Pemuda zaman sekarang? Stigma negatif dan skeptis langsung bermunculan. Hedonis, tidak sopan, slebor, anarkis, dan penilaian negatif lainnya. Pemuda tidak lagi dianggap sebagai generasi penerus bangsa yang dapat dipercaya. Bahkan, masyarakat menilai pemuda sebagai perusak.

Buktinya? Lihatlah di berita berita terkini. Sering kita jumpai perilaku pemuda sekarang yang disorot media, seperti tawuran, mabuk mabukan, penggunaan narkoba, dan perilaku negatif lainnya. Akan jadi bangsa macam apa kita ini? Saya sebagai seorang pemuda pun, miris memikirkannya.

Beda dulu, beda sekarang. Pada masa Kebangkitan Nasional, pemuda adalah penggerak utama Revolusi Indonesia! Sebut saja nama nama seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Sukarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, Budi Utomo, dan banyak lagi. Mereka semua sudah mengabdi dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia sejak mereka masih seorang pemuda.

Belum lagi pada masa revolusi fisik, di mana kita masih mempertahankan kemerdekaan kita. Para pemuda berjuang di Surabaya, Jakarta, Karawang, Bekasi, dan di seluruh penjuru tanah air, mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka mencintai Ibu Pertiwi, serta bertindak dan berperilaku berdasarkan rasa cinta itu. Pemuda masa itu adalah antitesis dari pemuda masa kini.

“Kok jadi gini?” Penggalan salah satu lagu lawas ini langsung muncul dalam benak. Pemuda masa lampau juga manusia, begitu pun pemuda sekarang. Kedua pemuda ini menghirup Oksigen yang sama, hidup di planet yang sama, dan memiliki potensi kecerdasan yang sama. Lalu, mengapa keduanya sangat kontras dan berbeda? Setelah beberapa lama, saya menemukan titik perbedaannya. Bukan satu, dua titik perbedaan.

Pertama, pemuda zaman lampau, khususnya pada masa perjuangan, hidup pada kondisi yang sulit. Penyiksaan fisik? Penindasan? Diskriminasi rasial? Kontak senjata? Sudah biasa untuk mereka.

Setiap hari, mereka pasti melihat hal-hal di atas. Sementara, pemuda masa kini hidup pada kondisi yang berbeda. Mereka difasilitasi oleh uang dan teknologi. Ditambah lagi mereka tinggal di negara yang berdaulat, membuat mereka makin terlena. Pemuda masa lampau ditempa oleh lingkungan, sementara pemuda masa kini dimanjakan oleh lingkungan.

Kedua, karena pemuda zaman lampau ditempa oleh lingkungan, mereka sadar (conscious) akan lingkungan mereka. Mereka memiliki rasa kepedulian akan tanah airnya. Sehingga, mereka menjadi seorang patriot, melimpahkan segala tenaganya yang melimpah, untuk berkontribusi pada bangsanya.

Sementara itu, pemuda masa kini tidak sadar akan lingkungan sekitarnya. Mereka fokus pada ego mereka sendiri. “Suka suka gue dong, hidup hidup gue!” Begitu pola pikir mereka. Ditambah bumbu seperti paparan budaya asing yang negatif, menambah kehancuran dan keacuhan diri mereka.

Tenaga yang melimpah itu dilampiaskan pada kegiatan yang negatif dan tidak bermanfaat sama sekali. Sebut saja tawuran, dugem, mabuk, hingga konsumsi narkoba. Pemuda yang satu sadar, yang lain tidak. Sehingga, meski tenaganya sam-sama berlimpah, media pelampiasannya jauh berbeda.

“Wah, penulis terus menyalahkan pemuda! Apakah penulis skeptis terhadap pemuda Indonesia?” Mungkin pembaca bertanya - tanya setelah membaca tulisan saya. Jawabannya adalah tidak, sama sekali tidak!

Saya percaya bahwa pemuda Indonesia punya potensi untuk menjadi generasi penerus yang gemilang, bahkan lebih dari pemuda masa Revolusi Kemerdekaan. Mengapa? Pemuda sekarang memiliki penunjang yang jauh lebih baik. Mulai dari teknologi yang mempermudah, negara yang berdaulat, lingkungan yang jauh lebih baik, dan banyak lagi. 

Selain itu, pemuda juga memiliki potensi dalam diri mereka yang sangat besar. Seperti yang pernah dinyatakan oleh Bung Hatta pada tulisannya, Peranan Pemuda Menuju Indonesia Merdeka, Indonesia Adil dan Makmur.



