Melihat tanaman-tanaman yang terhampar luas di belakang gedung-gedung yang berjejer di kota pelajar ini, ada sebuah ingatan yang selalu menyelimuti setiap langkah dan gerak-gerik kaki pemuda itu, bahkan tidak jarang air mata membasahi pipinya.

Ayah, aku merindukanmu, tutur indah kata-katamu, doa-doa di setiap shalatmu. Aku yang selalu menengadahkan tangan saat kau ucap doa yang senantiasa kau panjatkan, agar kelak anak laki-lakimu ini menjadi penerang di kegelapan liang tanah yang tak berisi penerangan.

Jemari manismu menggenggam erat tangan anakmu yang acap kali membuatmu kesal. Tatapan tajam kelopak mata kewibawaanmu menghujam mataku. "Le, sekolah lan ngaji sing rajin nggih... Pintamu dengan halus. "Agar kelak bisa jadi anak yang berguna dan berbakti kepada orang tua". Lanjut nasihatmu.

Penyesalan, ya hanya penyesalan. Banyak sekali dosa telah kukumpulkan, sekarang menjelma jadi tumpukan sampah. Bingung melanda alam pikiran serta harapan.

Ayah maafkan putramu ini, segala harapan yang pernah engkau sampaikan dengan penuh ketulusan di pematang sawah kala itu masih saya ingat, akan tetapi putra bandelmu ini belum mampu untuk melaksanakan harapan yang dulu pernah engkau sampaikan.

Ayah, tanganku sudah kaku, kakiku sudah lunglai, bahkan untuk melaksakan seruanmu ketika dulu masih mungil, yaitu senantiasa mengaji dan rajin belajar saja seringkali putramu ini pura-pura melupakannya. Entah dengan dalih sibuk dengan kegiatan atau hanya dengan tiduran di kamar.

Jika siang bisa berganti malam, begitu juga dengan malam yang akan kembali lagi kepada siang yang dikomandoi oleh sang surya dan indahnya rembulan.

Tidak dengan putramu, hari demi hari, siang-malam yang selalu berputar tiada henti. Lidah ini tak mampu lagi menahan kata Rindu akan seluruh petuah dan nasehat indahmu kala senja itu. Izinkan putramu ini sedikit cengeng, karena tak mungkin putramu ini menhan jatuhnya air mata ini.

Putra mungilmu kini sudah lupa, entah karena sudah merasa pintar atau terlalu menikmati dunia yang penuh dengan tipudaya ini.

Hidupku tak seperti dulu Ayah, yang rajin berjamaah di masjid, meski dengan jalan kaki atau pakai sepeda pembelianmu di pasar yang kau bawa sampai rumah kala itu. Aku bukan lagi anak kebanggaan yang bisa engkau ceritakan kepada sanak saudara atau kepada tetangga lagi. Apakah engkau disana selalu dalam keadaan baik-baik saja Ayah? Semoga engkau berbahagia disana meski hanya dengan sedikit doa yang bisa putramu ucap kala setiap selesai ia berhadapan dengan Tuhan.

Andai engkau di sana bisa berdoa untuk putramu ini, Aku juga ingin mendengarkan doa ayah disana, akan kutengadahkan kembali kedua tanganku tanpa engkau perintahkan seperti ketika aku masih mungil. Aku butuh tuntunanmu, Aku butuh Nasihatmu seperti ketika kita sama-sama membakar jagung untung mengairi sawah yang engkau kumpulkan demi putra dan putri-putrimu.

Ayah, bolehkah aku sedikit bercerita kepadamu? Putramu kini sudah berusia lebih dari 23 tahun, tapi masih belum tau apa itu kedewasaan.

Putramu kini sudah berani berbicara ketika rapat, sudah berani mengatakan kebenaran, dan seringkali putramu juga memiliki banyak teman untuk sekedar berbincang di warung-warung kopi sekitar tempat ia belajar.

Akan tetapi, seringkali ketika menghadapi masalah tak bisa sekuat engkau yang mampu menyelesaikan bahkan dengan masalah yang lebih besar.

Maafkan putra mungilmu yang dulu masih senantiasa engkau beri nasihat-nasihat tentang kehidupan, engkau sindir dengan sindiran berkelas yang mampu menyadarkanku, putramu rindu saat-saat itu.

Ayah, semoga kita dipertemukan kembali diwaktu yang tak tau kapan. Yang jelas “Aku Merindukanmu, Ayah”

***