Siapa yang tidak mengenal tokoh satu ini? Tokoh yang begitu bersinar pada masanya dan sampai saat ini selalu dikenang berkat pemikiran-pemikirannya yang brilian.

Tokoh ini memiliki dua sisi, yaitu dipuja, diagungkan, dan dibanggakan di satu sisi karena pemikirannya yang menyejukkan dan mencerahkan umat. Kemudian dihujat, dicerca, dan dicaci-maki di sisi yang lain sebagaimana yang dilakukan oleh Adian Husaini lewat karya-karyanya beserta sekutunya. Sebab pemikirannya dianggap berbahaya karena dapat menyesatkan umat dari jalan yang lurus.

Saya tentu tidak akan membahas itu. Sebab lagi-lagi, penilaian terhadap seorang tokoh itu adalah subjektivitas masing-masing pribadi. Saya memilih tidak ikut campur. Itu hak mereka. Hal yang saya bahas di sini adalah lebih pada bagaimana awal perkenalan saya dengan sosok yang sering disebut sebagai ‘Raksasa’ Pemikir Islam Indonesia ini.

Semuanya berawal dari ayah. Ialah orang yang sangat berjasa dalam mengenalkan saya pada Cak Nur (sapaan akrab Nurcholis Madjid). Tanpa ayah, mungkin saya tidak akan bisa berbangga diri di hadapan teman sejawat karena telah mengenal Cak Nur lebih awal dari mereka, yakni sejak SMP. Karena rata-rata dari mereka baru mengenal Cak Nur setelah menginjakkan kaki di bangku kuliah.

Saya tidak mengatakan bahwa tanpa ayah pasti saya tidak mengenal Cak Nur. Karena lambat laun saya pasti akan mengenalnya. Apalagi dengan pilihan saya melanjutkan studi di UIN Ciputat. 

Berkenalan dengan Cak Nur adalah keniscayaan. Ia adalah alumni UIN Ciputat, tepatnya Fakultas Adab dan Humaniora. Hampir di setiap sudut diskusi-diskusi Ciputat, nama Cak Nur selalu disebut. 

Bagi mereka yang kuliah di Ciputat, sentuhan-sentuhan pemikiran Cak Nur akan benar-benar terasa. Apalagi bagi mereka yang bergumul dan konsen pada diskusi-diskusi tentang Islam yang progresif, Islam yang inklusif,dan konteksnya dalam bingkai keindonesiaan.

Kembali soal ayah, ia, ketika berbicara tentang Cak Nur, sebagaimana bercerita tentang Amien Rais, terlihat sangat emosional. Menggebu-gebu dan sangat menghayati setiap apa yang ia ceritakan. Dan hal itu juga terasa pada diri saya. 

Seperti kata pepatah, sesuatu yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati. Itulah yang terjadi pada diri saya saat itu. Bagaimana tidak, dengan sangat bersemangat ayah menjelaskan tentang kebesaran Cak Nur. Cak Nur, baginya, adalah tokoh sekaligus pemikir besar Islam yang sulit dicari tandingannya sampai dengan sekarang.

Ketika Orde Baru tumbang dan reformasi ditegakkan, Pemilu diadakan untuk pertama kalinya. Partai-partai besar yang mengikuti Pemilu saat itu adalah PDI-P dan Golkar. Kemudian disusul dengan apa yang dinamai Poros Tengah (karena berada dalam apitan dua partai besar, yakni Golkar dan PDI-P) sebagai representasi dari umat Islam. 

Nah, pada kubu Poros Tengah saat itu muncul tiga nama yang bakal diusung sebagai calon presiden: Amien Rais, Gus Dur, dan Nurchlolis Madjid.

Amien Rais ternyata tidak mau dicalonkan sebagai presiden. Ia lebih memilih jadi Ketua MPR (Majlis Permusyawarata Rakyat). Jadi otomatis batal. Karena itu, dilempar ke Gus Dur dan ia bersedia. Kata ayah saya, kalau saja Gus Dur saat itu menolak, mungkin Nurcholis Madjid-lah yang naik sebagai presiden.

