Semenjak berencana mengadakan kegiatan bedah buku oleh DEMA IAIN Surakarta yang mengundang Haidar Bagir, kampus tersebut mengalami peristiwa yang sulit atau boleh dikatakan aneh. Tiba-tiba saja, disalah satu gedung terjadi kebakaran tanpa penyebab yang pasti. Hanya sebagian gedung saja yang hangus karena langsung segera datang pemadam kebakaran sehingga tak menimbulkan korban jiwa. 

Tak berselang lama setelah peristiwa itu, mahasiswa dihebohkan dengan ditemukannya ular berkepala mirip anjing berkaki dua di belakang kampus. Hewan itu ditemukan secara tak sengaja saat tengah menyantap hasil buruannya. Bahkan kejadian yang terakhir ini satu hari sebelum pelaksanaan acara, air tanah di IAIN Surakarta tiba-tiba berubah, mengeluarkan bau seperti telur busuk, kemungkinan air tanah tersebut telah terkontaminasi belerang, padahal IAIN Surakarta berada jauh dari pegunungan. 

Seakan-akan peristiwa demi peristiwa itu memberi pesan bahwa inilah azab bagi kampus yang mengundang pembicara perusak akidah ummat Islam. Dan ternyata, semua kejadian di atas hanyalah ilusi, imajinasi, dan khayali alias hoax. 

Tapi kemudian muncul pertanyaan, apakah harus seperti itu dahulu bentuk azab yang kita kehendaki sebagai konsekuensi mendatangkan Haidar Bagir? Tentu saja tidak. Tidak perlu azab se-irrasional itu, cukup permintaan pihak luar untuk membubarkan acara tersebut diiringi aksi boikot di media sosial, itu saja azab yang sangat menyakitkan bagi dosa intelektual kampus yang hobi memuja formalisme dan merayakan sistem akreditasi. 

Ketika ruang-ruang publik tak diberikan teras, sedang mahasiswa hanya dibingungkan dengan tugas-tugas tak jelas. Lembaga mahasiswa hanya berisi wacana pembentukan kelas, mereka sibuk berebut kekuasaan tanpa batas, dan lulusannya hanya dituntut untuk bekerja keras, maka saksikanah bagaimana kampus memanas hanya karena mengundang intelektual kelas atas. 

Sebenarnya, hal itu terjadi akibat IAIN Surakarta mengalami stagnasi dan regresifitas pemikiran. Coba saja kalau IAIN Surakarta itu semenjak dahulu banyak menyelenggarakan kegiatan sejenis, yang tak hanya mengundang tokoh yang distigmakan Syi’ah, tapi juga Komunis, Liberal, Kristen, dan Sekuler untuk memberikan kuliah umum, minimal 1 bulan 2 kali, pasti gerakan-gerakan penolakan takkan terdengar gaungnya.

Sebab mereka akan memafhumi jika IAIN Surakarta memang merupakan tempat kajian akademik yang berdiri di atas nilai objektif dan plural, simbol masyarakat akademik multikultural. 

Walaupun entah nanti distigmakan sesat, tak mengapa, asal demi melakukan liberasi atas konservatisme dan kebodohan. Tapi, bagaimana hendak menyelenggarakan acara-acara semisal, jika lokus terkecil seperti komunitas saja tak pernah tercium bau aktifitasnya. 

Ambil contoh saja, jurusan Aqidah Filsafat yang sudah 1 dekade lebih berdiri, tak ada satupun komunitas yang berdiri, apalagi sampai boleh dibanggakan atas diskusi-diskusi atau wacananya. Semua mahasiswa dibuat harus lulus tepat waktu supaya tak mengotori akreditasi.

Akibatnya, jurusan filsafat yang seharusnya menjadi pioner bagi perkembangbiakan pemikiran dan banal dengan perbedaan, beralih menjadi tempat pembuangan mahasiswa yang tidak diterima pada jurusan yang dituju, bersesak-sesakkan memenuhi slogan “yang penting kuliah”. Memenuhi misi developmentalisme. 

Demikian pula dengan lembaga mahasiswa yang sejatinya merupakan bentuk representasi miniatur kekuasaan dalam kampus. Tak nampak geliat forum-forum progresif bersifat kontinyu atau paling tidak diskusi-diskusi ajeg merespon isu-isu kemanusiaan. 

Lembaga mahasiswa hanya dijadikan lahan politisasi identitas untuk melakukan kaderisasi pergerakan, serta tentu saja ajang kontestasi unjuk kekuasaan, itu sudah cukup. 

Di zaman yang menurut Kuntowijoyo seharusnya epistemenya adalah teori, tapi bagi mahasiswa IAIN Surakarta masih saja bermainkan ideologi. Bertahan lebih lama dengan masa-masa romantisme era orla-orba bahkan jauh ke era zaman bergerak, awal-awal munculnya kesadaran identitas. Akibanya, setiap mengadakan kegiatan, secara implisit nampak tendensi ideologis. 

Apalagi pada saat perhelatan musyawarah besar, baik pada jenjang fakultas atau universitas, secara eksplisit bisa dilihat bagaimana orientasi politik dengan munculnya kader pergerakan sebagai calon tunggal. Pola kekuasaan yang bisa ditebak kemana arahnya. 

Belum lagi dengan eksistensi pers yang tersembunyi, tidak mengalami produktivitas. Hening memberitakan kampus dalam keadaan baik-baik saja. Padahal barometer dinamisnya suatu kampus bisa diukur dari progresifitas persnya. Iya kalau pers itu dibungkam, tapi jika sengaja diam? Ini menandakan IAIN Surakarta mengalami anomali yang meniscayakan.

Jika ada gelombang suara yang menderu menyatakan “ada kok seminar-seminar dan pelatihan di IAIN Surakarta. Positif-positif lagi”. Ya, memang ada. Demi melanggengkan rezim positivistik tentu harus diadakan. 

Seminar tentang kiat menjadi seorang pebisnis, entrepreneur, yang enggan peduli dengan kecurangan system yang dibentuk kapitalisme hingga pemiskinan terjadi disegala lini. Ada pula seminar merah jambu yang memformulasikan birahi ke dalam institusi kepemilikan pribadi tanpa pernah terbesit adakah persoalan yang lebih penting ketimbang pergesekan antarkelamin.

Dan seminar motivasi religius antagonistik, mendapuk-dapuk diri sebagai kaum beradab dengan jalan mengklaim orang lain biadab. Semua kegitan itu diselenggarakan tak lain dan tak bukan untuk membantu bagaimana kapitalisme paripurna semakin terus menjadi, mereifikasi ketidakadilan, melestarikan hegemoni, dan hidup dengan merayakan alienasi. 

Maka sebenarnya, dari penolakan itu kita belajar bahwa azab nalar sangat menakutkan. Ketika kita hendak mendengar pengajaran dari orang yang sudah distigmakan “sesat”, maka setiap produk pemikirannya otomatis sesat, tanpa konfirmasi, tanpa verifikasi, atau setidaknya minimal melakukan distingsi atau objektifikasi. 

Tautologi yang lantas diperkuat dengan proposisi teologis sangat determinan bagi upaya pembubaran, penolakan, perusakan, pemboikatan untuk setiap kegiatan yang dianulir tidak sepaham, sejalan, seragam, dengan ortodoksi walaupun itu dalam wilayah ilmah-teoritis. 

Akhirnya, IAIN Surakarta perlu berbenah dan menginsyafi diri atas matinya ruang publik. Terutama panitia penyelenggara, dalam hal ini tentu saja lembaga mahasiswa yang banyak mendapatkan pujian atas keberaniannya dalam menyelenggarakan acara tanpa menghiraukan intervensi pihak luar.

Bagi penulis sebaliknya, inilah ajang bagi lembaga mahasiswa untuk dikritisi, bahwa akibat statisnya kehidupan kampus, bedah buku mengundang Haidar Bagir saja memunculkan pro-kontra yang luar biasa massif. Dan mereka sebagai pemangku kebijakan, pemegang kekusaan harusnya menyadari hal itu. 

Jikalau tidak mulai berbenah, maka IAIN Surakarta akan mengalami kemandekan nalar yang siksanya akan lebih pedih lagi. Kita pun harus mengambil ibrah atas azab mendatangkan Haidar Bagir yang digeruduk pihak luar untuk dibubarkan. Kedepannya dapat melakukan transformasi menjadi kampus yang lebih memiliki kesadaran sosial. 

Jika boleh penulis menyarankan, mari kita lakukan kegiatan-kegiatan serupa secara bertubi-tubi dan kontinyu. Mulai penuhi spasial kampus dengan forum-forum kultural sampai seminar-seminar formal yang progresif-liberatif tanpa henti. Dosen-dosen digalakkan untuk mengisi diskusi di luar kelas, komunitas-komunitas sastra, sosial, filsafat, sosial, politik perlu diinisiasi berdiri.

Taman baca, rumah baca, dibuat menjamur. Perpustakaan ditekan untuk memperbanyak dan memperbagus buku-buku. Jurnal-jurnal dan pers, digotong untuk lebih proaktif, tak hanya sekadar memenuhi program kerja semata. 

Kita akan melihat kelak, saking sumpeknya dengan ruang publik progresif, sampai-sampai mahasiswa akan begitu mendambakan bangku kelas yang kaku dan membosankan itu. 

Dan kita lihat, sampai di mana dengung-dengung penolakan akan terus menggema memasung kebebasan berpikir setelah kita buka lebar ruang-ruang kebijaksaan dan kegiatan berdialektika ria.