Entah kenapa lamunan hati ini melangkah ke dimensi ruang tak berujung. Putih lembut bergerak manja mengantarkan hati ke lamunan rasa yang belum tergapai. Awan indah hari ini hadir antara tawa dan kenikmatan. Melihat gelak tawa orang sekitar, asyik dengan keindahan duniawi mereka. 

Sementara aku, terpukau dengan indahnya dirinya. Dirinya nan jauh tak teraih. Hanya rasa yang mampu merasuk sukma menyatakan kau begitu indah… awan. Terus berjalan mengikuti langkah kaki yang tak terarah di antara kerumunan orang. Berjalan menyusuri ke suasana hati masa lalu.

Ketika itu dia datang ke kantorku, “Assalamu’alaikum” suaranya lembut dalam iringan senyum ringan. Aku terdiam, terpana membiarkan ucapan salam tak terjawab. Entah kenapa pandangan ini tertuju pada senyum manisnya. 

Dia mengulangi lagi salamnya, “assalamu ‘alaikum!” Segera ku hadapkan wajahku seraya menjawab “wa’alaikumussalam”.  Hari itu hari pertama dia masuk ke kantorku sebagai pegawai pindahan dari divisi lain. Terlihat masih canggung namun percaya dirinya menutupi kekakuannya. 

Senyum lebarnya masih menghias wajahnya. Membawa tas hitam dengan setumpuk dokumen di tangan kirinya. Hijau lumut, pakaian dinas harian yang bersahaja tetap membuat dia spesial. Entah kenapa dia begitu indah? Apakah memang dia indah atau hatiku yang selalu tak puas keindahan.

Kembali aku terdiam. Dia tetap senyum seolah menanti responku. Ekspresi dingin ku perlihatkan, tanpa senyum, walau sebenarnya hati ini sangat senang akan kehadirannya. Aku tahu, dialah yang akan menempati meja kosong dalam ruang kerjaku.

“Ohya, ada apa?”

Segera kukatakan untuk memecah kekakuan ini. “Sulis  ya?” aku bersikap seolah tidak tahu kalau dia Sulis. Dia dimasukkan ke divisi ku untuk membantu menjalankan kantor yang selama ini dianggap jalan di tempat. Atas rekomendasi atasanku, dia dijadikan bagian dari divisiku.

Inikah orangnya? Kataku dalam hati. 

Dia masih tersenyum, seraya berkata “Iya, saya Sulis.”

Suaranya tegas namun lembut. Senyum dan sorot matanya menyatukan dua rasa, kelembutan dan ketajaman. Senyumnya lembut, tapi matanya tajam penuh pengharapan. Namun, lagi-lagi kebingungan kembali menerpaku. Aku bingung harus bereaksi seperti apa. Ku coba tersenyum kecil sekadar menutupi kekakuanku.

“Ooh iya,  ee, iya, iya”

Aku gugup. Aku berusaha berucap, tapi tetap saja mulut ini tak mampu mentransfer pikiran yang ada di otak. Reflek tanganku bergerak tak tentu arah. Melihat jam tangan, menggaruk kepala, dan memasang kancing baju yang sebenarnya sudah terpasang.

“Kamu di sini” kataku sambil langsung menunjuk sebuah meja kursi kosong yang ada di hadapanku. Dia pun meletakkan tasnya. Aku berlalu dan duduk di belakang meja ku. Membiarkan dia duduk dan merapikan mejanya sendiri. Aku pun pura-pura menyibukkan diri. Berusaha merapikan dokumen yang memang berantakan.

Terdiam sejenak, suasana kantor terasa hening. Detak jam dinding pun terasa nyaring terdengar. Tik tak tik tak,  menyertai perjalanan pikiran dua insan yang baru bertemu. 

Aku terdiam sambil sesekali mengecek media sosialku. Dia pun begitu. Sesekali dia memandang dinding kantor seolah ada sesuatu yang mau dia kerjakan. Mataku tetap menatap smartphone ku, sesekali ku alihkan mencuri pandang tingkah lakunya.

Tak ku sangka, tiba-tiba dia berkata:

“Ohya, Nama Bapak Jose ya?” Tersentak aku segera.

Langsung saja ku jawab: iya!

“Sepertinya Bapak tidak asli sini ya?”,

 “Aslinya mana Pak?” Lanjut dia bertanya.

Kali ini aku tidak langsung menjawab. Besar harapanku dia bertanya lebih dalam tentang ku. Diamku bukan berpikir mencari jawaban atas pertanyaannya. Diamku mencoba mengadaptasikan diri atas keagresifannya. 

