Langit di pagi hari mendadak menjadi hitam pekat. Dan anehnya, aku melihat awan-awan berbentuk seperti sayap malaikat berukuran besar. Aku memandangi awan tersebut dengan terheran-heran. Tapi, lama-kelamaan perasaan heran itu berubah menjadi decak kagum. Setidaknya rasa kagum itu, bisa mengobati kekecewaanku kepada ayah.

Aku kecewa dengan ayah yang berangkat kerja tanpa pamitan kepadaku. Sebelum berangkat kerja, biasanya ayah selalu memelukku, menggendongku, dan mengecup keningku. Waktu aku tanya ke ibu. “Kenapa ayah tidak pamit kalau mau berangkat kerja, Bu?” Dan ibu menjawab, “Ayahmu harus pergi sebelum ayam berkokok, Nak. Tentu saja kamu masih tertidur pulas, dan ayah tidak mau mengganggu waktu tidurmu itu.”

“Hmm... Padahal aku ingin ayah memelukku, menggendongku dan mengecup keningku sebelum bekerja, Bu.” Ibu mendekatiku dan mengelus rambutku, lalu berkata, “Ayahmu tadi sudah memeluk dan mengecup keningmu. Hanya saja kamu tidak sadar, Nak.”

Dengan perasaan masih kecewa, aku bertanya kepada ibu. “Apakah ibu menyayangi ayah?”

“Tentu saja. Ayahmu itu orang yang hebat. Bisa menjadi kepala keluarga yang penyayang dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Meskipun ibu selalu khawatir ketika ayah berangkat kerja.” Sembari ibu menatap foto ayah yang gagah saat memakai seragam pilot yang tertempel di dinding.

“Oh, ya, di luar sedang hujan. Kenapa kamu tidak bermain hujan di halaman? Bukankah kamu menyukai hujan, Nak?” Tanya ibu.

Hatiku gembira mendengar kalimat itu keluar dari mulut ibu. “Iya, aku sangat menyukai hujan. Ayah pernah bercerita. Bahwa hujan yang turun dari langit merupakan pertanda kalau ayah sedang rindu kepadaku. Kemudian, untuk bisa mengobati rindunya, ayah berdoa agar Tuhan menurunkan hujan, supaya aku tahu kalau ayah sedang rindu kepadaku. ”

“Sana main hujan, Nak. Sepertinya hari ini ayahmu sedang rindu kepadamu, gara-gara tadi belum menggendong kamu.”

Aku segera bergegas ke halaman. Aku menikmati guyuran hujan yang bisa menenangkan diriku. Tapi, aku merasa air hujan yang turun membasahi tubuhku kali ini berbeda dengan biasanya. Biasanya ketika aku berlama-lama  bermain hujan, tubuhku sudah menggigil dan kulit tanganku menjadi berkerut.

Namun, kali ini sungguh berbeda. Air hujan yang menyentuh kulitku terasa hangat. Bukan hanya itu. Aku juga merasakan aroma tubuh ayahku yang menyatu dengan air hujan. Iya, aku sangat hafal dengan aroma tubuh ayahku. Aroma yang selalu aku cium saat ayah sedang memeluk tubuhku.

Ayah memang tipikal laki-laki yang penyayang. Ayah selalu memeluk tubuhku yang mungil, dikala aku merengek karena hasil ulanganku jelek. Bahkan, ayah selalu memeluk tubuhku erat-erat ketika tiba di rumah, setelah berhari-hari tidak pulang ke rumah karena pekerjaannya.

Puas bermain hujan. Aku segera masuk ke kamar mandi dengan hati yang penuh tanda tanya pada hari ini. Bagaimana bisa awan pagi tadi berbentuk sayap malaikat? Bagaimana bisa air hujan tadi terasa hangat dan beraroma tubuh ayahku?

***

Keluar dari kamar mandi, aku menuju ke ruang tamu agar bisa menemani ibuku yang sedari tadi menyetel televisi dengan volume keras. Namun, langkahku terhenti, ketika melihat mata ibu berkaca-kaca, tubuhnya gemetar, dan tatapannya kosong.

“Ibu... Apa yang terjadi dengan ibu?,” tanyaku.

Ibu masih diam membisu. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Ibu hanya memberikan tanda dengan tatapan matanya yang kosong, supaya aku melihat berita yang ada di televisi. Aku segera melihatnya, tapi aku bingung. Di televisi hanya terlihat orang-orang berseragam dan memakai pelampung di tengah laut.

Lalu aku bertanya ke ibu, “Ibu ingin pergi ke laut?” Ibu hanya memelukku dengan erat dan mencium keningku berkali-kali.

Aku mencoba melihat televisi kembali, dan aku senang ketika ada pesawat yang sering dikemudikan oleh ayahku terlihat di layar kaca. Aku segera bilang ke ibu, kalau ada gambar pesawat, itu pasti ayah yang mengemudikan. Justru ibu semakin erat memelukku, dan air matanya tumpah ruah di bajuku yang baru dibelikan oleh ayah kemarin.

***

Sejak hari itu. Aku semakin terheran-heran. Aku merasa senang ketika keluargaku berdatangan ke rumah. Sebab, aku bisa bermain dengan mereka. Namun, mereka sering menumpahkan air matanya ketika aku mengajaknya bermain.

Begitu juga dengan ibuku. Ia sering membisu, duduk menyendiri dengan memeluk foto ayah, dan seketika air matanya juga tumpah membasahi pipinya. Ketika aku coba bertanya dengan pertanyaan yang sudah berulang kali aku tanyakan: “Kenapa ibu menangis?” Berulang kali juga ibu memelukku dengan erat.

***

Sebenarnya aku sangat merindukan ayah. Tidak biasanya ayah tidak pulang lama sekali. Aku mencoba memberanikan diri bertanya ke ibu dan aku berharap ibu bisa menjawab pertanyaanku. “Bu, ayah ke mana? Kok sudah lama tidak pulang ke rumah?”

Ibu memandangiku dengan mata membengkak dan menjawabnya dengan suara parau. “Ayah sedang mengudara, Nak.”

“Kapan ayah pulang, Bu? Aku rindu dengan suara ayah. Aku juga rindu ketika ayah membawaku pergi ke toko mainan. Aku juga rindu bermain petak umpet dengan ayah. Aku juga rindu ketika ayah mengajariku mengaji. Pokoknya aku rindu ayah, Bu!”

“ Kalau kamu rindu ayah, ayo kita salat dan mengaji. Ayah pasti senang mendengarkan suaramu ketika melantunkan ayat suci Al-Quran di atas sana. Agar ayah lebih senang lagi, selepas mengaji kirimkan doa kepada ayah.”

“Tapi, Bu, apakah ayah juga rindu denganku? Ataukah ayah akan membalas doaku nanti?”

Ibu hanya tersenyum. “Pasti, Nak. Lihat saja besok pasti turun hujan. Ayah masih hafal kalau kamu menyukai hujan.”

***

Keesokan paginya aku terbangun dan kaget melihat ibu sudah ada di halaman sedang mandi hujan. “Bu... Tidak biasanya ibu mandi hujan?”

“ Ke sini, Nak, ibu melihat ayah”

Aku bergegas berlari ke halaman. “Mana Bu? Mana? Aku rindu dengan ayah.”

Ibu menggendongku dan berkata. “Coba kamu lihat ke atas, Nak. Awan itu melukiskan ayah yang sedang berdiri tegak dengan menggunakan sayap malaikat. Mungkin, saat ini ayahmu mengudara lebih tinggi lagi dengan sayap malaikat itu.