Awkarin adalah teladan dalam menikmati hidup, yang tidak peduli omongan sekaligus enggan ikut campur menasihati orang lain. Wajar kalau sebagian menganggapnya bagai sebuah lilin. 

Buat orang yang tak suka Awkarin, tentu boleh tetap bernapas. Namun embusan napasnya tak perlu disertai cibiran kelewat cemar, apalagi berperilaku beringas.

Nama lengkapnya Karin Novilda. Wanita yang lahir di Jakarta pada 29 November 1997 ini kini dikenal sebagai seorang selebritas internet asal Indonesia yang aktif di media sosial seperti Instagram, YouTube, dan Twitter.

Menurut cerita yang disampaikan olehnya, nama Awkarin muncul tidak sengaja. Awalnya ia ingin memberi nama akunnya dengan Awkward Karin. Ia menginginkan username yang catchy.

Awkarin mengaku tidak bisa berkomunikasi di depan orang banyak atau di depan kamera, termasuk orang yang awkward atau canggung. Karena itu, akhirnya dia memutuskan username–nya adalah @awkwardkarin.

Tapi karena dirasa terlalu panjang, ia menyingkat kata ‘Awkward’, dan kalau dipersingkat lagi menjadi ’awk‘. Berhubung nama depannya adalah Karin, huruf K-nya dihilangkan satu, sehingga jadilah Awkarin.

Dikenal luas membuat Awkarin akrab dengan beragam semat terhadapnya. Awkarin begitu dipuja oleh sebagian kalangan seperti halnya dinista sebagian lainnya. Wajar saja, Awkarin memang kerap bersikap terbuka. Sikap yang membuat sebagian manusia merasa dirisak karenanya. 

Selain itu, Awkarin terbilang sosok serakah. Banyak ranah perlahan malar dia jamah. Seperti tak mau berdiam diri, wanita ini selalu mencoba lalu memperjuangkan sesuatu yang menarik hati.

Sebagai penghibur, Awkarin lekat sekali dengan kontroversi. Barangkali sisi paling cepat dan mudah dibayangkan andai namanya disebutkan adalah kontroversi . Namun itu hanya pandangan sekilas saja. Kalau ditelisik lebih dalam, banyak catatan mengesankan berhasil diukir olehnya.

Jika catatan mengesankan Awkarin diwedarkan seluruhnya, maka catatan ini hanya akan penuh dengan daftar prestasi yang telah diukir wanita mbeling ini. Namun prestasi yang paling asyik dielaborasi ialah cara Awkarin menata diri, dia pernah jatuh, kemudian bangkit lagi, berulang kali. 

Dalam setiap kesempatan yang membuatnya jatuh, Awkarin senantiasa memanfaatkan sebagai titik epik dalam perjalanan selanjutnya. Setitik perlintasan yang membuat Awkarin makin tegar dalam mengayuh perjalanannya.

Kegagalan yang sempat dialami tak begitu saja membuat Awkarin langsir. Awkarin malahan berhasil untuk terus tetap mengalir. Mengalir untuk menyedot perhatian kerumunan. Perhatian yang turut membuatnya sanjungan dan cibiran akrab dengan perjalanannya. 

Satu sisi dirinya irinya sangat dicinta laiknya Mûsâ saat berhasil menyelamatkan muruah bangsa Israel setelah diinjak bangsa Mesir. Perhatian yang juga membuatnya begitu dibenci seperti Fir’aun era Mûsâ sebagai pencetak catatan kelaliman.

Apa pun semat yang diberikan padanya, yang jelas Awkarin bukanlah Mûsâ maupun Fir’aun era Mûsâ. Segala pujian dan kata sanjungan tak membuatnya melayang seperti halnya segala hinaan dan caci maki tak membuatnya tumbang begitu saja. Awkarin mengerti bahwa dampak mementaskan diri sebagai penghibur adalah segala perkara maupun peristiwa yang berkelindan dengannya tak bisa dilepaskan dari sorotan media.

Sorotan yang membuat Awkarin menjalani keseharian seperti ‘Alī bin Abī Thālib dan Ā’isha bint Abī Bakr. Mereka sama-sama menjadi sosok yang sangat dicintai oleh sekerumunan dan begitu dibenci oleh sekerumunan lainnya. Wajar, lantaran mata yang cinta selalu tumpul terhadap segala cemar. Begitu juga mata yang penuh amarah hanya mudah memandang segala yang nista.

