Mahasiswa
2 bulan lalu · 5216 view · 3 menit baca · Cerpen 94332_95609.jpg
Facebook.com

Antara Setia dan Wasiat

Malam menandakan adanya bulan yang bersinar, serta bintang sebagai pelengkap kegelapan. Namun tidak setiap malam mereka bersinar, pasti suatu keadaan ada mendung hitam yang menutupi di setiap pancarannya.

Bercanda gurau keluarga kecil yang dihuni oleh sepasang suami istri, Zulfikar dan Maira panggilannya, mereka belum dikaruniahi seorang anak dalam pernikahannya selama 5 tahun, namun sepasang suami istri itu nampak bahagia dan mesra setiap saat serta saling melengkapi

Dalam perbincangan malam hari selesai makan malam, mereka bercanda gurau. Ketika itu ibu Zulfikar meminta Zulfikar seusai makan datang menemuinya.

"Zul, sehabis makan kamu menemui ibu di kamar" (perintah ibu Zulfikar).

"Assalamualaikum Bu?" (Salam Zul, ketika di depan kamar ibunya). "Waalaikumsalam, masuk nak" (Jawab ibu Zul).

"Zul, kalian menikah sudah berapa tahun nak?" (Pertanyaan ibu Zul yang mencekam itu dan membuat kaget).

"Alhamdulillah sudah 5 tahun, ada apa Bu, tidak seperti biasanya bertanya seperti ini?" (Zul kelihatan bingung dengan pertanyaan ibunya).

"Apakah kamu tidak ingin memberikan Ibu cucu nak?" (Ungkapan ibu Zul bersedih). Zulfikar langsung terdiam dan menundukkan pandangan dari ibunya.

Pertanyaan yang berat dijawab oleh Zulfikar dalam permasalahan ini, "Ibu, mungkin Allah belum mengkaruniahi kami seorang anak" (Jawaban Zul dengan nada rendah).

"Tapi nak, Ibu menginginkan segera" (jelas ibu Zul). "Maaf Ibu, Zul permisi dulu assalamualaikum" (Zul beranjak meninggalkan ibunya).

Zulfikar pergi dari kamar ibunya, dia merasa bersalah atas sikapnya yang tidak sopan terhadap ibunya. Lantaran tanggapan ibu Zul yang mendesak itu, membuat Zul bersedih atas perkataan ibunya.

Zulfikar tidak akan mungkin bercerita kepada istri tercintanya, tentang hal yang dibicarakan oleh ibunya. Ketika Zulfikar masuk kamar, ternyata istrinya sudah tidur dengan pulas.

Pagi bersinar dengan pancaran matahari yang terang, menerangi alam semesta. Maira mempersiapkan sarapan untuk suami dan keluarga kecilnya, dengan semangat, ikhlas dan penuh kebahagiaan.

Namun di pagi itu, ibu Zul sedang sakit. Jadi mereka hanya makan berdua saja. Sehabis sarapan, Maira datang ke kamar ibu mertuanya untuk memberikan sarapan, Maira pun menyuapi mertuanya dengan kasih sayang.

Selesai makan, tiba-tiba mertuanya mengatakan hal lain. "Mai, Ibu boleh ngomong serius denganmu, tapi jangan bilang sama Zul?" (Pertanyaan ibu Zul yang membuat Maira penasaran).

"Iya Bu silahkan" (jawab Maira dengan ketundukan). "Sebelum ayah Zul meninggal, beliau menitipkan satu wasiat yang belum terlaksanakan, wasiat itu adalah" (ibu Zul berhenti sejenak).

"Wasiat apa Bu?" (Maira penasaran dengan wasiat itu).

"Wasiat itu adalah Zul dijodohkan dengan seorang perempuan, dia adalah anak teman ayah Zul. Beliau berdua saling berwasiat, jika Zul akan menikah dengan Qila, anak teman suami Ibu. Sebenarnya, Zul tidak mengetahui hal ini, namun ini waktunya kamu dan Zul tahu."

Maira menangis setelah kata demi kata terucap dari mertuanya, dia tidak kuat menahan pedih yang dia terima. Maira tidak tahu dengan apa yang dia lakukan, untuk mengembalikan keadaan.

"Mai, sebenarnya ini salah Ibu. Sebelum Zul menikahimu, wasiat itu belum ibu sampaikan kepada Zul sampai sekarang. Ibu baru ingat ketika Ibu membuka dokumen ayah Zul tadi" (Penjelasan mertuanya kembali).

"Terus apa yang bisa Mai lakukan Bu? (Penuh tetesan air mata).

Ibu Zul memberikan saran, yang membuat Maira menangis tidak berdaya atas kata demi kata terucap. Saran ibu Zul itu yaitu Maira harus merelakan Zul untuk menikah dengan Qila, dan Maira harus menerima jika dipoligami.

Perbincangan antara Maira dengan mertuanya sangat lama, Zul menunggu istrinya di ruang keluarga, tiba-tiba Maira keluar dari kamar ibunya menangis.

Zul bertanya kepada Maira tentang apa yang terjadi dengan dirinya, tetapi Maira menolak untuk berbicara dan ingin menjelaskannya pada malam hari.

Malam tiba selesai salat, Zul meminta Maira untuk menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya.

"Sebelum kita menikah, ternyata ada wasiat ayahmu yang belum tersampaikan. Mengenai perjodohanmu dengan anak dari teman ayahmu" (Maira tak kuat untuk melanjutkan perkataannya).

"Maksud kamu?" (Zul tidak percaya dengan apa yang diucapkan Maira). Maira menangis, sedangkan Zul segera menemuhi ibunya di kamar. 

Ibu Zul menceritakan semua apa yang dia katakan kepada Maira, sama halnya dengan apa dia katakan kepada Zul.

Zul bingung dan cemas atas apa yang dia lakukan selanjutnya, lantaran dia sangat menyayangi istrinya dan tidak mungkin berpisah dengannya. Namun di sisi lain, ada wasiat ayahnya yang merupakan tanggungan keluarga.

Zul bingung tanpa mengetahui langkah dia untuk memutuskan masalah ini. Tetapi Zul segera mencari informasi mengenai keberadaan Qila yang belum tahu dimana.

Zul mencari keberadaan Qila, untuk memecahkan permasalahan wasiat ini. Namun apa yang terjadi, Zul mendapat kabar dari masyarakat daerah Qila tinggal tersebut, bahwa Qila telah meninggal dunia 2 tahun lalu, sedangkan keluarga Qila telah pindah ke luar kota.

Zul kaget atas berita yang dia dengar, kemudian dia beranjak pulang dan menceritakan semuanya tentang Qila kepada istri dan ibunnya.

"Ternyata setia memenangkan segalanya" (ucap Zul ke istrinya).

"Jika wasiat lebih terpenting, namun setialah yang tak akan berpaling" (sahut Maira).

Beberapa bulan kemudian, Maira hamil, lengkap sudah kebahagiaan rumah tangga Zul dan Maira.

Artikel Terkait