Pertama, pemuda masih murni jiwanya dan ingin melihat pelaksanaan secara jujur apa – apa yang telah dijanjikan kepada rakyat. Pandangan politiknya terbatas kepada cara melaksanakan tujuan itu, yang dasar dasarnya sudah tertanam dalam Undang-Undang Dasar. Kedua, mahasiswa pada universitas dididik berpikir secara ilmiah. Dan ilmu tujuannya mencari kebenaran.

Jiwa pemuda bak air di sebuah kolam. Mudah untuk dimurnikan, mudah juga untuk dikotori. Potensi pemuda tidak dapat terwujud, jika mereka masih mementingkan ego dan nafsu mereka sendiri. Akhirnya, tenaga mereka terbuang sia-sia belaka. Untuk apa? Memenuhi ego dan nafsu mereka! Inilah titik temu masalah pemuda masa kini!

Maka, pemuda Indonesia harus memulai sebuah perubahan besar. Perubahan besar yang dimulai dari diri sendiri. Wahai pemuda, ubah pola pikir dan mental kita! Bangunkan kesadaran diri terhadap bangsa kita sendiri! Limpahkan tenaga yang berlimpah ruah itu untuk memperbaiki bangsa ini! Salah satu media yang paling efisien untuk memperbaiki bangsa ini, adalah dengan  partisipasi aktif pemuda dalam politik, untuk menegakkan meritokrasi.

Meritokrasi? Benda apa itu? Meritokrasi adalah suatu model politik dan kepemimpinan yang berdasar kepada prestasi dan kemampuan seseorang. Intinya, yang berprestasi dan mampu, dialah yang memimpin. Terdengar sangat indah, begitupun penerapannya.

Negara-negara maju telah menerapkan model kepemimpinan ini secara menyeluruh. Lalu bagaimana dengan kita, Indonesia? Meritokrasi sudah mulai dibangun, tetapi belum secara menyeluruh.

Iya, sudah ada Basuki Tjahaja Purnama. Iya, sudah ada Tri Rismaharini. Iya, sudah ada Ridwan Kamil. Tetapi, apakah ini terjadi di seluruh wilayah Republik Indonesia? Belum! Permainan uang, jabatan, hingga senioritas masih terjadi, bahkan mendominasi perpolitikan kita. Lalu, apa hubungannya dengan pemuda? Apa yang harus dilakukan pemuda?

Pemuda harus terjun langsung ke dalam politik. Untuk apa? Pemuda harus berperan sebagai penyelamat dan penegak kebenaran dalam politik bangsa Indonesia. Pemuda harus menanamkan meritokrasi ke dalam politik dan kepemimpinan bangsa ini, lebih dalam lagi. Sekali lagi, lebih dalam lagi!

Pemuda yang berjiwa murni itu ibarat mikroba pemusnah kotoran dalam air sungai yang pekat. Pemuda  memusnahkan kotoran, seperti politik uang, monopoli partai, oligarki kotor, dan menjernihkan politik dan kepemimpinan negara yang (masih) kotor ini.

Jika perpolitikan dan kepemimpinan negara kita sudah bersih, maka akan tumbuh pemimpin pemimpin baru yang bersih, berjiwa muda, efisien, serta memiliki mental melayani. Mereka akan tumbuh bak jamur di musim hujan, jika pemuda telah melakukan peranannya dalam politik.

Sehingga, kesejahteraan rakyat di berbagai wilayah Indonesia akan meningkat. Ketika itu terjadi, maka, jalan menuju Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur akan terbuka lebar. Jika kita berusaha, percayalah, semesta pasti berkonspirasi untuk mewujudkannya, pasti.

Ayo kawan, kita mulai dari sekarang! Kembangkan dirimu! Jadilah manusia yang berguna dan kuat! Tunjukkan kemampuan dan kepemimpinanmu! Ayo, masuklah sebagai penjernih politik kepemimpinan negeri ini! Meritokrasi tak akan tegak tanpamu, kawan!

Sebagai penutup, saya gubah sebuah sajak tanpa nama.

Wahai pemuda, berjuanglah bagi bangsamu
Garuda di dadamu
 Bhinneka Tunggal Ika di genggamanmu
Pancasila dan UUD 1945 menjadi penerangmu
Menuju meritokrasi tujuanmu
Supaya mekarlah cita-cita, pendiri negaramu.

Sekianlah refleksi saya, terima kasih.

#LombaEsaiPolitik