Siapa yang sesudah memasak sampahnya langsung dibuang? Eitss ada hal yang bisa dilakukan selain langsung membuangnya loh. Setelah membaca tulisan ini jangan lagi membuang sampah tersebut ya.

Sampah yang dibuang setelah memasak termasuk ke dalam sampah rumah tangga. Sampah ini tergolong sebagai sampah organik karena dapat dengan mudah terurai secara alami dan memiliki sifat yang ramah lingkungan.

Sampah rumah tangga sendiri merupakan sampah hasil olahan rumah tangga yang sebagian besarnya merupakan bahan organik. Misalnya sisa-sisa makanan, sayuran, kulit buah, dan lain-lain.

Sampah rumah tangga ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu sampah anorganik dan sampah organik. Kedua jenis sampah ini memiliki perbedaan yang perlu diketahui agar nantinya ketika akan melakukan pengolahan sampah dapat dilakukan secara baik dan tepat. Lalu apa sajakah perbedaannya?

Sampah Anorganik

Sampah ini merupakan sampah yang sulit terurai secara alami. Sampah anorganik lebih baik untuk didaur ulang daripada dibuang begitu saja mengingat sifatnya yang sulit terurai.

Mendaur ulang sampah anorganik merupakan keputusan yang tepat karena kita dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Contoh dari sampah anorganik yaitu plastik, botol kaca, kaleng minuman, dan lain-lain.  

Sampah Organik  

Sampah ini bersifat ramah lingkungan karena dapat terurai secara alami sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Sampah organik sebenarnya juga dapat didaur ulang agar dapat meminimalisir penumpukan sampah.

Penumpukan sampah organik dapat mendatangkan berbagai macam penyakit karena sampah organik dapat membusuk sehingga keputusan untuk mendaur ulangnya merupakan keputusan yang tepat. Contoh dari sampah organik yaitu kulit buah, sisa sayuran, dan lain-lain.

Sampah organik ini lebih menarik untuk dibahas, karena ada sebuah fakta yang mungkin belum diketahui oleh kebanyakan orang. Untuk itu, mari kita masuk ke pembahasannya.

Kita sering kali mendengar kalimat ajakan “Ayo kurangi penggunaan plastik!” atau “Berhentilah menggunakan plastik!”. Ajakan ini dapat kita temukan melalui media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mayoritas orang mungkin merasa tidak asing lagi dengan ajakan ini.

Ajakan tersebut memang benar adanya. Sampah plastik memang lebih sulit terurai dibandingkan dengan sampah organik, sehingga akan lebih baik untuk kita mencegah dan mengurangi pemakaian plastik dengan membawa tas sendiri misalnya.

Namun di samping itu, pernahkah Anda mendengar sebuah fakta yang mengatakan bahwa jenis sampah yang mendominasi di Indonesia bukanlah sampah plastik, melainkan sampah organik?

Indonesia diperkirakan menghasilkan 64 juta ton sampah di setiap tahunnya. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di Indonesia total sampah didominasi oleh sampah organik sebanyak 60%. 

Selanjutnya ada sampah plastik sebanyak 14%, lalu disusul dengan sampah kertas sebanyak 9% dan karet sebanyak 5,5%. Sisanya terdiri dari logam, kain, kaca, dan jenis sampah lainnya sebanyak 11,5%. 

Melihat dari fakta ini, kita harus menyadari bahwa bukan hanya sampah plastik saja yang harus kita perhatikan. Sampah organik juga harus kita pertimbangkan keberadaannya karena justru sampah organiklah yang mendominasi lingkungan kita.

Untuk itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendaur ulang sampah organik. Cara-cara tersebut antara lain:

Menanam kembali

Ada beberapa sisa sayuran yang dapat ditanam kembali ketika sudah tidak terpakai setelah memasak. Misalnya sayuran sawi hijau. 

