Berapa hari yang lalu, saya menerima hadiah dua buku dari Penerbit Mizan atas feedback dan reaksi positif yang membangun dari artikel saya di Qureta yang berjudul Kacaunya Alih Bahasa Bentang Pustaka.

Tulisan tersebut berupaya memberikan kritik membangun atas kinerja alih bahasa mereka sebagai bentuk usaha berbagi pengalaman dalam peningkatan kualitas alih bahasa pada produk-produk literasi.

Dua hadiah buku tersebut adalah The Fates Divide dan Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan". 

Tak lupa saya berterima kasih kepada Penerbit Mizan yang memberikan teladan baik dalam memberikan feedback terhadap kritikan dan masukan dari pembacanya.

Saya menanggapi pemberian hadiah buku tersebut sebagai bentuk lecutan untuk kembali kritis. Sederhananya, buku hadiah tersebut akan saya kritisi lagi. 

Yang pertama, buku dengan judul Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan karya Agus Purwanto, D.Sc. Sedang buku yang kedua, nanti, tunggu giliran, setelah saya mendapatkan versi teks bahasa asingnya. 

Untuk buku Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan karya Agus Purwanto, D.Sc., ini erat kaitannya dengan esensi lingua sacra (teks-teks suci) pada kitab-kitab suci. Untuk lebih mendalam sebagai tambahan materi tentang lingua sacra, silakan baca artikel dengan judul Tuhan Klien Lingua Sacra? dan Sastra Profetik Membela Tuhannya.

Hubungan sains dan Islam selama ini dijabarkan dan memiliki berbagai macam model dab korelasi-korelasi. Hubungan tersebut dapat dimulai dari ayat-ayat semesta yang dinalarkan dengan melakukan pendekatan atau dengan proses islamisasi sains. 

Cara ini dapat dilakukan dengan kaji ayat-ayat semesta dengan menggunakan pendekatan logika dan sekumpulan rumus-rumus ranah sains yang sudah ada. Atau dengan kata lain, hanya berusaha menjelaskan Islam dengan terminologi sains yang sebenarnya tak perlu. 

Seperti pada buku Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Quran Yang Terlupakan karya dari Agus Purwanto, D.Sc, ahli fisika teoritis lulusan Universitas Hiroshima, Jepang, yang hanya dan terlihat berusaha mengislamisasi sains. Atau dengan kata lain, hanya menjelaskan ayat-ayat kauniyah dengan terminologi sains agar terlihat rumit dan ilmiah. 

Buku setebal 450 terbitan Mizan ini sepertinya berusaha mengislamisasikan sains lewat ayat-ayat semesta sebanyak 800 ayat kauniyah yang diklasifikasi dari A-Z. Terminologi-terminologi sains yang dipaksakan seperti yang disebut pada halaman 198 tentang "Mekanika Kuantum Asy'ariyah" dan "Atomisme Asy'ariyah".

Sementara tidak bisa mengislamisasi terminologi "Tarian Sunyi Feynman" sebagaimana yang tertulis pada halaman 341.

Telah diketahui bahwa diskursus sains dan agama yang menyodorkan persoalan-persoalan paradoksikal, buku ini cukup berat ke terminologi beserta rumus-rumus sains ketimbang ke agama. Bagaimana tidak, mulai halaman 186 hingga halaman 412 dipenuhi dengan penjelasan-penjelasan ala sains beserta rumus-rumusnya yang berat.

Oleh karena itu, menurut saya pribadi, ayat-ayat semesta atau kauniyah tak perlu penjelasan sains yang serumit itu. Ayat-ayat semesta di dalam Alquran tentunya sudah jelas dengan makna khas bahasa-bahasa wahyu yang sederhana dan mudah dimengerti. Tidak perlu juga untuk membedakan antara sains modern dan sains Islam sebagaimana disebut pada halaman 186 pada buku ini.

Pendekatan ayat-ayat kauniyah dengan sains bukan hal baru dalam khazanah keilmuan. Salah satunya tokoh orientalis, Maurice Bucaille yang mencurahkan kemampuannya untuk menafsirkan Alquran melalui pendekatan pengetahuan Modern (sains). 

Tidak seperti sang penulis buku ini, Maurice Bucaille tidak membedakan antara sains modern dengan sains Islam. Tidak pula mempertentangkan antara tauhid dan kematian Tuhan yang menjadi pemantik kebangkitan sains Islam. 

Semua lingua sacra yang bercerita tentang semesta, baik Alkitab, Alquran, ataupun kitab suci lainnya adalah sama-sama berusaha mendeskripsikan fenomena paling sederhana dan paling mudah dimengerti oleh khalayak. 

Maurice Bucaille dalam buku best seller-nya, La Bible Le Coran at La Science, yang sudah terbit duluan pada 1976 telah menafsirkan Alquran dengan membuktikan kebenaran ilmiah Alquran yang sangat sesuai dengan sains modern. Jadi bukan berusaha mengislamisasi terminologinya ataupun memaksa menjadi istilah sains Islam.

Kenapa lingua sacra (ayat-ayat suci) terutama ayat-ayat semesta (kauniyah) tak perlu penjelasan sains? Ada beberapa hal yang perlu dipahami.