Aku mulai suka gayanya, aku mulai suka cara dia bicara, aku mulai suka cara dia dekat dengan ku. Sangat jarang ada wanita bertanya seperti itu kepadaku. Aku pun berpikir, apakah aku harus langsung jawab dengan sebuah jawaban dari pertanyaannya? Ataukah aku respon pertanyaannya dengan sebuah ungkapan rasa. Bisa saja aku langsung jawab dengan sebuah jawaban:

“Tidak kok, saya memang asli sini”.

Tetapi hati menggiring mulut untuk menjawab dengan frase yang lain. Sambil tersenyum, kubalas pertanyaannya dengan kalimat:

“Waaah kepo ya?”

 Dia pun tersenyum. Aku tidak tahu, kenapa dia terseyum. Tapi tidak perlulah ku tahu itu. Senyumannya sudah membuatku melupakan apa alasan yang membuatnya tersenyum.

“Ya kalu boleh tahu siiih,” katanya, lagi-lagi dengan senyuman manja.

Aku mulai rilek. Aku pun tersenyum lebar atas jawabannya. Aku tetap tidak langsung menjawab pertanyaannya. Aku berujar lagi:

“Kenapa memang? Kayak bukan asli sini ya?” balik aku tanya dia soal diriku sendiri.           

“Iya  siiih”, katanya lagi.

Kali ini aku tertawa ringan, “hehehehehe. Aku asli sini kok, cuma namaku aja yang kurang familiar di sini,” timpalku lanjut.

Percakapan mulai tampak cair. Dia mulai bicara soal keluarga, dan kawan-kawannya. Pembicaraan yang wajar dalam sebuah pertemuan pertama.

***

Pembicaraan terus mengalir. Sesekali diselingi dengan canda dan tawa. Tidak menyangka hubungan ini begitu cepat mencair. Kekakuan pun seolah hilang tiada bekas. 

Jaim yang sebelumnya ada, tergantikan dengan kedekatan yang menyejukkan. Ternyata dia begitu visioner. Pandangannya ke depan soal produktifitas kerja kantor ini yang harus dibenahi.

“Ntar kita bikin flyer semua kegiatan kantor ini ya pak”, pintanya.

Ehmmm, dia sudah akrab saja bilang “kita” untuk pertemuan pertama. Aku orang yang baperan. Suka sensitif dengan kata-kata yang berbau romantis.

Sebelum ku tanya mengapa, dia udah bilang: “biar keren aja, ntar kita posting di medsos, biar semua orang tahu”.

Ehmmm, ternyata dia peduli terhadap kantor yang selama ini kayak mati suri.

“Bagus!” aku hanya bisa bilang begitu. Itu saja yang ku katakan. Aku terpana dan kagum. Awalnya aku menganggap dia sosok yang biasa aja, hanya rekomendasi orang lain. Dia kini terlihat indah dan mengangumkan. Indah dengan percara dirinya dan mengagumkan dengan visionernya

Aku sadar terlalu cepat aku mengubah rasa ini. Dari yang sebelumnya kosong hampa menjadi lautan keindahan di atas langit. Aku orang yang mudah tertarik dengan kenyamanan, mudah terlena dengan kepesonaan.

Waktu terasa cepat berlalu. Jam dinding kantor sudah menyentuh angka satu. Saat break untuk sholat dan makan siang telah tiba. Tak sadar, tiba-tiba saja mulut ini berkata:

“Kita makan di luar yuk”, senyumku berbalas manis dengan senyum manjanya. Berharap sangat dia bilang “ya pak”.

Tiba-tiba, suara salam terdengar dari luar pintu kantor.

“Assalamu’alaikum,” suara asing yang parau terdengar dari wajah yang asing pula. 

“Wa’alaikum salam,” jawabku dengan penuh tanya tentang sosok yang datang ini. Herannya, Sulis terlihat senyum ceria melihat sosok itu datang.

Langsung saja Sulis berdiri dan berkata:

“Dia Dito pak….., suami saya”.

Ooooh. Ternyata, Sulis yang sudah membuat aku terpesona, sudah bersuami. Awan yang terlihat indah di langit biru seketika berlalu cepat sirna dihembus angin. Sesaat hatiku tersadar awan terlalu mudah berubah. 

Keindahan yang ditampilkan hanya sesaat melepas rindu. Keindahan yang ditampilkan terlanjur hilang sebelum raga teraih.

Saat itu pula aku tersadar bahwa aku pun juga sudah…… beristeri. Saat itu pula, aku tersadar mengagumi tak harus mencintai. Mencintai tak harus memiliki.