Segala semat yang dialamatkan pada Awkarin tak membuatnya berhenti meniti tatanan dan menata titian. Awkarin tetap bahadur sebagai penghibur yang dicintai serta dibenci secara bersamaan. 

Sebagai sosok yang dipuja sedemikian rupa oleh sebagian orang serta dinista sedemikian rupa oleh selainnya, Awkarin sanggup membikin manusia saling menyapa lantaran sama-sama merasa sama sebagai manusia. Tak jadi soal entah memuja atau menistanya.

Tidak semua orang sanggup menarik perhatian kerumunan seperti dilakukan oleh Awkarin. Derap kehadirannya sanggup membuat tak sedikit orang merasa waktunya luang untuk menjadikan Awkarin sebagai bahan perbincangan. Perbincangan yang membuat nama Awkarin turut hadir dalam berbagai suasana sehari-hari. Perbincangan yang bisa meriuh-meriahkan lingkungan walakin tak membuat Awkarin berhenti meniti tatanan dan menata titian.

Sebagian orang memandang puan ini bukanlah sosok tak pantas untuk dikagumi karena hanya manusia biasa. Memang Awkarin hanyalah manusia biasa, manusia biasa yang butuh makan, minum, maupun tidur serta bisa berpeluh lelah, berkeluh kesah, merasa bad mood menghadapi serbuan orang, dsb. dst.. 

Meski begitu, Awkarin tetaplah sah-sah saja menjadi sosok yang dikagumi. Bukankah salah satu perkara yang membuat sosok sebesar Muhammad asyik dikagumi adalah karena dirinya menjalani keseharian sepertihalnya manusia biasa dalam posisinya sebagai rasul dan nabi?

Awkarin senantiasa mementaskan kesungguhan untuk bisa menjadi manusia biasa seperti manusia lain yang biasa membincangkannya. Dirinya terus menyelami ruang rasa agar kehadirannya memberi rasa gembira disertai kepedulian merawat kepantasan penampilan raga.

Kesungguhan Awkarin untuk bisa menjadi manusia seutuhnya juga dilakukan dengan menumbuhkembangkan sisi femininine dan masculinine. Sisi masculinine yang dipentaskannya dengan perilaku fearless selaras dengan perilaku kenes pementasan sisi femininine. Dua sisi berlawanan yang ada dalam setiap manusia ini sanggup dipadukan sekaligus dengan bagus untuk membentuk dirinya menjadi sosok queen. Queen Awkarin.

Kesungguhan melakoni keseharian dengan mementaskan laku seperti itu membuat Awkarin tak salah mendapat semat sebagai manusia paripurna. Manusia yang petuahnya pantas di-gugu (memotivasi) dan rekam jejaknya layak di-tiru (menginspirasi). Manusia yang memiliki daya dorong luar biasa pada manusia lainnya.

Ketika Awkarin mapan berdiri di hadapan sanjung puja dan popularitas, dirinya tetap berusaha untuk bisa menjadi panutan yang laras. Seorang panutan yang tak hendak menjadikan popularitas sebagai Tuhan. Perjalanan Awkarin adalah ikhtiar dan takdir yang selaras. Awkarin terus bersyukur ikhtiar yang dilakukan selaras dengan takdir yang digariskan.

Gempuran cibiran terhadap Awkarin memang tak selalu bisa disirnakan. Namun dirinya tetap tegap berusaha untuk tampil menghibur yang papa dan mengingatkan yang mapan. Penampilan yang memudahkannya menjadi penyebar virus-virus cinta pada manusia lainnya. Virus yang membuat manusia saling mencintai manusia seperti mencintai Tuhannya sang Pencipta.

Sebagian orang boleh saja memandangnya dengan cemar dan rajin mencibir. Meski demikian, Awkarin  tak langsir ungkapan nyinyir yang dialamatkan padanya dari para tukang pandir. Biarpun sebagian orang sirik tiada akhir, Awkarin terus tetap mengalir.

Karena Awkarin adalah manusia biasa, maka tak sulit bagi manusia lainnya untuk menikam rekam jejak yang Awkarin  pahatkan. Tak harus menikam rekam jejaknya sebagai penghibur, walakin mengikuti semangatnya untuk sepenuh hati menghadapi cibiran.

Dengan segala ungkapan yang dialamatkan padanya maupun menyinggung namanya, Awkarin tetaplah Awkarin. Awkarin terus melangkah tanpa bisa dituturkan melalui kata dan aksara sepenuhnya, karena wanita memang sulit dimengerti meski tetap bisa dinikmati seutuhnya.