Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara menetapkan dua calon yang akan bertarung di Pilkada serentak 2018. Dari tiga calon yang mendaftar KPU menetapkan dua calon yang memenuhi syarat. Adapun JR. Saragih dan Ance, tidak memenuhi syarat karena ijazah yang tidak di legalisir. Hal ini membuat sontak para pendukung JR. Saragih. Bahkan dalam video singkat JR. Saragih saat konfrensi pers di depan wartawan sampai menetaskan air mata.

Dia menunjukkan semua berkas telah disiapkan dan tidak ada kata untuk tidak memenuhi syarat, dan akan melaksanakan bunding ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menggugat masalah tersebut. Memang kalau dilihat secara logika JR. Saragih merupakan Bupati Simalungun dua periode. Secara otomatis kalau hanya masalah legalisir ijazah tidak mungkin JR. Saragih tidak memenuhi syarat.

Tentu publik akan bertanya ada apa dengan pencalonan JR Saragih dalam dua periode menjabat bupati Simalungun, apakah ada kejanggalan sejak dulu, tetapi tidak ada yang berani membongkar. Atau dari dulu pencalonananya cacat hukum?. Masyarakat jadinya banyak berandai-andai. Andai saja karena masalah legalisir  ijazah tidak mungkin JR. Saragih lolos dalam Pilkada Bupati tahun 2015. Apakah ada udang di balik bakwan, dengan KPU yang sama hasilnya kok bisa berbeda.  Aneh tapi nyata mungkin itulah yang terjadi dalam pilkada Sumut.

Tentu dengan di tetapkan dua pasangan, maka Pilkada Sumut semakin seru, head to head antara Edy Rahmayadi dan Djarot. Satu sisi JR. Saragih membawa keberuntungan kepada pasangan Djarot, sisi lain hal tersebut bisa menjadi bumerang atau strategi baru dalam Pilkada Sumut. Semoga pilkada Sumut tidak ditunggangi dengan metode baru dimana buaya di kadalin.

Setelah ditetapkan Sumut hanya dua Calon dalam pilkada yaitu Edy Rahmayadi/ Musa Rajekshah dan Djarot Sayful Hidayat/Sihar PH Sitorus. Ada orang senang dan juga orang yang sedih, senang karena ada yang beranggapan bahwa sebelum perang sudah kalah. Bagi sebagian orang sedih karena jagoannya tidak memenuhi syarat.

Mungkinkah ini permainan atau hanya sandiwara, dengan hiruk-pikuk yang terjadi di pilkada sumut. Atau peristiwa ini gaya KPU saja untuk mengalihkan perhatian. Semua kita hanya bisa menduga-duga. Ketika beberapa wartawan menanyakan mungkinkah ini penjegalan, namun JR Saragih bilang, saya tidak tahu hanya di atas manusia ada Tuhan. Biarlah nanti proses hukum  yang menjawab. Karena para pendukung JR Saragih akan mengadakan banding ke Bawaslu.

Namun ada yang menarik dari perkataan JR. saragih tidak perlu ada yang disalahin, biarlah proses hukum yang menjawab. Dan tidak perlu ada yang ribut. Perkataan ini menurut saya perkataan yang bijaksana. JR Saragih merupakan sosok yang rendah hati. Tangisannya mengandung makna penyesalan, dan perkataannya mengandung seribu makna dan membuat kita berpikir tujuh keliling. Apakah ada kong kali kong di antara calon.

Beberapa orang mengatakan tidak pantas seorang lulusan militer menangis di depan banyak orang, bagi sebagian orang tangisan itu adalah wajar, karena JR. Saragih juga manusia. peristiwa ini mengingatkan kita untuk hati-hati dengan ijazah dan legalisir ijazah. Hal tersebut membuat betapa penting sekolah di sekolah yang jelas dan kredibilitasnya jelas.

Babak baru pilkada sumut telah memberikan pelajaran bagi masyarakat Sumut untuk selalu tenang dan damai. Apapun hasilnya nanti, harus siap menerima kenyataan. Kalaupun nanti JR. Saragih menuntut dan hasilnya kalah. Semua pendukung harus menerimanya dengan tulus. Itu lebih mulia daripada melakukan kriminalisasi politik.

Kalau pilkada Sumut ingin menjadi Pilkada yang damai dan aman semua masyarakat bahu-membahu dalam manjaga keamanan, tidak menutup kemungkinan radikalisme akan terjadi, karena menyangkut hak-hak dari pendukung dari salah satu calon dalam pesta demokrasi. Kita ingin Pilkada Sumut berjalan dengan lancar dan penuh dengan kebijaksanaan.

Pilkada sumut hal yang penting dalam menentukan nasib Sumut lima tahun kedepan, babak baru pilkada sumut merupakan proses pembelajaran bagi pelaku demokrasi yang lebih baik. Sumatera Utara telah lama menunggu pemimpin yang benar-benar tulus dalam membangun Sumut yang lebih baik. Jangan biarkan pilkada Sumut di nodai kriminal dan radikalisme politik.