Ayah mengatakan pada saya, “Bayangkan. Bagaimana Cak Nur tidak dianggap sebagai tokoh besar Islam, di antara banyaknya pemikir, tokoh, dan aktivis Islam saat itu, namanyalah yang masuk dalam deretan tiga nama yang akan dicalonkan sebagai presiden.”

Mendengar itu, saya makin kagum dengan Cak Nur. Namun saya masih menyimpan penasaran tentang bagaimana besarnya ketokohan Cak Nur saat itu. Akhirnya pada ayah saya bertanya, “Kalau dibandingkan dengan tokoh saat ini, misalnya Pak Din Syamsuddin, kira-kira mana yang lebih besar?”

Ia menjawab, “Ooo.. Jauh. Jauh sekali perbandingan antara Cak Nur dan Din Syamsuddin. Sulit untuk dibandingkan. Dan juga sulit untuk dicari bandingannya saat ini. Kalaupun ada, itu adalah orang yang semasa dengan dia, contoh Amien Rais. Selain dari itu tidak ada.”

Berkat pengantar yang diberikan ayah saya tentang Cak Nur itu, saya menjadi bersemangat dalam mencari informasi lebih tentang Cak Nur. Awalnya saya hanya membaca dari artikel-artikel yang ada di internet (saat masih SMP), sampai ketika saya kuliah di Ciputat saya dipertemukan dengan buku ‘Api Islam: Jejak Hidup Seorang Visioner’ yang ditulis oleh Ahmad Gaus AF.

Buku tersebut adalah buku milik seorang senior. Karenanya saya harus meminjamnya lebih dulu agar bisa dibaca. Untungnya dia mengizinkan. 

Dalam beberapa hari, buku itu habis saya lahap. Dan kesan yang saya dapatkan ialah bahwa buku yang ditulis Ahmad Gaus itu adalah buku yang terbilang lengkap dalam menceritakan sisi-sisi personal Cak Nur yang jarang diketahui oleh orang lain.      

Buku itu memuat banyak teladan dari Cak Nur yang elok untuk kita tiru, khususnya bagi kaula muda. Terutama pada biografi Cak Nur muda. Di sana kita akan benar-benar dibuat kagum, takjub, malu, dan merasa sangat rendah. Kagum dan takjub terhadap prestasi-prestasi Cak Nur dan kebiasaan-kebiasaan yang dibangunnya sejak dini. Hidupnya diisi oleh lompatan-lompatan besar.

Lihat saja saat Cak Nur aliyah di Pesantren Darussalam Gontor. Dengan usia yang masih sekitar belasan tahun, ia sudah terbiasa membaca buku-buku asing, terutama yang berbahasa Inggris. Kemudian lanjut saat kuliah. 

Menurut pengakuan A. M. Fatwa sebagai orang yang tinggal sekamar dengannya, Cak Nur hampir tidak pernah melewatkan waktu tanpa buku di genggaman tangannya, termasuk saat antre mandi di toilet.

Produktivitas masa muda Cak Nur tersebut benar-benar merupakan tamparan keras sekaligus pukulan telak bagi kita yang masa mudanya masih diisi dengan malas membaca dan banyak mengisinya dengan hal yang sia-sia. Tapi tidak usah bersedih hati. Sebab sekarang belum terlambat waktunya untuk berbenah.

****

Begitulah kira-kira perkenalan awal saya dengan Cak Nur, yaitu berawal dari ayah. Tidak ada yang istimewa dan benar-benar receh

Karenanya saya berdoa semoga saja pembaca bisa mengambil manfaat darinya meski sedikit. Anggap saja tulisan ini sebagai bahan untuk kita me-refresh kembali ingatan tentang Cak Nur, Guru Bangsa dan Pemikir Besar Islam yang pernah dimiliki Indonesia. Al-Fatihah untuk Cak Nur.