Berawal dari orang tua sebagai role model putra putrinya. Yang mana sikap dan perilaku mereka pasti diingat oleh anak-anaknya. Orang tua pasti juga selalu berusaha menjadi pengasuh terbaik sepanjang masa. Melalui banyak cara mereka berjuang demi masa depan anaknya. Namun, ada satu hal yang sering mereka lupakan. Bertengkar satu hal ini kurang mendapat perhatian.

Saat suasana ini tiba seolah mereka menutup mata dan telinga, sedangkan sang anak menjadi kian muak ingin teriak. Wahai, Ayah dan Ibu apakah kau lupa di hadapanmu ada aku yang menjadi saksi bisu? Apakah kau tidak tahu dampak pertengkaranmu bagi masa depanku?

Hal ini dikarenakan orangtua sering kali lepas kontrol emosi. Kemudian mereka pun bertengkar seperti lupa diri. Entah itu di hadapan khalayak umum atau bahkan di hadapan sang buah hati. Namun, bagaimanapun namanya pertengkaran pasti sulit dihindari. Pertengkaran juga tidak memberikan dampak positif melainkan hanya dampak negatif.  

Ketika bertengkar di hadapan anak, orangtua tidak sadar telah menjadi contoh dan tontonan. Mereka lupa diri dan mulai membentak, mencaci, memaki, bahkan tidak segan melakukan kekerasan. Hal tersebut bukan dilakukan oleh satu atau dua orang tua saja. Namun, dilakukan oleh 99% dari banyaknya orangtua. Apa yang akan terjadi bila hal itu terus berulang? Yah, kemungkinan besar masa depan anak bisa menjadi suram.

Anak akan mulai berkata kasar, bersikap tidak sopan, dan bisa membenci orang tuanya. Anak juga bisa membawa perlakuan orang tuanya tersebut dalam kehidupan sosial dan dunia pertemanan. Salah satu contohnya adalah ketika anak mulai berani berkelahi. Nah, dari dampak ini akan muncul pula dampak baru, yaitu anak mulai terkucilkan dan bisa menjadi depresi.

Selain itu pertengkaran di depan anak juga bisa memberikan trauma mental yang sangat mendalam. Ketika mental anak sudah terganggu, bukan hanya memperlemah otaknya. Namun, juga mengganggu kesehatan fisiknya. Sebagai seorang anak, saya pernah menjadi contoh nyatanya dampak pertengkaran orang tua.

Dulu orang tua saya jarang bertengkar. Sekalinya mereka bertengkar hanya terlihat seperti jenaka. Yang pada saat itu saya sangat merasa senang dan sering menjadi juara. Entah juara kelas, juara lomba, maupun juara di hati keluarga. Namun, akhir-akhir ini semuanya mulai berubah. Mereka menjadi sering bertengkar, mengabaikan saya, bahkan mereka tidak segan berkata kasar maupun berbuat kekerasan. 

Dari kejadian ini saya mengerti, bahwa sulit ekonomi bisa menyulut emosi. Jujur saja pada keadaan ini saya juga merasa tertekan, cemas dan selalu ketakutan. Yang mana perasaan tersebut telah berdampak terhadap prestasi saya. Seharusnya saya fokus meraih prestasi, menjadi terhalang oleh kejadian ini. 

Belum cukup sampai di situ, lebih parahnya lagi saya takut untuk bertemu dengan ayah sendiri. Saat itu, saya juga merasa sulit dalam bersosialisasi dan membangkitkan diri.

Namun, saya yakin bukan hanya saya yang pernah mengalaminya. Banyak anak di luar sana juga merasakannya hal yang sama. Seperti halnya banyak anak punk jalanan pada masa corona. Pernah saya mendapat cerita dari salah satunya. Dia berkata aku meninggalkan rumah karena tidak tahan dengan orang tuaku, yang setiap hari bertengkar. Aku sering menjadi pelampiasan tamparan dan kekesalan. Intinya aku dimata mereka aku hanyalah beban orang tua.”

Nah, tahukah ayah dan bunda bahwa kisah tersebut belum seberapa dan masih banyak dampaknya? Dampak pertengkaran di hadapan anak ini sudah jelas dan tidak bisa dipungkiri. Riset psikologi dan kesehatan Inggris pun telah meneliti, bahwa seorang bayi bisa mengerti suasana yang terjadi. Apabila di sekitarnya terjadi konflik dengan suara yang keras, maka sang bayi tersebut akan menangis. 

Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif maupun fisik sang bayi sangatlah sensitif. Jika mendapati suara keras dan perlakuan kasar maka perkembangannya akan terganggu. Dengan ini, dapat dipahami bahwa pertengkaran orangtua di depan anak, memang berpengaruh besar terhadap masa depan sang anak. 

Kesadaran orang tua pun sangat diperlukan dan harus ditingkatkan. Nah, setelah ayah dan bunda bertengkar di hadapan anak. Coba, resapi kembali apa yang dirasakan anak ayah dan bunda? Apabila anak ayah dan bunda merasakan hal yang sama. Maka ayah dan bunda perlu berhati-hati, dan harus mencoba mengatasi permasalahan ini.

Oleh karena itu, saya berharap tidak ada generasi muda lainnya yang mengalami hal serupa. Dengan ini ayah dan bunda bisa lebih memperhatikan perasaan dan psikologi putra-putrinya. 

Menghindari pertengkaran memang sangat sulit untuk dilakukan. Namun, ayah dan bunda bisa mencobanya dengan mengontrol diri, mengeratkan diskusi, dan mencari ruang untuk menyelesaikan masalah secara pribadi. Dengan cara inilah saya yakin dampak buruk dari pertengkaran ayah dan bunda dapat diminimalisir sedemikian rupa. Yang nantinya tidak akan menjadi penghambat masa depan seorang anak.