Kala itu tiada yang menarik selain dirimu. Tak tau dari mana, tiba-tiba keberadaanmu membubuhkan makna berbeda. Dengan senyummu, kau terlihat berbeda, seperti insan yang merdeka.

Rambutmu yang tertiup angin, tetapi perasaanku yang terbang kacau kemana-mana. Kau yang menutup mata, tetapi aku yang bermimpi.

Meski terlihat eksklusif, tapi kau sangat terbuka pada pemulung sepertiku ini hingga membuatku tak bisa lagi mempertahankan logika.

Akan tetapi jika sastrawan Sapardi Djoko Damono bilang ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana’, maka aku ‘aku ingin mencintaimu dengan apa yang ada’ dan aku tidak ada apa-apa. Sementara itu, kamu apa-apa ada. Gila!

Memang diriku dinilai orang yang altruism, dan bukannya tidak ingin rekoso, cuman kalau masalah asmara, ngêrus, nelangsa, ngêlu. Mungkin yang hampir sama spectrumnya adalah sebagaimana yang dituturkan seorang kawan dengan istilah ‘menambak gunung, menggarami air laut’.

Ya, meski tidak meminta tapi kamu seolah menuntut suatu hal yang sebenarnya aku tidak bisa penuhin, tapi akan tetap ku usahakan. Bagaimana mungkin juga, aku tak mungkin bisa memenuhi semua kebutuhanmu selain melalui doa karena di tiap doaku tiada lain selain namamu.

Ini bukan memelas belas dengan tujuan meninabobokan diriku, kemudian seolah membawa obor api untuk (peduli) berusaha kembali berjuang memenuhi demand itu, bukan. Sekali lagi bukan, bukan memelas luka maupun kecewa hanya karena rasa derita. Tapi ini sekedar rasa yang tak bisa termanifestasikan, ditertawakan, karena mengada-ada.

Tidak tahu. Ya tidak tahu, karena ‘tahu’ umumnya merujuk pada sebuah insight pikiran. Memang ini bukan sebuah pikiran tapi sebuah rasa perasaan, yang secara tiba-tiba meng’ada’ dengan sendirinya kemudian juga masuk ke dalam pikiran dan membuat memikirkannya terus menerus. 

Maka dari itu ‘tau’ dan ‘ada’ tidak bisa dipaparkan, baik melalui kalimat maupun kata. Karena kalimat tidak bisa mewakili sebuah rasa dan kata tidak bisa merepresentasikan sebuah makna dari yang ‘ada’.

Tapi jujur sebenarnya aku sendiri tidak ingin berada dalam pergumulan asmara. Sangat jenuh untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. 

Namun mau gimana lagi, manusia, pikirannya selalu berubah dan itu merupakan sesuatu yang biasa. Toh, kamu begitu sulit untuk ditolak untuk aku putuskan bahwa (maaf) aku jatuh cinta.

Bagaimana mungkin, senyumanmu saja bisa menjadi elemen penting di universe ini hingga merebut semua hal secara paksa; baik pikiran, hati, dan harapan. Teringat betul, pas waktu sekolah aku tidak pernah semangat untuk belajar kimia dan pada akhirnya sampai saat ini aku tidak bisa menghitung kandungan gula di dalam senyummu.

Aku juga menyadari, bahwa orang-orang yang kalah sepertiku di dalam mekanisme kekejaman-nya persaingan di dunia ini, cuma bisa berharap bahwa keabadian hidup akan senantiasa bermakna apabila aku dan kamu berubah menjadi kita tanpa membentuk suatu alienasi kata pisah atau bahkan jarak yang tak jua mempertemukan untuk menyatu di labuhan cinta.

Ya, memang aku begitu tulusnya, maaf kejamnya, bahwa aku selalu bermuara pada keinginanku saja, tanpa pernah memikirkan kebutuhanmu. Bukan seenaknya, cuman tak bisa dipungkiri dengan begitu tidak ada lagi garis demarkasi yang membuat kedinginan lalu menjadikanku menderita di atas luka yang tak terbalaskan, melainkan melahirkan kesejukan dan kehangatan. 

Tapi bagaimana mungkin, hingga kini masih saja dingin dalam dirimu, sebab banyaknya konsepsi yang substansial pada proses penyatuan di balik perbedaan.

Mungkin ini yang dinamakan cinta. Indah tapi kacau. Merusak mental, psikis, mengundang kematian dalam berjuang. 

Bukan cinta yang seperti ini yang ku inginkan. Bukan pula hanya kecupan bibir manismu yang mendarat di bibirku, dan sekali lagi, bukan. 

Mungkin diriku ada tendensi karena sebagaimana kejamnya universe ini, yang membuat kita tak pernah menjadi kita, bahkan justru semakin menjauh. Sebab sudah ter-dikotomikan oleh kesenjangan yang mana kamu itu 3, aku itu 2, dan kita itu? Beda!

Artinya aku tak punya probabilitas untuk dapat dicintai dari orang yang kucintai lantaran alam semesta ini sudah kadung termaknai sebagai ekosistem yang self-interest dengan banyaknya persaingan demi keegoisan ingin memiliki bahkan menguasai.

Tragis, ironis, penuh na’as. Menimbun penderitaan, keluhan dan keresahan di kehidupan. Terima kasih sudah menjadi bagian dari dinamika peziarahan hidup luka-derita dan kecewa, sebagaimana dalam musik Ngatmombilung; Awan kudanan, Sore mbok Larani, Bengi tak Tangisi.

Sebab bukan hanya binar matamu ataupun senyumanmu yang menjadi duri yang kurawat dengan baik, melainkan rekam jejak semua tentang wujud zohirmu yang menancap dalam batin. Dan juga aku tak bisa bertarung tanpa mampu memilih menjadi pemenang atau pecundang.

Hingga akhirnya di tiap malam dengan pekikan desit tangis, senyap dan sunyi, ku hanya bisa berharap pada Tuhan, untuk menciptakan produk baru berwujud dirimu dan aku. Agar kita tidak perlu menjadi sepasang pasien dan dokter yang selalu membutuhkan opium bahkan memberikan doping untuk menjadi penenang di saat sakaunya jiwa.***