Tangan kanan mencengkeram seterika. Tangan kiri bertengger di telinga, terpisah oleh telepon genggam murahan. Samar-samar suara merayu dari seberang, sementara si penerima sesekali terkikik manja.

“Oalah Juli.... Kapanlah kau selesainya menggosok ini?!” tegur Ibu.

Lantas apa Juli bergegas meletakkan handphone murahannya itu? Tidak juga. Ia hanya membalas tatapan Ibu dengan tangan kiri yang masih setia merapatkan alat komunikasi abad 20 itu. Sekilas memang, tapi cukup untuk menunjukkan pembangkangan. Kemudian berbicara sebentar kepada suara seberang menutup percakapan mengkek mereka.

Ibu menghela napas, mencoba sabar. Juli, asisten rumah tangga keluarga ini yang sudah mereka kenal kurang lebih 15 tahun yang lalu. Namun ia tidak bekerja dengan mereka selama itu. Polanya bekerja di rumah itu, seperti ingus, keluar-masuk.

Ntah apa saja alasan ia berhenti, entah memang Ibu yang memberhentikan atau memang Juli yang punya masalah. Yang jelas Ibu lah yang selalu meminta Juli kembali. Ibu tau persis susahnya mencari asisten rumah tangga yang jujur, Juli punya sifat itu.

Tugas di rumah keluarga ini tidaklah sulit dan juga tidak banyak. Juli hanya perlu menyapu dan mencuci piring-gelas kotor setiap hari. Mengepel cukup beberapa hari sekali, menyeterika hanya bila Ibu memutar mesin cuci.

Selebihnya Juli boleh pulang dan kembali esok harinya di waktu subuh. Memasak, menjadi urusan Ibu. Walau Ibu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah, Ibu tidak pernah lupa menyiapkan makanan bergizi untuk Bapak dan Anak.

Ibu bukanlah seorang yang perfeksionis. Ibu hanya ingin rumah terlihat bersih. Sayangnya, ketidak-perfeksionisan Ibu sering diamini oleh Juli secara berlebihan.

Konsep ‘terlihat bersih’ yang Ibu anut berhasil dengan baik Juli terapkan. Juli menyapu lantai, namun tapak kaki Anak jadi hitam kalau jalan. Juli menyeterika sambil menelepon, alhasil pakaian yang sudah dicuci tak pernah habis diseterika karena Juli terlanjur lelah dengan teleponnya. Juli gagal fokus.

Beberapa kali Ibu menegur, Juli lantas memperbaiki pekerjaannya. Tapi beberapa kali pula Juli mengulah kembali. Pada beberapa momen, Ibu seperti tidak ambil pusing. Yasudah, kata Ibu. Biarlah, kata Ibu.

Pada satu waktu, amarah Ibu memuncak. Hingga keluarlah kata-kata bernada ancaman pemecatan. Lantas Juli dengan gagah meladeni ancaman Ibu. Usailah sudah hubungan pekerjaan di antara keduanya.

Jauh di lubuk hati Ibu, tak tega ia memberhentikan Juli. Juli adalah seorang janda beranak tiga. Ketiganya punya ayah yang berbeda. Begitulah Juli. Ia punya tekad untuk memperbaiki kehidupan melalui tali pernikahan.

Sayang, Juli selalu mendapatkan laki-laki yang tak mapan dari segi ekonomi maupun moral. Mereka memberi Juli anak, tapi tidak memberi kejelasan masa depan pada Juli dan anak-anak mereka. Hingga Juli lah yang harus membanting tulang sendiri membesarkan anak-anaknya.

Ibu tak tega, tapi Ibu sebal. Ibu cemburu dengan majikan Juli yang lain. Juli sangat patuh kepada mereka. Padahal Juli sering bercerita kepada Ibu bahwa ia sering dilecehkan, walau tidak pernah secara seksual. 

Tapi mereka memperlakukan Juli dengan semena-mena. Memberi Juli makanan basi, mengotori dengan sengaja lantai yang baru saja Juli bersihkan untuk kemudian Juli bersihkan lagi. 

Tapi Juli tak bergeming dari tempat itu. Juli bergeming ketika di keluarga ini. Bisa jadi Juli melampiaskan kekesalan terhadap majikannya kepada Ibu. Karena Juli tau, Ibu tak kan tega. 

Juli tau, Ibu yang rutin memberi beras sekarung untuk Juli dan tiga anak tiap bulan, tidak akan sampai hati memberhentikan Juli lama-lama. Pasti, Juli akan dipanggil lagi bekerja di keluarga ini.

***

Sebulan setelah Juli pergi, Ibu mendapatkan pengganti Juli. Lebih muda dari Juli, lebih cekatan dari Juli. Tapi Ibu masih memikirkan Juli. 

Ah Ibu...kenapa engkau masih memikirkan Juli? Bukankah dia yang dengan petentengan membangkang perintahmu? Bapak dan Anak sering mempertanyakan hal itu kepada Ibu.

