Babak baru pasca-normalisasi hubungan diplomatik Uni Emirat Arab (UEA)-Israel pun dimulai. Setelah penerbangan pertama pesawat komersial Israel, El Al, (31/8), dengan nomer penerbangan Y971. 

Pesawat tersebut menandai penerbangan langsung pertama kalinya dari Israel ke Uni Emirat Arab (UEA), menandai kesepakatan bersejarah yang ditengahi Amerika Serikat (AS) pada bulan ini untuk menormalkan hubungan antara kedua negara.

Penerbangan dari Israel ke Abu Dhabi tersebut adalah peristiwa bersejarah. Mengingat selama berpuluh tahun lamanya Israel tidak dapat menjalin hubungan resmi dengan UEA. 

Melihat hal ini, Israel berusaha menjalin kerja sama di berbagai bidang, termasuk dalam bidang penerbangan, keamanan, dan ekonomi. 

Selanjutnya, Israel juga berencana menormalisasi hubungan diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah lainnya, termasuk Bahrain, Sudan, Yordania, Arab Saudi, dan Qatar. Tetapi, beberapa negara tersebut memutuskan untuk tidak menerima ajakan Israel tersebut.

Arab Saudi, misalnya, tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Bagi Arab Saudi, hal itu tentu akan berdampak besar bagi negaranya. Apalagi Arab Saudi telah menyepakati Kesepakatan Damai Arab tahun 2002. 

Jika Arab Saudi gegabah melakukan normalisasi dengan Israel, itu sama artinya Arab Saudi telah “mengkhianati” kesepakatan tersebut. Meski sebelumnya Arab Saudi juga memperbolehkan jalur udara negaranya dilewati oleh pesawat Israel, tetapi Arab Saudi menyatakan tidak akan menerima ajakan normalisasi dengan Israel.

Negara-negara lainnya pun bertindak sama dengan Arab Saudi, seperti Sudan, Yordania, dan Qatar. Mereka jelas tidak akan menerima ajakan Israel untuk melakukan kesepakatan damai. Hal ini bagi mereka adalah persoalan geopolitik Timur Tengah dan perjuangan Palestina. 

Sebenarnya, jika kita melihat lebih dalam, normalisasi UEA-Israel difasilitasi dan dimediasi oleh AS. Itu artinya normalisasi tersebut tidak hanya murni atas dasar kesepakatan dua negara tersebut, tetapi juga ada campur tangan AS. Dalam hal ini, Donald Trump ingin mendapatkan dukungan dari negara-negara Arab dalam upaya Pemilihan Presiden AS tahun ini.

Bahrain, Akhirnya Menyusul UEA

Kabar mengejutkan dating dari Bahrain. Negara tersebut telah menyusul UEA melakukan normalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel. Tetapi, hal ini menjadi kekuatan baru bagi poros Israel-UEA dalam membangun kekuatan. 

Bahrain adalah amunisi baru bagi aliansi yang dibangun antara UEA-Israel. Tentu dalam hal ini, AS juga tak luput dalam upaya mempertemukan ketiga negara untuk melakukan normalisasi.

Kantor Berita Bahrain, BNA, yang dikelola negara menerbitkan pengumuman akan mengizinkan ruang udaranya dilintasi semua penerbangan pulang-pergi antara Israel dan UEA. Pernyataan tersebut juga tanpa secara langsung menyebutkan Israel. 

Izin penggunaan ruang udara Bahrain ini dikeluarkan selang beberapa hari setelah Arab Saudi mengeluarkan izin penerbangan komersial Israel melintasi ruang udaranya untu menuju UEA.

Tampaknya babak baru kesepakatan damai antara UEA, Israel, dan Bahrain akan terus berlanjut. Di tengah pandemi covid-19 yang makin bertambah kasusnya. Negara-negara Timur Tengah masih disibukkan dengan urusan geopolitik dan upaya normalisasi hubungan antar negara. 

