Penulis
11 bulan lalu · 393 view · 3 min baca · Agama 95337_28243.jpg
Unsplash

Azan dan Dua Wajah Islam

Meluruskan Pandangan tentang Azan (Bagian 1)

Fenomena yang menimpa Meiliana di Tanjung Balai, sejatinya bukan persoalan mayoritas-minoritas. Bukan pula persoalan kalah-menang, tetapi lebih kepada ‘kedewasaan’ dalam beragama. Ketika semua umat beragama dewasa dalam mengamalkan ajaran agama masing-masing, maka konflik yang mengatasnamakan agama tidak akan pernah ada.

Akan saya jelaskan, apa itu kedewasaan dalam beragama?

Tetapi sebelum itu, akan saya uraikan terlebih dahulu tentang ‘azan’ dalam Islam. Uraian ini sekaligus meluruskan sebuah opini yang ditulis oleh Maman Suratman di Qureta tanggal 27 Agustus 2018. Singkatnya, di tulisan itu, Maman Suratman banyak membahas tentang azan, tetapi tidak dilandasi dengan landasan keilmuan yang mendalam.

Azan dan Syariat

Saya mulai dengan pembahasan mengenai syariat. Secara etimologi, ‘syariat’ berasal dari akar kata Bahasa Arab, sya-ra-‘a (شَرَعَ – يَشْرعُ) yang memiliki arti: mengawali, memulai, memahami, atau memasuki. Selain itu, sya-ra-‘a juga memiliki arti sebagai peraturan, ketentuan, atau undang-undang.

Dari akar kata sya-ra-‘a, kemudian terbentuk kata syari’ah, yang bermakna “sumber air”. Masih meninjau dari sisi etimologi, syariat juga disebut dengan ath-Thariqah al-Mustaqimah, yang bermakna “metode atau jalan yang lurus”. Referensi bisa dilihat di al-Madhal li Dirasati asy-Syari’ah, karya Abdul Karim Zaidan.

Baca Juga: Mengagungkan Toa

Sedangkan menurut terminologi, saya merujuk pada Umar Bin Sulaiman al-Asyqar. Beliau menuturkan bahwa syariat adalah hukum atau ketentuan yang ditetapkan Allah melalui kitab-Nya atau rasul-Nya (sunnah) yang meliputi akidah, ibadah, akhlaq, maupun amaliyah dunia. Referensi bisa dilihat di al-Madkhal ila asy-Syari’ah wa al-Fiqh al-Islami.

Lebih tegas lagi, Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa memberikan penguatan bahwa manusia dengan segala urusannya tidak akan lepas dari syari’at. Baik itu urusan peribadatan, pekerjaan, politik, muamalah, dan sebagainya.

Berkenaan dengan azan, jumhur ulama bersepakat bahwa ‘mengumandangkan azan’ itu disyariatkan. Bahkan, pendapat hukum fikih terkuat memasukkan azan ke dalam kategori fardhu kifayah. Artinya, tidak diperbolehkan di suatu negeri atau daerah tidak ada yang mengumandangkan azan sama sekali.

Berpijak dari uraian di atas, ketika Maman Suratman mengatakan “azan bukanlah bunyi-bunyian yang harus diperdengarkan secara publik, dan azan seharusnya diprivatisasi”, secara tidak langsung Maman Suratman sedang mencederai keyakinan beragama umat Islam. Terlebih lagi Maman mengatakan, seolah azan yang dikumandangkan umat Islam sekadar untuk gagah-gagahan semata. 

Lagi, Maman Suratman berceloteh bahwa azan tidak perlu dikumandangkan dikarenakan seluruh umat Islam sudah tahu jadwal salat. Baginya, azan tidak perlu dikumandangkan, apalagi pakai toa, agar tidak mubazir, mengingat umat Islam yang sudah tahu jadwal salat.

Meminjam istilah dari Rocky Gerung, logika seperti itu cacat, dan merupakan ‘kedunguan’. Bagaimana mungkin syariat bisa digeser dengan logika. Hal ini sama ketika ada seseorang yang mengatakan “esensi dari ibadah adalah mengingat Tuhan. Jika saya sudah bisa mengingat Tuhan, maka saya tidak perlu ibadah yang sifatnya ritual”. Tentu logika semacam ini tidak dibenarkan dalam beragama.

Terakhir, Maman juga berceloteh, seharusnya azan itu diprivatkan saja – hanya untuk umat Islam saja – toh mubazir kalau tidak semua orang menghendaki azan di ruang publik.

Untuk Maman Suratman yang saya hormati, kami (umat Islam) beribadah karena Allah, bukan berlandaskan setuju atau tidaknya orang lain (publik) terhadap ibadah yang kami lakukan. Sungguh, pernyataan Anda ini sangat berbahaya. Karena, apabila ibadah dilandaskan pada setuju atau tidaknya orang lain, maka suatu umat yang tidak setuju dengan ibadahnya umat lain akan serta-merta ditolak – peperangan antarumat beragama akan terjadi.


Menjawab logika Maman Suratman, saya akan mengambil analogi Boarding Pass. Jika kita ingin naik pesawat, maka syarat mutlak yang harus kita miliki adalah tiket atau boarding pass ­– dokumen akses untuk menaiki pesawat. Sebelum masuk ke dalam pesawat, calon penumpang terlebih dahulu check in, kemudian menuju ruang tunggu.

Pada selembar boarding pass, tertera nama calon penumpang, nomor penerbangan, data maskapai, dan tentu saja jam keberangkatan. Di ruang tunggu, calon penumpang akan sering mendengarkan informasi dan pengumuman perihal keberangkatan pesawat yang lantang dari pengeras suara.

Lho, padahal kan di boarding pass sudah tertera jam keberangkatan, mengapa harus diumumkan berulang-ulang? Apalagi tidak semua calon penumpang memiliki data penerbangan yang sama, bukankah itu akan menganggu calon penumpang yang lain? Ya memang seperti itulah ketentuan baku penerbangan. Saya menyebut pengumuman di bandara itu sebagai “syariat” – sebagaimana azan.

Pengumuman keberangkatan itu akan terus dilantangkan hingga pesawat lepas landas. Tidak peduli siapa calon penumpangnya. 

Pernahkah ada calon penumpang yang memprotes berisiknya pengumuman dari pengeras suara di ruang tunggu itu? Jika ada, bisa dipastikan orang itu memiliki gangguan kejiwaan. Karena pengumuman itu tidak bisa diprivatkan hanya untuk calon penumpang tertentu saja.

Untuk Maman Suratman, di artikel berjudul Suara Azan Pakai Toa itu Mubadzir, Anda bertutur bahwa Anda bukan ahli agama – banyak ketidaktahuan Anda tentang azan. Maka sebagai langkah yang bijaksana, seharusnya Anda mengkaji secara mendalam tentang azan, bukan malah menulis panjang lebar tentang azan di atas ketidaktahuan Anda.


Artikel Terkait