Bahasa Alquran yang penuh dengan lingua sacra (ayat-ayat suci) telah lama diperdebatkan dalam sejarah penafsiran Alquran. Hal ini tentunya berhubungan dengan wacana retorika Arab yang asli dan khas. Hingga dapat memicu kontroversi yang cukup besar, terutama dalam konteks mazhab kalam. 

Yang fatal adalah "Klasifikasi Ayat" pada halaman 71 hingga halaman 179 di mana surah yang juga kaya dengan ayat-ayat semesta justru berkalsifikasi nol (tidak ada), seperti: surah Al-Fatihah (0), dan sebagian besar surah-surah juz Amma. 

Bagaimana bisa kosong (nol) tentang nilai sains dari sebuah surah yang bergelar Ummul Qur’an, Fatihatul Kitab, dan As-Sab’ul Matsani? Ini menunjukkan bahwa klasifikasi hanya menyerap terminologis saja agar terkesan sains Islam. 

Hal lain yang membuat lingua sacra tak perlu di-Islamisasi-kan pengaruh literatur Yahudi Rabbinic. Tentunya relasi ini ada keterpengaruhan Alquran oleh lingua sacra kitab-kitab sebelumnya yang begitu kuat. 

John Wansbrough, seorang sarjana Barat terkenal, adalah salah satu dari mereka yang menaruh banyak perhatian pada masalah ini dalam karya monumentalnya, Studi Qur'anic

Lalu bagaimana bisa ada pembedaan antara sains modern dengan sains Islam? Terus bagaimana peran lingua sacra yang memuat ayat-ayat semesta dari kitab suci lainnya?

John Wansbrough mampu menunjukkan susunan tekstual yang begitu kuat antara teks Alquran dan tafsirnya yang sangat sulit sekali untuk dipisahkan karena merupakan kesatuan narasi lingua sacra pada kitab-kitab sebelumnya. Bahkan ia menyebutkan bahwa teks Alquran telah tersubordinasi baik secara konseptual atau secara sintaksis kepada pola narasi besarnya.

Komposisi lingua sacra Alquran setidaknya telah mengulang kembali sebuah tema dalam Alkitab, misalnya secara tradisional telah berasosiasi dengan ekspresi kenabian.

Secara umum di kalangan pemikir (filsuf) dan teolog telah memandang bahwa konsep ayat-ayat semesta beserta metafisikanya merupakan sebuah ontologi saja. Artinya, kajian objek bisa jadi hanya penelaahan dalam batas pra-pengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pasca-pengalaman (seperti surga dan neraka).

Bagaimana hal ini bisa dijelaskan dengan sains, apalagi ditambahi embel-embel sains Islam? 

Sedang ontologi sains adalah dasar atau entitas yang "being" dan juga sebagai causa sui (penyebab dari eksistensinya sendiri). Para filsuf terkemuka menyetujui kesimpulan ini, karena apa pun yang tidak memiliki substratum material, menurut mereka, tidak dapat didemonstrasikan, karena premis-premis demonstrasi pada akhirnya harus mempunyai unsur dasar yang konkret dalam kenyataan.

Pun, Plato telah mengakui bahwa kepastian tidak mungkin dapat diraih dalam metafisika, kecuali kemungkinan dan terkaan.

Yang dibutuhkan teologi, menurut Jean-Luc Marion, adalah ‘Tuhan-tanpa-Ada’ (God without Being). Sedangkan menurut JeanLuc Marion, yang dibutuhkan dalam wacana teologi adalah ‘Tuhan-tanpa-Ada’.

Berbeda dengan filsafat, teologi memang tidak berbicara tentang “ada” secara langsung, namun ia berbicara tentang “Tuhan” yang sering kali diidentikkan dengan “ada” itu sendiri. 

Diskursus filosofis lingua sacra (teks suci) mendapatkan tantangan yang sangat besar. Masalah utamanya terletak pada kepercayaan manusia pada eksistensi Tuhan itu sendiri sebagai sumber pemberi lingua sacra.

Pendirian tersebut kemudian dikembangkan oleh seorang Filsuf Jerman bernama Christian Wolff. Christian Wolff cenderung menganut pendirian yang meyakini bahwa pembicaraan tentang "yang ada" sebagai "yang ada" dan yang "ilahi" harus dipisahkan dan tidak dapat dibicarakan bersama-sama. 

"Metafisika umum" membahas mengenai yang ada sebagai yang ada artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas sedang "metafisika khusus" membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus: teologi, kosmologi, dan psikologi. 

Menurut Thomas Merton (1915-1968), seorang teolog dan mistikus Katolik Roma berkebangsaan Amerika, para teolog mistis menghadapi persoalan ini sebagai persoalan “mengatakan apa yang sesungguhnya tidak dapat dikatakan" (saying what cannot really be said).

Oleh karena itu, tak perlu bersikeras membuat lingua sacra terjelaskan secara sains. Apalagi mengislamisasikan sains dengan embel-embel sains Islam. Apalagi mereduksi surah-surah yang sebenarnya kaya nilai sains hanya karena tidak ditemukan terminologi sainsnya.