Pertama kali melihat telinga babi kukus yang dijajakan sebagai cemilan di gang kecil bernama petak sembilan, saya terkesima. Pasalnya telinga babi tersebut sekilas mirip sekali dengan kikil yang biasa saya beli di Warteg depan kampus.

Saat itu ketika saya sedang asik menelanjangi telinga tersebut dengan mata saya, seorang pria dengan suara lantang menegur saya. “Haram! Ini haram! Ini Babi!” Ujarnya kepada saya. Sontak saya mundur beberapa langkah menjauhi telinga tersebut. 

Tentu saja saya tahu bahwa makanan yang dijajakan itu adalah barang haram bagi saya. Seorang pemandu wisata pun sebelumnya telah memberitahu kepada saya bahwa cemilan paling  laris di sini adalah makanan haram bagi saya.

Namun, apakah saya tidak boleh melihat dan mempelajari barang haram itu hanya karena saya menggunakan tudung kepala sesuai anjuran agama saya? Toh saya tidak akan memakannya, karena saya tahu bahwa babi merupakan barang haram bagi saya. 

Peristiwa tersebut membawa saya kembali duduk mengikuti kelas food and society yang menjadi mata kuliah wajib untuk tahun keempat mahasiswa ilmu pangan. 

Saya ingat betul bahwa dalam mata kuliah tersebut, saya mempelajari makna “kita adalah apa yang kita makan” atau yang sering kita kenal dengan “We are what we eat”. Dengan semangat yang membuncah, saya pun menyadari bahwa di dalam makanan ada hal yang lebih kompleks dari sebatas nutrisi dan pelipur lapar. 

Pasalnya, makanan adalah suatu hal yang simbolik dan tidak dapat disangkal yang memengaruhi segala kehidupan manusia. Makanan menyangkut segala aspek seperti strata sosial, agama, ras, kebudayaan, kewarganegaraan, hingga politik. 

Dalam film dokumenter berjudul “Make hummus not war” mencerminkan betapa makanan bisa menjadi salah penyulut perselisihan antara dua negara. Kedua negara tersebut berebut hak kepemilikan atas makanan tradisional bernama hummus yang terbuat dari kacang-kacangan. 

Dalam sebuah esai karya Geeta Kothari, seorang penulis, editor dan dosen pengajar di Universitas Pittsburgh, peran makanan menjadi sangat penting untuk mendefinisikan seseorang menjadi bagian dari suatu masyarakan. Geeta kecil yang merupakan seorang imigran dari  India merasa bahwa dia bukanlah bagian dari apapun karena ia tidak menikmati makanannya.

Ketika ia mencoba untuk menjadi seorang India sesungguhnya dengan membiasakan diri dengan masakan yang disediakan oleh ibunya, ia gagal. Dia pun mencoba mencari jati dirinya dengan menjadi seorang Amerika seutuhnya dengan memakan makanan yang dimakan oleh teman-temannya, ia juga gagal. 

Lantas apa yang Geeta lakukan? Geeta dewasa membiasakan diri dengan memakan kedua masakan yang berbeda itu. Dia pada permulaan hanyalah seorang anak kecil yang menginginkan pengakuan atas dirinya sendiri. 

Dia adalah manusia terlahir dengan darah India di Amerika yang tumbuh menjadi warga negara Amerika. Dia adalah manusia yang menerima takdirnya untuk menerima perbedaan dan menjadikan perbedaan tersebut jati dirinya sendiri.

Makanan yang awalnya menjadi pelipur lapar kini menjadi sebuah pisau bermata dua yang siap menjadi surga atau nestapa bagi siapa saja yang memakannya. Makanan menjadi hal yang lebih kompleks nun menjadi hal yang paling direndahkan posisinya di muka bumi ini.

Walaupun begitu, makanan telah menjadi identitas kita. Secara tidak sadar, merekalah gambaran dari diri kita. Kita memilih makanan sebagaimana kita melihat diri kita sendiri. Seseorang yang dinobatkan dengan pemanjat sosial akan memilih untuk membeli segelas kopi susu dingin dari kedai terkemuka dibandingkan dengan kopi keliling. 

