Indonesia merupakan salah satu negara paling konsumtif di Asia Tenggara. Konsumtif atau konsumerisme adalah perilaku seseorang yang membelanjakan uangnya tanpa pertimbangan yang baik dan juga berlebihan. 

Seseorang yang berperilaku konsumtif biasanya mengutamakan keinginan daripada kebutuhan. Karena itu, banyak barang yang tidak terlalu penting tetapi karena ingin memenuhi ego atas gaya hidupnya mereka jadi menghamburkan uang untuk membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. 

Perilaku konsumtif ini menimbulkan rasa puas kepada sang konsumen dan dapat berdampak baik terhadap sektor perekonomian. Tetapi, ada beberapa kasus perilaku konsumtif yang memaksakan keinginan di luar pendapatannya.

Seseorang menjadi sulit untuk mengatur keuangannya karena ia tidak bisa menentukan mana yang harus didahulukan dalam membelanjakan uangnya dan dapat menimbulkan masalah finansial yang serius seperti terjerat hutang. 

Pada zaman yang serba canggih ini, berbelanja tak harus keluar rumah dan tak harus selalu menggunakan uang cash. Hadirnya online shop juga menambah tingkat konsumtif masyarakat Indonesia. 

Teknologi berbelanja dari rumah ini menyediakan berbagai kebutuhan dan beberapa fitur yang memudahkan seseorang dalam berbelanja. Kita hanya tinggal pilih barang yang diinginkan melalui smartphone, menuliskan alamat yang dituju, lalu memilih metode pembayaran yang tersedia dan tinggal menunggu barang diantarkan.

Perilaku konsumtif ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Gengsi

Adanya media sosial sebagai media berbagi sedikit banyak menjadi ajang pamer bagi kebanyakan orang. Barang mewah, nongkrong di tempat yang trendi, bahkan liburan sekalipun dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan antara satu individu dengan yang lain.

Seseorang dengan harga diri yang tinggi tentu tidak ingin ketinggalan untuk menunjukkan apa yang ia punya agar tidak kelihatan ketinggalan dengan  teman yang lain. Tidak masalah jika kita ingin memenuhi gengsi yang ada, asalkan kita tidak memaksakan dan punya cukup uang untuk itu.

2. Gaya hidup yang mewah

Tidak ada yang salah dengan gaya hidup mewah, asal kita memiliki uang lebih untuk memenuhinya. Jika kita memaksakan untuk bergaya hidup mewah hingga rela pinjam uang sana sini untuk memenuhinya, ini baru yang namanya konsumtif. 

Tidak perlu gaya hidup mewah untuk membuktikan diri kita pada orang lain, cukup membeli barang sesuai budget kita dan menjadi diri sendiri, ini membuktikan kalau kita orang yang tahu akan hal -hal yang perlu diprioritaskan.

3. FOMO

Fear of missing out (FOMO) adalah istilah yang digunakan saat seseorang merasa khawatir ketinggalan segala sesuatu yang sedang menjadi trend. Misalnya makan  di tempat makan yang sedang ramai di media sosial, mencoba liburan ke tempat baru, atau membeli barang keluaran terbaru. 

Seseorang terkena FOMO akan mengalami kendala keuangan atau finansial karena selalu mengikuti apa yang teman-temannya beli atau gunakan karena takut akan tertinggal.

Jika tidak dihentikan, tidak dapat dipungkiri perilaku konsumtif cenderung memberikan dampak negatif. Lantas, bagaimana cara mengatasi perilaku konsumtif? Mengatasi perilaku konsumtif dapat dimulai dengan hal-hal kecil yang jika dilakukan secara bertahap dapat memberikan dampak yang signifikan, di antaranya : 

1. Membeli Barang Sesuai Kebutuhan

Langkah pertama yang dapat dilakukan yaitu dengan membeli barang yang benar-benar penting dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Perilaku konsumtif timbul karena kita mulai membeli barang yang tidak penting atau hanya berdasarkan keinginan saja. 

Maka dari itu kita harus mengetahui apa yang harus diprioritaskan dalam membeli barang. Dengan mengetahui prioritas mana yang harus didahulukan, kita dapat mengatasi perilaku konsumtif.

2. Membuat Anggaran Biaya

Tujuan utama membuat anggaran biaya adalah agar kita mengetahui dana yang masuk atau keluar. Anggaran biaya bisa digunakan untuk mengatur pengeluaran untuk berbagai kebutuhan, baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Dengan begitu, kita bisa memotong hal-hal di luar anggaran yang memungkinkan terjadinya pembengkakan pengeluaran.

3. Mengurangi Bepergian

Salah satu faktor yang membuat seseorang berperilaku konsumtif adalah tidak dapat menahan dirinya untuk bepergian atau jalan-jalan. Kegiatan yang bertujuan untuk menghilangkan penat setelah lelah dengan pekerjaan ini memang sering dilakukan oleh banyak orang. akan tetapi, terlalu sering bepergian juga tidak baik. Maka dari itu, kita bisa mengurangi intensitasnya. Dengan demikian, perilaku konsumtif pelan-pelan dapat hilang dengan sendirinya.

4. Menabung

Menabung adalah salah satu hal yang penting. Bagi sebagian orang, menabung bukan perkara mudah terutama orang dengan kebiasaan konsumtif. Tetapi dengan menabung kita bisa menabung untuk mengurangi perilaku konsumtif sekaligus untuk mengamankan finansial sehingga dapat mengatasi masalah yang sekiranya membutuhkan biaya di masa depan.

Perilaku konsumtif di kalangan masyarakat ini lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan dampak positif. Maka dari itu, sebagai generasi muda yang telah mengetahui apa saja dampak dari perilaku konsumtif, generasi muda harus lebih bijak lagi dalam membelanjakan uangnya agar dapat menghindari perilaku konsumtif.