Konstelasi politik, reformasi birokrasi, dan kerja sama di berbagai bidang menjadi dinamika yang tidak dapat dipisahkan dalam percaturan hubungan antarnegara satu dengan yang lain.

Sepertinya akan ada banyak negara Arab yang bakal menyusul UEA dan Bahrain. Kita tengah sama-sama menunggu bagaimana keputusan negara-negara Arab. Melalui keputusan krusial dalam menormalisasi hubungannya dengan Israel, tentu akan berpengaruh besar bagi geopolitik kawasan. 

Bahkan, terkait persoalan Palestina akan menjadi isu krusial di tengah banyaknya negara Arab yang melakukan normalisasi dengan Israel.

Pertarungan Antar Poros

Tindakan UEA memutuskan untuk membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel yang diumumkan pada 13 Agustus lalu dapat dibaca sebagai bagian dari upaya UEA dalam melindungi kepentingan dan transaksi apa pun di masa mendatang. 

UEA dan Israel dalam kancah peta geopolitik di Timur Tengah merupakan lawan Turki dan Iran. Situasi ini menjadi sangat jelas bahwa pertarungan antarporos kekuatan di kawasan Timur Tengah semakin nyata.

Upaya UEA melalukan normalisasi hubungan diplomatin ingin memberi pesan bagi Turki dan Iran. Sesungguhnya, mereka tidak akan mudah dalam menciptakan peta politik, ekonomi, dan stabilitas keamanan baru di Timur Tengah tanpa melalui kompromi dengan kekuatan lain. 

Selain itu, pertemuan antara Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Raja Yordania Abdullah II, dan Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi di Amman pada 25 Agustus lalu dapat dikatakan sebagai upaya membangun koalisi Arab baru melawan intervensi asing (Turki dan Iran), menyusul lumpuhnya organisasi Liga Arab.

Babak baru pasca dibukanya hubungan diplomatik secara resmi antara UEA-Israel akan berlanjut dan semakin seru. Disusul selanjutnya Bahrain juga membuka hubungan diplomatik dengan Israel adalah keputusan luar biasa. 

Artinya, Bahrain siap dengan segala konsekuensi yang terjadi atas kebijakan itu. Mengingat, Bahrain juga tergabung dalam Negara Teluk, yang didalamnya Arab Saudi dan UEA juga termasuk didalamnya.

Koordinasi Mesir. Yordania, dan Irak dapat dibaca sebagai upaya untuk mengimbangi poros Iran dan Turki. Hal itu juga dapat dimaknai sebagai sebuah daya tawar untuk melindungi kepentingan bangsa Arab dalam urusan politik, ekonomi, dan stabilitas keamanan baru di kawasan Timur Tengah kedepan.

Berdasarkan pemetaan geopolitik diatas, dapat diketahui bahwa di luar kekuatan Turki dan Iran, lahir kekuatan regional baru di kawasan Timur Tengah, yakni UEA-Israel-Bahrain dan koordinasi Mesir, Yordania, dan Irak, yang bakal membuat pertarungan dan tensi dalam upaya kontestasi politik, ekonomi, dan stabilitas keamanan baru di Timur Tengah akan tambah menarik untuk dianalisis dan diperbincangkan.

Tentu, di luar kekuatan regional tersebut, masih ada kekuatan internasional lain seperti Rusia, AS, dan Perancis, yang ingin memuluskan semua kepentingan mereka di Timur Tengah nanti. 

Apalagi AS akan menyongsong Pemilihan Presiden tahun ini. Sementara, Prancis tengah menanti reformasi birokrasi Lebanon, dan Rusia memperkuat hubungan dan kerjasamanya dengan Iran. 

Maka, kita sama-sama menunggu skenario dan perjalanan panjang pasca normalisasi hubungan diplomatik UEA-Israel ini. Menuju peta baru geopolitik Timur Tengah yang makin seru dan kompleks.