Pemilihan makanan ini pun membuat beberapa dari kita menjadi seseorang yang takut terhadap hal baru dan tidak biasa (neophobia). Ketakutan akan perbedaan dan hal-hal anomali inilah yang membuat kita makin membeda-bedakan diri kita dan makanan yang kita pilih. Seperti, Babi adalah barang haram bagi pemeluk Islam.

Begitu pun sapi adalah barang haram untuk dimakan bagi pemeluk agama hindu. Pandangan-pandangan terhadap makanan itulah yang membuat kita secara tidak sadar menjatuhkan label pada kita sendiri dan orang lain. Seorang muslim yang taat tidaklah mungkin memilih daging babi asap untuk makan malamnya. Seorang yahudi yang taat juga tidak mungkin mencampurkan susu dan daging dalam satu wadah. 

Lalu bagaimana kita melihat orang-orang yang memakan makanan yang berbeda dengan kita?

Tak sedikit dari kita terheran, mengutuki, bahkan membenci mereka yang memilih makanan yang berbeda dari kita. Beberapa umpatan kasar dan hinaan kepada makanan-makanan tersebut. Tapi apakah makanan tersebut salah?

Dalam perihal daging babi, beberapa manusia yang diharamkan baginya daging tersebut merasa perlu mendapatkan alasan yang konkret bahwa babi merupakan binatang yang buruk. Sehingga mereka menimbulkan berbagai asumsi tentang babi yang membuat si pemakan babi pun mendapatkan asumsi yang sama buruknya dengan babi tersebut.

Babi, memang haram bagi mereka. Namun apakah babi buruk sehingga menimbulkan banyak kerugian dalam hal kesehatan? Belum tentu. Babi, lagi-lagi, hanya menjadi alat pembenci agar sebagian orang yang lain dapat pengakuan bahwa apa yang ia yakini adalah benar. 

Jika sapi yang menjadi barang haram, apakah kebencian pada sapi akan memuncak pula? Tentu saja karena aturan ini pun berlaku tak hanya untuk babi, namun juga binatang-binatang yang lain. 

Pada akhirnya binatang-binatang yang disembelih dan dipotong untuk memuaskan nafsu manusia pun hanya menjadi alasan untuk membenci. Mereka yang telah berkorban untuk menjadi daging santapan manusia tidak pernah salah. Sang pembeda, pemakan, dan pembenci-lah yang salah.

Manusia-manusia pembeda tersebut lupa bahwa kita makan untuk hidup dan menikmati hidup. Mereka juga lupa bahwa kita masih memiliki nilai yang sama. Mereka pun lupa bahwa kita masih mempunyai jati diri yang sama. Karena bagi saya, Indonesia merupakan sebuah food court dan kantin yang sangat besar dan menyajikan aneka menu makanan yang menggugah selera. 

Sedangkan saya, kita, rakyat Indonesia adalah pengunjung yang selalu berbaris sesuai piihan menu makanan kita masing-masing. Seberapa pun menu baru yang Indonesia tawarkan, kita masih mempunyai menu andalan yang menjadi comfort food dan jati diri kita seperti nasi putuh, rendang, sate, ayam goreng, dan nasi goreng. 

Dalam menu-menu tersebut seharusnya kita menyadari bahwa kita sama, manusia dengan kebutuhan untuk makan. Setelah itu dengan makanan yang kita pilih, kita akan duduk bersama di sebuah meja yang besar dan luas.

Di sanalah kita memulai untuk mengenal satu sama lain. Berbincang sembali memasukkan satu atau dua sendok makanan yang telah kita pilih. Kemudian berbagi makanan dengan orang lain. Ketika semua itu terjadi, saya akan memilih untuk tinggal.

Memilih untuk tetap berbaris pada food court tersebut walaupun di depan saya terdapat antrian panjang yang harus saya tempuh. Bahkan sesekali saya rela untuk melakukan pertunjukan di food court tersebut demi membuat semua orang di dalamnya nyaman. Semua itu karena kita adalah makanan yang kita pilih dan bagaimana kita memilih untuk menikmatinya.