Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Orang tualah yang berkewajiban membentuk karakter anak kedepannya mau menjadi seperti apa. Cara mereka mendidik, apa yang mereka ajarkan, tentu sangat mempengaruhi sikap dan perilaku anaknya di masa depan.

Tentu masing-masing orang tua punya cara tersendiri dalam mendidik anaknya, ada yang dengan penuh bijaksana dan lemah lembut, ada yang terlalu memanjakannya, ada yang keras dan tegas, dan bahkan ada yang terlalu membebaskan anaknya tanpa pengawasan.

Dengan adanya perbedaan cara tersebut, mestinya ada perbedaan respon dari masing-masing anak pula. Anak bisa saja menjadi seorang yang penurut, dekat dengan orang tua, bahkan ia tidak sungkan untuk curhat kepada kedua orang tuanya.

Namun, di sisi lain ada juga anak yang pembangkang, enggan mendengarkan nasihat orang tua, tertutup dengan orang tua dan ketika diajak ngobrol oleh orang tua selalu menghindar.

Di sini penulis ingin sedikit mengupas tentang bagaimana tanggapan anak terhadap orang tua yang keras dan tegas dalam mendidik anaknya. Namun, tulisan ini tidak bertujuan untuk memojokkan orang tua yang mendidik anaknya menjadi seperti itu. Penulis hanya menyampaikan pemikirannya berdasarkan pengalaman pribadi.

Orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya. Mereka selalu mengatakan bahwa anaknya tidak boleh bernasib kurang beruntung seperti mereka. Mereka ingin mengubah nasib anaknya menjadi lebih baik lagi. Mereka ingin anaknya sukses dan hidup bahagia.

Sehingga, tak jarang orang tua yang menuntun bahkan menuntut anaknya bercita-cita seperti yang mereka inginkan. Misal, anak saya harus jadi PNS, anak saya harus jadi polisi, anak saya harus jadi dokter, tentara dan sebagainya. Mereka beranggapan bahwa itulah cita-cita yang paling tinggi dan mulia.

Orang tua selalu cenderung keras kepala dan enggan menerima protes dari anaknya, karena beranggapan bahwa anaknya itu telah mengguruinya. Kebanyakan dari mereka berdalih bahwa mereka punya pengalaman sepanjang hidup mereka yang mampu dijadikan acuan untuk mendidik anaknya.

Hal ini memang bisa dibenarkan, tapi apakah cukup dengan pengalaman orang tua mampu membeli dan menjamin kebahagiaan untuk anaknya?

Di sisi lain, juga ada orang tua yang dengan mudahnya melontarkan kata-kata kasar pada anaknya ketika anaknya tidak mampu melakukan sesuatu dengan baik. Seandainya mereka tahu bahwa hal itu tentu berpengaruh pada mentl anak. Anak tentu akan merasa tidak dihargai oleh orang tuanya. Bisa saja ia merasa dirinya buruk, tidak becus, dan bahkan merasa tidak percaya diri.

Quraish Shihab pernah mengatakan, pada dasarnya mendidik adalah mengembangkan bakat. Jadi, sebagai orang tua tentu sebaiknya selalu mendukung bakat anaknya. Setiap anak pasti ingin orang tuanya mendukung setiap keputusan yang ia buat untuk masa depannya. Ia ingin orang tuanya mendengar dan mengerti akan cita-cita dan harapannya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. Bersabda,

“Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya untuk berbakti kepada mereka.” (HR. Ibnu Hibban)

Sebagai seorang anak tentu tidak ingin menjadi durhaka kepada kedua orang tuanya, mereka selalu berharap mampu membahagiakan orang tuanya dan membuat mereka bangga akan segala pencapaiannya.

Namun, terkadang keinginan anak dan orang tuanya bersebrangan atau tidak sejalan. Sehingga muncullah miss communication, dimana anak tidak pernah terbuka dengan orang tua dan orang tua tidak pernah tahu apa yang diinginkan anaknya.

Lalu, bagaimanakah caranya agar orang tua mampu membantu anaknya sebagaimana hadits di atas? Pak Quraish Shihab pernah berkata, “jangan maki dia (anak), jangan bebani dia (anak) beban yang berat. Sehingga kalau ia mau curhat dia curhat pada ibunya atau pada bapaknya bukan pada temannya.”

Orang tua berhak mendapatkan rasa hormat dari anaknya, anak juga berhak untuk tidak mendapatkan kekangan dari orang tuanya. Sebagian anak memilih diam dan patuh pada pilihan orang tua, sebagian lagi ada yang memilih pergi dan lari.

Lalu, sebagai anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya, apa yang harus kita lakukan?

Dalam al-Qur’an sudah banyak dijelaskan tentang bagaimana seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya. Salah satunya dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 23-24.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS: Al-Isra ayat 23-24)

Jika kita sebagai seorang anak, ingin orang tua kita mengerti apa yang kita inginkan, maka kita harus membangun komunikasi dengan orang tua. Sampaikan kepada mereka apa yang kita butuhkan.

Jika kita pun enggan membicarakannya maka masalah tidak akan pernah selesai. Bicaralah baik-baik sebagaimana perintah Allah dalam ayat di atas dengan penuh rasa hormat.

Singkatnya, komunikasi dalam keluarga itu sangat diperlukan, agar tercipta keselarasan tujuan untuk kedepannya.