Siapa sih yang tidak menginginkan jodoh? Apalagi jodoh yang berakhlak baik, pasti hal tersebut sangat didambakan oleh banyak orang. Bahkan bagi pasangan sang sudah menikah sekalipun, mereka tetap menginginkan menjadi pasangan yang harmonis dan dipenuhi oleh rasa kasih sayang dalam berumah tangga.

Ketika seseorang ingin mencari dan memilih jodoh, orang-orang di sekitar/terdekatnya pasti sering menasehati agar jangan sampai salah dalam memilih jodoh (pasangan). Ini berarti bahwa menentukan kriteria yang ideal merupakan hal yang amat penting dan perlu perhatian khusus bagi mereka agar tidak salah pilih.

Kriteria pasangan yang ideal sendiri sudah dijelaskan dalam agama Islam melalui hadis Nabi ﷺ. dan juga Al-Qur’an. Didalamnya sudah tergambar siapa dan seperti apa kriteria pasangan yang ideal itu.

Dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis,

 تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya: “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Maka kamu akan beruntung”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut, dapat dipahami bahwa laki-laki selalu memandang perempuan dari empat faktor itu. Hal ini sangat manusiawi karena pada dasarnya manusia sangat menyukai keindahan (fisik). Akan tetapi, maksud dari hadis ini yaitu laki-laki diharuskan untuk memilih satu faktor (yaitu agama) dari keempat faktor tersebut. Mengapa? Karena di kalimat terakhirnya disebutkan, “Maka kamu akan beruntung”.

Kemudian alasan selanjutnya juga telah disebutkan di dalam H.R. Ibnu Majah,

            عَنْ عَبْدِ االله بْنِ يَزِيْدَ, عَن عَبْدِ االلهِ بْنِ عَمْرٍ, قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : ( لَا تَزَوَّجُوْا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ, فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ, وَلَا تَزَوَّجُوْهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ, فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ, وَلَكِنْ تَزَوَّجُوْهُنَّ عَلَى الدِّيْنِ, وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِيْنٍ أَفْضَلُ)

Artinya: “Dari Abdillah bin Yazid, dari Abdillah bin Amr, berkata: bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: (Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Dan jangan pula menikahi wanita karena harta-harta mereka, karena bisa jadi hartanya menjadikan mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang wanita budak berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama dari mereka). (H.R. Ibnu Majah)

Apakah dengan hadis tersebut kemudian mengkhususkan dan membela kaum laki-laki? Lantas bagaimana dengan kaum perempuan, apakah tidak ada dalil yang dikhususkan untuk mereka?

Hukum yang dibuat oleh Allah SWT. tidak ada satu pun yang merugikan manusia, terutama bagi kaum perempuan. Jadi, jangan merisaukan hal ini.

Firman Allah SWT. dalam surat An-Nur ayat 26,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: “Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (Q.S. An-Nur: 26)

Pada ayat tersebut, dijelaskan bahwa seseorang akan selalu cenderung kepada orang yang memiliki kesamaan dengannya. Hal ini sudah menjadi sunatullah. Jodoh kita adalah cerminan dari diri kita. Jadi, perbaikilah diri kalian (perempuan) terlebih dahulu agar mendapatkan jodoh yang baik pula.

Dari ayat di atas juga menunjukkan sebuah bukti bahwa dalam memberikan pasangan kepada hamba-Nya, Allah SWT. mendasarkan pada satu faktor yaitu yang sekufu. Makna sekufu disini bukan tentang ukuran kekayaan, pendidikan, ataupun usia. Akan tetapi, lebih ke faktor agamanya.

Nah, terkait hadis yang pertama tadi, memang mengkhususkan laki-laki dengan diberikannya hak prerogratif untuk memilih pasangannya. Lalu bagaimana dengan perempuan? Tenang, jangan pesimis. Menurut dalil Q.S. An-Nur ayat 26 tadi, perempuan diberikan hak untuk menolak pasangan yang tidak sesuai dengan dirinya. Inilah bentuk keadilan dari Allah SWT. dalam mengatur kehidupan hamba-Nya.

Dengan demikian, dalam menentukan dan memilih kriteria masing-masing dari kita, jangan terlalu berangan-angan tinggi. Apalagi sampai menaruh harapan tinggi kepada seseorang, yang orang tersebut belum tentu berjodoh ataupun mau dengan kita. Itu akan berakhir menyakitkan dan menyulitkan diri sendiri.

Dan juga membuat kita semakin sulit untuk menemukan pasangan yang tepat. Intinya, jangan sampai hal ini membuat kita menjadi awet dalam menyandang status jomblo.

Apakah kalian bahagia dengan status jomblo tersebut? Jangan sampai kalian dijadikan bahan candaan ketika sedang berkumpul bersama teman kalian. Apalagi jika kata jomblo ditambahkan dengan kata ngenes, yang mana kata tersebut identik dengan situasi dan kondisi para jomblo ketika banyak melamun dan merasa galau memikirkan jodohnya.

Oleh karena itu, bagi kalian yang sedang menyandang status jomblo, segeralah untuk mencari calon kalian masing-masing. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa dalam mencari calon itu jangan dipersulit. Artinya, dalam masa pencarian jangan berharap atas kesempurnaan, karena kesempurnaan itu akan didapatkan ketika sudah berumah tangga dengan cara saling menerima kelebihan dan melengkapi kekurangan masing-masing.

Jika kalian tidak memiliki keberanian, jangan pesimis. Menemukan jodoh tidak harus dengan berjuang seorang diri. Akan tetapi, cobalah untuk meminta bantuan orang lain seperti saudara, sahabat, atau jika kalian berada dilingkungan pesantren bisa meminta bantuan kepada pak kyai untuk dikenalkan dengan santriwatinya. Yang paling penting adalah tidak melalui proses pacaran.

Sebagai penutup, ketika kalian berpacaran, rasa cinta kalian belum tentu akan membuahkan sebuah pernikahan. Akan tetapi, dalam sebuah pernikahan sudah pasti akan menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya.