantu-hantu nakal yang bergentayangan.   

Menjelang zuhur mereka salat. Salatpun hanya dilakukan di sebuah mushalla kecil, bukan di sebuah masjid yang mewah dan besar. Dan yang perlu Anda ketahui, mushalla tempat mereka salat itu adalah salah satu kelas yang dari pagi sampai siang dipakai untuk belajar. Di malam hari, mushalla itu dijadikan tempat tidur. Mereka berbaring layaknya potongan ikan yang siap dipanggang.

Mushalla Pesantren ini memang multifungsi. Pagi sampai siang dijadikan kelas. Malam dijadikan tempat tidur. Lima waktu dipake salat. Dan ketika hari minggu tiba, ruangan tersebut kadang dijadikan tempat penjengukan.

Begitu juga halnya dengan lapangan Pesantren. Siang dijadikan tempat parkir motor para guru. Menjelang sore lapangan itu dibersihkan untuk tempat salat. Dan ketika malam tiba, lapangan terbuka yang kini beralaskan keramik itu dijadikan tempat pembaringan badan oleh sebagian santri yang merasa tidak nyaman tidur di dalam kamar.  

Itulah cerminan keunikan dan kesederhanan yang diajarkan oleh pesantren kami. Makan seadanya, sekolah di ruangan yang apa adanya, tidur di mana-mana, mau mandi ngantri, mau ngambil nasi ngantri, nyuci baju sendiri, mau jajan berdesakan, mau pacaran dilarang (tapi kalau nggak ketahuan sebenarnya nggak apa-apa sih), mau keluar harus izin, belum lagi dengan sejumlah aturan yang kadang membosankan dan membuat sebagian santri tidak merasa nyaman.

Namun, belakangan saya sadar bahwa kesederhanaan dan sejumlah aturan ketat yang diberlakukan oleh pihak Pesantren itu menjadi bekal yang sangat berarti dalam mengarungi kehidupan. Kesederhanaan yang diajarkan oleh pesantren itu merupakan edukasi yang tak ternilai. Dulu mungkin terasa menyengsarakan. Tapi kini, buahnya saya petik dan saya rasakan.

Berkat kesederhanaan yang dulu diajarkan oleh Pesantren,  saya—dan saya kira santri-santri yang lain juga tentunya—terbiasa untuk hidup sederhana, apa adanya, tidak manja, dan juga bisa hidup mandiri tanpa banyak bergantung pada orang tua. Kesederhanaan yang diajarkan oleh para kiai dan guru-guru kami telah mewariskan pelajaran yang tak ternilai harganya.

Jika Anda sekolah di tempat yang mewah, dan sudah terbiasa dengan kemewahan, saya yakin Anda tak akan merasa nyaman jika di kemudian hari Tuhan mengurung Anda dalam tempurung kemiskinan.

Tapi jika Anda belajar di sekolah yang mengajarkan kesederhanaan, dan Anda sudah terbiasa dengan kesederhanaan, Anda tak akan kaget jika hidup dalam kemiskinan, juga tak akan menolak jika di kemudian hari Tuhan menakdirkan Anda hidup dalam kemapanan.

Karena itu, di samping mengedukasi, sekolah di tempat yang sederhana sebetulnya menguntungkan. Meskipun, keuntungan tersebut diperoleh setelah mereguk “kesengsaraan”. Di sana kita diajarkan kesabaran, ketekunan, ketegaran, keprihatinan, kedisiplinan, kemandirian, keikhlasan, dan tentunya diajari untuk mensyukuri nikmat Tuhan.

Orang yang hidup di bawah payung kesederhanaan kadang lebih mudah untuk mensyukuri nikmat Tuhan ketimbang orang yang hidupnya diselimuti kekayaan. Keterbatasan dan kesederhanaan memang lebih mudah untuk mendekatkan kita kepada Tuhan ketimbang kemewahan dan kekayaan yang terkadang melalaikan dan membuat kita lupa akan tujuan.   

Orang yang sudah terbiasa hidup sederhana juga akan lebih mudah mendayung perahu kehidupan. Tapi orang yang sudah terbiasa hidup dengan limpahan kekayaan, pasti akan merasa sengsara jika suatu waktu Tuhan mentakdirkannya hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan.

Inilah mungkin alasan kenapa dulu Pesantren tempat kami belajar itu mengajarkan kesederhanaan. Karena hidup di pesantren bukan hanya soal memupuk keilmuan, tapi juga pembelajaran bagi para santri dalam mengarungi kehidupan nyata yang terkadang tak berjalan sesuai dengan yang diinginkan.

Saya merasa bersyukur dengan kesederhanaan yang mungkin dulu terasa menyengsarakan itu. Andai dulu saya ditakdirkan hidup di Pesantren yang mewah, mungkin saat ini saya sudah hidup sengsara di negeri orang.

Begitulah hidup. Kadang di suatu masa kita merasa sengsara, tapi di kemudian hari Tuhan membuktikan bahwa kesengsaran yang dulu kita terima itu adalah pilihan yang terbaik untuk kita.

Setelah lima tahun lamanya tak berkunjung, saya tidak tahu persis Pesantren sederhana yang dulu mendidik kami itu sekarang seperti apa. Pastinya sudah berbeda. Tidak seutuhnya sama.

Tapi saya yakin bahwa penanaman nilai-nilai kesederhanaan itu akan selalu ada. Karena kelak nilai-nilai kesederhanaan itulah yang akan menguatkan para santri dalam mengarungi kehidupan nyata di luar sana.

Itulah pesantren kami. Itulah Babus Salam, Pesantren sederhana yang selalu mengajarkan kesederhanaan. Salam rindu untuk pesantren tercinta, salam cinta untuk seluruh kenangan tak terlupakan.    


Kairo, Saqar Quraish, 15 Juli 2017