Ketika memakan sawi hijau, kita hanya memakan bagian daun dan batangnya saja sehingga bagian bonggol sawinya tidak terpakai dan biasanya akan dibuang begitu saja. Alih-alih membuangnya, kita dapat menanam kembali bonggol tersebut. 

Caranya pun cukup mudah, yaitu dengan merendam bonggol sawi tersebut dengan air hingga akarnya muncul kemudian memindahkannya ke media tanam dan selesai. Kita hanya perlu menunggu sawi tersebut tumbuh hingga dapat dipanen kembali. 

Adapun sayuran lain yang dapat di taman kembali selain sawi hijau. Sayuran tersebut diantaranya adalah kangkung, seledri, dan juga daun bawang.

Pupuk kompos

Apabila sayuran sudah tidak bisa ditanam kembali, maka menjadikannya sebagai pupuk kompos adalah solusi yang dapat dilakukan. Pupuk kompos sangat baik untuk menjaga kesuburan tanah agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal.

Cara untuk membuat pupuk organik ini adalah dengan memasukan semua sampah organik ke dalam satu wadah, kemudian masukan tanah secukupnya sesuai dengan banyaknya sampah organik yang dimasukkan.

Siram permukaan tanah dengan air yang sudah tercampur dengan EM4 kemudian tutup rapat dan biarkan sekitar tiga minggu pada tempat yang tidak terkena paparan sinar matahari.

Penyubur tanaman

Pertumbuhan tanaman dapat kita optimalkan dengan menambahkan penyubur tanaman. Untuk membuat penyubur tanaman organik dapat dilakukan dengan menggunakan bahan dari sisa dapur, yaitu kulit pisang dan cangkang telur.  

Caranya yaitu dengan memasukan kedua bahan tersebut ke dalam blender, kemudian campurkan ke media tanam dan selesai. Tanaman dapat tumbuh lebih cepat dari biasanya dengan menggunakan campuran tersebut.

Hal tersebut dapat terjadi karena campuran tersebut mengandung Kalsium, Kalium, dan Fosfor yang baik untuk pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh secara optimal.

Selain itu, kita juga dapat membuat penyubur tanaman dengan menggunakan tulang sisa. Caranya yaitu dengan merebus tulang hingga empuk, kemudian panggang di oven selama 20 menit pada suhu 350 derajat lalu hancurkan dengan menggunakan blender sampai berbentuk bubuk.

Aplikasikan ke tanaman dengan mencampurkan bubuk sebanyak satu sendok teh dengan segelas air. Bubuk tulang ini dapat meningkatkan kandungan hara N, P, dan K sehingga sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

Pestisida alami

Pestisida berfungsi untuk melindungi tanaman dari hama yang dapat merusak dan mengganggu pertumbuhan tanaman yang apabila dibiarkan dapat membuat tanaman tidak dapat tumbuh secara optimal.

Maka dari itu, ada bahan sisa dapur yang dapat digunakan untuk membuat pestisida alami. Bahan tersebut adalah kulit bawang.

Cara membuatnya sangat mudah, yaitu dengan mencampurkan kulit bawang dan air secukupnya kemudian rendam semalaman. Setelah itu saring air rendaman lalu masukan ke dalam botol dan selesai.

Pengaplikasian pestisida ini dapat dilakukan dengan mencampurkan 10 tutup botol air rendaman dengan satu liter air biasa. Aplikasikan dua kali seminggu agar tanaman terhindar dari hama yang mengganggu.

Pembersih dapur alami

Membuat pembersih dapur dari bahan alami tidaklah sulit, karena yang kita perlukan hanyalah sampah hasil sisa dapur yaitu kulit jeruk.

Caranya adalah dengan memotong kulit jeruk lalu rendam dengan cuka selama minimal 2 minggu.  Setelah itu cuka jeruk dapat digunakan dengan menambahkan sedikit air. 

Sifat asam cuka dapat menurunkan pH dan menyebabkan instabilitas membran sel mikroba sehingga cuka jeruk ini cukup ampuh digunakan sebagai pembersih alami.