Pengganti Juli yang sekarang benar-benar tak neko-neko. Ia patuh dengan perintah Ibu. Dengan Anak ia sayang. Kepada Bapak ia hormat. Ibu pun jatuh hati kepadanya.

Pengganti Juli ini sesungguhnya sepantaran dengan Anak yang berusia delapan belas, tapi ia putus sekolah, cuma sampai SMP. Naluri Ibu sebagai guru tergelitik, Ibu punya keinginan menyekolahkan ia kembali. Tapi bagaimana caranya mengejar ketinggalan?

Dipilihlah sistem homeschooling. Anak juga dengan sukarela mengajari Pengganti Juli hingga akhirnya Pengganti Juli bisa melaksanakan ujian paket C demi mendapatkan ijazah SMA. 

Anak kemudian rutin membimbing Pengganti Juli mencari beasiswa ke perguruan tinggi. Luar biasa, Pengganti Juli mendapatkan beasiswa dari kampus swasta yang baru berdiri.

Kampus itu masih baru, belum begitu terjamin kualitasnya sehingga gencar promosi sana-sini dengan dalih beasiswa. Tak apalah, yang penting Pengganti Juli bisa mengenyam pendidikan tinggi. Tapi beasiswa itu hanya menampung biaya belajar saja, tidak dengan biaya buku atau jajan Pengganti Juli.

Alhasil, gaji yang ia dapatkan dari bekerja kepada Ibu ia pakai untuk keperluan kuliah. Pagi subuh sampai siang ia bekerja di rumah Ibu. Siang ke sore ia pergi kuliah. Sore ke malam ia kembali ke rumah Ibu. 

Ia bereskan sisa-sisa pekerjaan rumah untuk kemudian membuka kembali pelajaran saat kuliah siang tadi dengan sesekali dibantu Anak. Begitu seterusnya. 

Sampailah saat ia berhasil mendapatkan gelar sarjana tata boga. Gelar itu akan Pengganti Juli gunakan untuk melamar ke hotel ternama sebagai Chef Pastry. Bahkan Pengganti Juli punya angan-angan mendirikan usaha pastry sendiri.

Pengganti Juli pamit ke Ibu, Bapak dan Anak. Ibu sedih tetapi Ibu bangga. Pengganti Juli sudah Ibu anggap sebagai anak sendiri. Tetapi Ibu sadar, semua orang berhak merubah nasib menjadi lebih baik. Semua orang berhak maju dan tidak lagi menjadi babu.

Pengganti Juli berjanji kepada Ibu akan mencarikan penggantinya untuk membantu membersihkan rumah Ibu. Tetapi Ibu malah teringat Juli. Ah Juli, apa kabar dia?

***

Bapak menyetel televisi, membuka saluran berita. Penyiarnya membacakan berita isinya begini : “Kekerasan dalam rumah tangga terjadi kembali di Medan. Kali ini kekerasan terjadi kepada pembantu rumah tangga oleh majikan yang bernama Bahlul.

Bahlul yang berprofesi sebagai pedagang sekaligus penyalur PRT di Kota Medan kerap melakukan kekerasan terhadap para pekerja pembantu rumah tangganya. Saat ini polisi sedang mengevakuasi para PRT yang menjadi korban kekerasan Bahlul dan keluarganya. ”

Kali ini wajah yang bukan camera face yang muncul di tabung warta itu. Ternyata korban si Bahlul yang jadi objek berita “Kami semua disiksa. Ada kawan kami juga sesama yang kerja di situ, sampai sekarang pun tak tau kami dimana. Dia paling parah disiksa.

Padahal dia yang paling baik, tak pernah bantah kata Nyonya dan Tuan. Udah 4 tahun dia kerja disitu, tapi sedikitpun tak mau dia kabur. Pernah kami berencana untuk lari, tapi dia tak mau. Dipukul-pukul pun kalau masih bisa ditahan, ditahannya, tak mau dia bilang ‘Aduh’.

Takut ku udah mati pulak dia, karena udah beberapa hari ini tak nampak kami lagi dia dimana sejak dimarahin habis-habisan sama Nyonya. Namanya Juli. Juli Jumawa.” Ibu yang sedang melahap makan malamnya bersama sambal teri kacang, tersedak. 

Anak buru-buru mengambilkan air putih untuk Ibu sembari membatin,”Ibu... Babu harus diperlakukan seperti Babu. Pengganti Juli adalah contoh Babu Gagal, ia tak lulus menjalani ujian menjadi Babu saat kau sayangi hingga kau sekolahkan dia.

Ia berontak terhadap nasibnya lahir menjadi Babu. Sedang Juli adalah contoh Babu Sejati. Ia lulus ujian dari mu hingga ia pantas naik tingkat untuk mendapatkan ujian yang lebih berat dari majikannya yang masuk tivi itu. Sekarang Juli berhasil, Ibu. Jangan lagi kau sedih, Ibu.”

Pogung Lor, 13 Oktober 2016
(saat dikejar deadline tugas akhir)